KOMPAS.TV – Limbah atau ampas kelapa yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa pengolahan ternyata masih memiliki potensi ekonomi. Di Desa Pering Sari, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, bahan tersebut diolah menjadi serundeng yang memiliki nilai jual sekaligus dekat dengan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Bali.
Potensi tersebut menjadi perhatian tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Bali (PNB) melalui program “Pemberdayaan Industri Rumah Tangga melalui Pengolahan Limbah Kelapa menjadi Serundeng Bernilai Ekonomis dengan Teknologi Tepat Guna dan Manajemen Pemasaran di Desa Pering Sari.”
Politeknik Negeri Bali (PNB) melalui tim dosen dan mahasiswa pada tahun 2026 melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat dengan Skema Pemberdayaan Masyarakat. Program ini merupakan kegiatan yang memperoleh hibah pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
Baca Juga: PNB Terapkan Teknologi Tepat Guna & Digitalisasi untuk UMKM Jajan Tradisional Bali
Program tersebut menyasar IRT Serundeng Selat yang berlokasi di Banjar Dinas Lusuh Kauh, Desa Pering Sari, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Usaha yang mulai berkembang sejak 2023 ini melibatkan lima orang pekerja dan menghasilkan serundeng yang dimanfaatkan masyarakat, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun sebagai bagian dari kebutuhan upakara dan kegiatan keagamaan.
Tim pelaksana kegiatan terdiri atas Ni Wayan Wahyu Astuti, SST.Par., M.Par. sebagai ketua, bersama I Made Anom Adiaksa, ST., MT. dan Ni Luh Ayu Kartika Yuniastari Sarja, ST., MT. sebagai anggota. Program juga melibatkan mahasiswa Politeknik Negeri Bali dari bidang teknik mesin dan bisnis digital.
Pelatihan K3 untuk proses produksi serundeng. (Sumber: Dok. Ni Luh Ayu)Perkuat K3 dan Keamanan Pangan
Peningkatan kapasitas produksi perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dan keamanan pangan. Karena itu, tim juga memberikan pendampingan K3 dengan fokus pada higiene dan sanitasi pangan serta pengenalan prinsip Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).
Mitra diberikan pemahaman mengenai potensi bahaya dalam proses produksi, kebersihan pekerja, sanitasi peralatan, serta risiko kontaminasi biologis, kimia, maupun fisik selama proses pengolahan.
Pendampingan ini diharapkan dapat membangun kebiasaan produksi yang lebih aman dan higienis. Bagi industri rumah tangga pangan, peningkatan kualitas tidak hanya ditentukan oleh jumlah produk yang dihasilkan, tetapi juga konsistensi proses dan keamanan produk bagi konsumen.
Kemasan dan Identitas Produk Diperkuat
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pengemasan. Sebelumnya, produk serundeng belum didukung label kemasan yang memadai sehingga identitas produk belum cukup kuat ketika dipasarkan ke konsumen yang lebih luas.
Tim kemudian melakukan pendampingan desain label, pengemasan, serta penggunaan alat press plastik. Kemasan yang lebih baik diharapkan mampu melindungi produk sekaligus meningkatkan daya tarik dan nilai jual.
Label tidak hanya berfungsi sebagai penanda produk, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas usaha. Dengan tampilan yang lebih profesional, produk lokal memiliki peluang lebih besar untuk dikenal konsumen dan dipasarkan ke wilayah yang lebih luas.
Produk Serundeng Selat dengan pengembangan label dan kemasan sebagai bagian dari penguatan identitas produk. (Sumber: Dok. Ni Luh Ayu)Masuk ke Pemasaran Digital
Transformasi juga dilakukan pada aspek pemasaran. Selama ini, pemasaran produk IRT Serundeng Selat masih terkonsentrasi pada wilayah sekitar mitra. Padahal, perkembangan teknologi digital memberikan peluang bagi industri rumah tangga untuk menjangkau konsumen tanpa dibatasi lokasi geografis.
Tim PNB mendampingi mitra dalam memanfaatkan media sosial, marketplace, dan Google My Business. Pendampingan mencakup penyiapan informasi usaha, foto produk, konten promosi, informasi kontak, hingga pengelolaan media digital.
Tujuannya bukan sekadar membuat akun pemasaran, tetapi meningkatkan kemampuan mitra dalam mengelolanya secara mandiri. Dengan demikian, pemasaran digital dapat terus dijalankan setelah program pengabdian selesai.
Keterlibatan mahasiswa turut menjadi bagian penting dalam program. Mahasiswa bisnis digital membantu dalam pengembangan media pemasaran daring, sedangkan mahasiswa teknik mesin terlibat dalam penerapan dan pendampingan penggunaan teknologi produksi.
Pemberdayaan agar Mitra Lebih Mandiri
Ketua tim pengabdian, Ni Wayan Wahyu Astuti, menjelaskan bahwa penerapan teknologi diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi mitra sekaligus meningkatkan kemandirian usaha.
Mitra juga dilibatkan sejak tahap sosialisasi, penerapan teknologi, pelatihan, hingga evaluasi.
Keterlibatan tersebut penting agar teknologi dan pendampingan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan usaha.
Melalui program ini, keberhasilan tidak hanya diukur dari keberadaan mesin atau media pemasaran digital, tetapi juga dari kemampuan mitra untuk memanfaatkan, merawat, dan mengembangkan inovasi tersebut secara mandiri. Ujarnya pada saat diwawancarai.
Tim dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Bali bersama mitra IRT Serundeng Selat dalam pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Pering Sari, Karangasem. (Sumber: Dok. Ni Luh Ayu)Dari Ampas Kelapa Menjadi Peluang Ekonomi
Program pemberdayaan IRT Serundeng Selat menunjukkan bahwa inovasi dapat berangkat dari persoalan sederhana di masyarakat. Ampas kelapa yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi rendah dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual ketika dipadukan dengan keterampilan masyarakat, teknologi tepat guna, pengemasan, dan pemasaran yang tepat.
Teknologi pengeringan membantu mengurangi ketergantungan terhadap cuaca, mesin pemasak dan pengaduk mendukung efisiensi kerja, sementara kemasan dan pemasaran digital memperbesar peluang produk menjangkau konsumen baru. Melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat, IRT Serundeng Selat diharapkan berkembang menjadi usaha yang semakin produktif, mandiri, dan berdaya saing.
Dari Desa Pering Sari, program ini membawa pesan bahwa pemberdayaan dapat dimulai dari potensi yang berada dekat dengan kehidupan masyarakat. Ketika potensi lokal dipertemukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kreativitas, sesuatu yang semula dianggap sebagai sisa dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang penguatan usaha masyarakat.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Hamzah-Abdullah
Sumber : Kompas TV
- Advertorial
- Politeknik Negeri Bali
- Teknologi Tepat Guna
- Serundeng Ampas Kelapa
- Pemberdayaan UMKM





