Gresik (beritajatim.com)- Jalan Raya Daendels Pantura Gresik, berubah menjadi panggung budaya. Ribuan warga memadati sepanjang jalur tersebut sejak siang hingga malam untuk menyaksikan kemeriahan Sembayat Bamboo Carnival.
Bukan sekadar parade perayaan kemerdekaan, karnaval yang digelar dua tahunan itu menjadi ajang warga menunjukkan kreativitas melalui karya seni berbahan bambu.
Puluhan arakan dengan karakter dan cerita berbeda bergerak menyusuri jalan, disaksikan masyarakat yang datang dari berbagai daerah.
Tahun ini, Sembayat Bamboo Carnival mengangkat tema keberagaman daerah di Indonesia. Nuansa budaya dari Papua, Kalimantan, Jawa hingga Sumatera ditampilkan dalam berbagai bentuk karya, kostum, serta pertunjukan peserta.
Kepala Desa Sembayat, M Amin, mengatakan terdapat 23 Rukun Tetangga (RT) yang ambil bagian dalam karnaval tersebut.
“Temanya kita ambil dari beberapa provinsi. Dari wilayah Barat, Timur, dan Tengah Republik Indonesia. Pesertanya ada sebanyak 23 RT,” katanya, Selasa (18/8/2026).
Setiap RT membawa konsep masing-masing. Ada peserta yang menampilkan burung Jalak Bali dalam bentuk ogoh-ogoh yang dipikul secara bersama-sama. Peserta lainnya tampil mengenakan pakaian adat lengkap dengan berbagai aksesori yang disesuaikan dengan tema arakannya.
Suasana semakin semarak ketika masing-masing kelompok membawa perangkat sound horeg untuk mengiringi perjalanan arakan. Dentuman suara berpadu dengan kostum dan karya bambu yang memenuhi jalur karnaval.
Menurut Amin, kemeriahan tersebut sekaligus menunjukkan besarnya antusiasme warga mempertahankan tradisi Sembayat Bamboo Carnival.
“Harapan saya, semoga masyarakat bisa memberikan pelajaran. Karena event ini merupakan tradisi karnaval bambu. Untuk tahun ini, peserta menonjolkan sound-nya,” ujarnya.
Dibalik kemeriahan yang berlangsung sepanjang hari, terdapat biaya besar yang dikeluarkan masing-masing kelompok. Amin menyebut setiap RT menghabiskan anggaran sekitar Rp35 juta untuk mengikuti karnaval.
Jika dikalikan 23 RT, total biaya yang dikeluarkan peserta diperkirakan mencapai sekitar Rp805 juta, termasuk kebutuhan penyewaan sound system.
“Kalau ditotal Rp35 juta dikalikan 23 RT mencapai Rp800 juta. Itu dengan penyewaan sound-nya,” ungkapnya.
Besarnya biaya tersebut memperlihatkan bahwa karnaval bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang bagi warga untuk berkreasi dan menghidupkan kembali tradisi yang telah berlangsung secara berkala.
Keunikan Sembayat Bamboo Carnival terlihat dari beragam tema yang dibawa masing-masing RT. Tidak hanya menonjolkan bentuk visual, sejumlah arakan juga mengangkat legenda, sejarah, budaya hingga isu lingkungan dari berbagai wilayah Indonesia.
Ragam tema itu membuat Sembayat Bamboo Carnival bukan sekadar parade kemerdekaan. Jalan Raya Daendels Pantura Gresik menjadi ruang pertemuan berbagai cerita Nusantara, dikemas melalui kreativitas warga dengan bambu sebagai salah satu unsur utama.
Rifqi (35) salah satu warga Desa Sembayat menuturkan, kemeriahan ini bukan hanya tentang siapa yang tampil paling megah. Lebih dari itu, setiap arakan membawa cerita tentang keberagaman Indonesia yang mereka hadirkan di tengah kampung sendiri.
“Saya berharap kemeriahan ini terus berlanjut dan menjadi tradisi setiap tahun,” pungkasnya. [dny/ian]




