REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV-Di tengah kebanggaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengklaim telah mencapai berbagai keberhasilan dan mengubah wajah Timur Tengah, data mengenai warga Israel yang meninggalkan wilayah Palestina yang diduduki menunjukkan kenyataan berbeda.
Data tersebut mencerminkan besarnya krisis internal Israel seiring dengan meningkatnya perang yang dilancarkan Tel Aviv di berbagai front.
Baca Juga
8 Pesan Berharga di Zaman Merebaknya Fitnah Kekacauan Akhir Zaman
Kisah Anak Kecil, Penyihir, dan Rahib Sekaligus 30 Hikmah Penting yang Patut Direnungkan
Lebanon Berbeda, Pelajaran yang Selalu Gagal Dipahami Israel Selama 100 Tahun
Menurut surat kabar Israel Maariv, dikutip Aljazeera, Selasa (18/8/2026), laporan yang diterbitkan Pusat Penelitian dan Informasi Knesset menunjukkan bahwa jumlah warga Israel yang kembali ke negaranya mengalami penurunan sebesar 53 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan tersebut mengungkap bahwa ratusan ribu warga Israel telah meninggalkan negara itu dan tidak kembali. Penurunan jumlah warga yang kembali mulai terlihat pada 2023, dengan tren penurunan yang terus berlanjut sepanjang periode 2021–2024.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Maariv, jumlah warga yang kembali turun dari sekitar 8.000 orang pada 2020 menjadi hanya sekitar 3.800 orang pada 2024, atau anjlok 53 persen.
Angka tersebut merupakan jumlah terendah dalam beberapa tahun terakhir, dengan tren penurunan semakin tajam sejak 2023.
Menurut laporan tersebut, sejak 2022 Israel mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah warga yang meninggalkan negara itu secara permanen.
Akibatnya, neraca migrasi Israel menjadi negatif sepanjang 2022–2024, dengan pengurangan bersih sekitar 140 ribu orang.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa lebih dari separuh warga yang kembali ke Israel pada 2024–2025 berada dalam kelompok usia produktif, yakni 28–60 tahun.
Proporsi ini cukup tinggi dibandingkan dengan persentase kelompok usia tersebut dalam keseluruhan populasi Israel.