25 Tahun Berlalu, Alumni SMANSA 2001 Kembali ke Sekolah, Kali Ini Memeriksa Gurunya Sendiri

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR-Sekitar 50 guru dan purnabakti guru menjalani pemeriksaan kesehatan dan USG gratis di SMA Negeri 1 Makassar. Yang memeriksa adalah murid mereka 25 tahun yang lalu. Di balik acara reuni ini, ada persoalan yang jarang dibicarakan. Setelah pensiun, guru justru kehilangan akses periksa kesehatan.

Ruang kelas SMA Negeri 1 Makassar pada Selasa (18/8) pagi tidak seperti biasanya. Alih-alih deretan kursi siswa, yang berjajar adalah meja periksa, tensimeter, dan beberapa unit alat ultrasonografi. Yang duduk menunggu giliran pun bukan pelajar, melainkan guru-guru sepuh yang sebagian sudah belasan bahkan puluhan tahun pensiun.

Sekitar 50 purnabakti guru sekolah itu memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan dan ultrasonografi (USG) gratis mulai pukul 9 pagi. Penyelenggaranya adalah alumni Angkatan 2001, yang tahun ini merayakan reuni perak, bertepatan dengan peringatan 76 tahun berdirinya SMANSA, sebutan populer sekolah tersebut.

Layanan USG digelar atas kerja sama dengan Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Sembilan alumni Angkatan 2001 turun langsung sebagai tenaga kesehatan dan dibantu oleh puluhan alumni lain yang bertugas sebagai relawan di bagian registrasi, pendampingan peserta, dan logistik.

“Dua puluh lima tahun lalu kami duduk di kelas-kelas ini sebagai murid. Hari ini kami kembali dengan alat periksa di tangan,” kata Ketua Panitia Reuni Perak Angkatan 2001, Dr.dr. Erwin Syarifuddin, Sp.B., SubSp.BD. “Bagi kami ini bukan acara amal, melainkan cara kami paling tulus untuk berterima kasih.”

Kelompok yang luput dari program pemeriksaan massal

Pilihan sasaran kegiatan ini bukan kebetulan. Ada satu kelompok yang hampir selalu terlewat dari program pemeriksaan kesehatan massal, guru-guru yang sudah pensiun.

Selama mengajar, mereka relatif terlindungi. Ada pemeriksaan berkala dari sekolah atau dinas, ada senam bersama, ada posbindu, ada rekan sejawat yang mengingatkan kalau seseorang terlihat pucat atau sering mengeluh pusing. Begitu pensiun, semua itu hilang sekaligus, justru pada usia ketika kebutuhan akan akses kesehatan paling besar.

Guru-guru yang dulu mengajar Angkatan 2001 kini berusia sekitar 55 hingga 80 tahun. Itu kelompok usia dengan risiko tertinggi untuk hipertensi, diabetes, gangguan fungsi ginjal, dan kolesterol tinggi, kondisi yang jarang menimbulkan keluhan pada tahap awal, dan justru karena itu berbahaya. Banyak yang baru diketahui setelah menimbulkan komplikasi.

Yang memperburuk keadaan bukan hanya soal biaya. Sejumlah alasan yang sering terdengar dari pensiunan justru bersifat sangat manusiawi. Mereka merasa tidak ada keluhan sehingga merasa tidak perlu, tidak ingin merepotkan anak yang harus mengantar, atau enggan menghadapi antrean panjang dan urusan administrasi yang melelahkan.

Alih-alih mengimbau guru-guru mereka rajin memeriksakan diri, alumni SMANSA 2001 memilih membawa layanannya masuk ke sekolah. Lokasi ini bukan sekadar soal kemudahan. Sekolah adalah tempat yang mereka kenal betul, dan yang memeriksa adalah orang yang mereka percaya. Dua hal itu saja menghapus sebagian besar hambatan yang selama ini membuat mereka menunda.

“Pemeriksaan USG memungkinkan kami mengenali sejumlah kelainan pada tahap yang masih jauh lebih mudah ditangani. Menghadirkan layanan ini di lingkungan sekolah membuka akses bagi kelompok yang selama ini paling sering menundanya,” ujar dr. Rafikah Rauf, M.Kes., Sp.Rad., Subsp.RA(K), dari Departemen Radiologi FK Unhas, yang juga alumnus 2001.

Tidak berhenti pada hari pelaksanaan
Banyak kegiatan serupa berhenti begitu acaranya usai. Peserta diperiksa, difoto, lalu pulang tanpa tahu harus berbuat apa dengan hasilnya. Skrining semacam itu justru bisa menimbulkan kecemasan tanpa menyelesaikan apa pun. Panitia menyatakan kegiatan ini dirancang berbeda. Peserta dengan temuan yang memerlukan penanganan lanjutan memperoleh penjelasan serta alur rujukan ke fasilitas kesehatan mitra. Seluruh hasil pemeriksaan bersifat rahasia dan hanya disampaikan di ruang tertutup. Ini penting khususnya bagi guru, yang selama hidupnya berada dalam posisi dihormati di depan murid-muridnya, dan bisa merasa sangat rentan bila kondisi kesehatannya diketahui orang lain.

Yang tidak terhitung dalam rekapitulasi
Ada dimensi lain yang jarang masuk laporan kegiatan, tetapi mungkin justru paling terasa bagi para guru.

Seorang pendidik jarang mengetahui hasil akhir pekerjaannya. Ia mengajar ratusan anak, lalu anak-anak itu pergi. Dari puluhan angkatan, hanya sebagian kecil yang kembali memberi kabar. Menyaksikan muridnya 25 tahun yang lalu sekarang duduk di hadapannya sebagai dokter adalah bentuk pembuktian paling langsung atas pekerjaan yang selama ini hasilnya hanya bisa ia duga.

Masa pensiun juga kerap membawa penyusutan lingkaran sosial yang tiba-tiba, terutama bagi mereka yang selama puluhan tahun hidupnya berdenyut mengikuti jam sekolah. Diundang kembali, disambut sebagai tamu terhormat, dan bertemu rekan-rekan lama punya nilai tersendiri bagi kesehatan mental, meski tak pernah muncul dalam rekapitulasi jumlah peserta.

“Sekolah ini bangga melihat lulusannya kembali bukan untuk dikenang, tetapi untuk bekerja,” kata Kepala SMA Negeri 1 Makassar, Drs. H. Sulihin Mustafa, M.Pd.

“Bagi guru-guru kami, terutama yang telah purnabakti, kehadiran mereka adalah penghargaan yang tidak dapat dinilai dengan apa pun.”

Model yang bisa ditiru angkatan mana pun
Yang menarik dari pendekatan ini adalah kesederhanaannya. Hampir setiap angkatan alumni SMA punya lulusan yang berprofesi di bidang kesehatan. Sekolah menyediakan ruang, listrik, air, dan tenaga pendukung tanpa biaya sewa. Yang dibutuhkan tinggal tiga hal; kesediaan alumni tenaga kesehatan, mitra untuk peralatan, dan panitia yang mau mengurus hal-hal kecil dari jauh hari.

Bagi SMANSA 2001 sendiri, kerja bersama semacam ini membangun soliditas jauh lebih kuat daripada pertemuan sosial belaka, karena melibatkan kerja nyata, pembagian peran, dan urun daya lintas profesi.

Rangkaian bakti sosial ini berlanjut pada Sabtu, 22 Agustus 2026, dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan pemeriksaan darah gratis di lokasi yang sama, masih sebagai bagian dari peringatan Reuni Perak SMANSA 2001 dan 76 tahun SMANSA.
Reuni umumnya berakhir begitu acaranya selesai. Namun, yang seperti ini meninggalkan sesuatu, setidaknya bagi mereka yang dulu mengajar kita, tanpa berharap balasan. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
HUT ke-81 RI, Wali Kota Makassar Resmikan Lontara Super Apps dan Makassar Move
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Dibintangi Ryan Gosling, Film Ghost Rider Tayang 28 Juli 2028
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Buttonscarves x Sarinah Rilis Songket Collection, Olah Wastra dalam Gaya Modest
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Soal Rencana Prabowo Berangkat ke NTT, Istana: Kita Lihat Kondisi di Lapangan
• 10 jam laludisway.id
thumb
BNPB: Pariwisata NTT Mulai Pulih Pascagempa 7,7 M, 10 Hotel Rusak Ringan
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.