Liputan6.com, Jakarta - Selasa malam, pukul 21.13 WITA. Fitri Tuti Darwanti (36) berada di dalam tenda pengungsian bersama suami dan kedua anaknya. Mereka tidak sendiri. Sejumlah warga lainnya juga menempati tenda darurat yang sama.
Tenda itu beratapkan terpal hijau. Penyangganya kayu seadanya. Di dalam, warga tidur beralaskan tikar dan kasur tipis. Mereka berhimpitan di ruang yang terbatas.
Advertisement
Sudah empat malam Fitri, suami, dan kedua anaknya tidur di tenda darurat. Sejak gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu lalu. Namun, Fitri tak bisa tidur nyenyak.
Matanya lebih sering terjaga. Gempa susulan yang masih terjadi membuatnya terus waspada. Setiap kali bumi berguncang, rasa takut kembali muncul.
"Kami sedih, takut, trauma, campur aduk. Mau masuk ke dalam rumah sendiri yang kami tinggali sehari-hari saja takut, takut tiba-tiba runtuh karena gempa selalu kunjungi kami setiap saat," cerita Fitri kepada Liputan6.com.
Aktivitas sehari-hari pun tak lagi tenang. Makan dan minum dilakukan dengan rasa khawatir. Bahkan untuk pergi ke toilet pun mereka masih waspada.
"Makan minum tidak tenang, pergi buang air saja tidak tenang, hanya kadang sedikit bercanda untuk mengisi waktu duka lara kami. Dan pastinya masih tetap bersyukur masih selamat," ujarnya.
Fitri tak bisa menghitung berapa kali gempa susulan terjadi. Namun, yang paling membuatnya khawatir adalah ketika gempa terjadi pada malam hari.
"Kami sangat takut kalau gempa malam hari, karena sangat berisiko. Dan kami tidak bisa tidur tenang istirahat malam," tuturnya.




