Teguh dan Yul, pensiunan pegawai, bercengkerama di bawah pohon sembari beristirahat setelah menggowes di pelataran Gedung Juang Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (18/8/2026). Bersama empat warga lansia lainnya mereka menggowes sepeda dari Teluk Pucung menuju Tambun, Gabus, dan kembali lagi dengan jarak sekitar 30 kilometer. Setiap hari mereka menggowes dengan jarak yang rata-rata sama. Pohon rindang dan pemandangan lanskap Gedung Juang memberi mereka semangat kembali untuk melanjutkan perjalanan.
”Kita sudah bebas ini, sudah merdeka banget, tiap hari bebas nggowes ke mana-mana, maklum sudah pensiunan. Satu aliran semua ini. Latihan ini untuk persiapan nanti acara sepeda tahunan di Banyumas,” kata Teguh.
Tak jauh di depan pintu masuk, puluhan anak TK/RA Nurul Huda yang mengenakan kaus lengan panjang krem dan topi merah antre masuk. Pintu baru akan dibuka pada pukul 09.00 WIB. Mereka mengikuti kunjungan edukasi bersama guru dan beberapa wali murid di Gedung Tinggi Tambun atau lebih dikenal sebagai Gedung Juang. Arumi dan Hanindya bersemangat mengikuti kunjungan bersama 48 anak lainnya.
Lantai dua Gedung Juang Tambun (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Pemandu menjelaskan sejarah (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Bersiap menonton film dokumentasi (KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Bangunan cagar budaya yang didirikan pada 1906 hingga 1925 tersebut sejak 2021 difungsikan sebagai Museum Bekasi. Gedung ini pernah dijadikan pusat komando perjuangan RI untuk mempertahankan kemerdekaan dalam menghadapi tentara Sekutu seusai Perang Dunia II. Tahun 1946, Jenderal Sudirman beserta pasukannya pernah singgah di gedung ini.
Petugas museum menjelaskan satu per satu benda-benda replika, foto-foto, lukisan, dan diorama di setiap ruangan. Museum menampilkan sejarah Bekasi yang meliputi alur waktu sejarah dari masa prasejarah, Kerajaan Sunda, kedatangan Portugis, masa VOC dan Mataram, hingga perjuangan kemerdekaan.
Tak hanya menampilkan sejarah, di museum ini juga terdapat layar sentuh yang berisi bermacam informasi. Perjalanan mengelilingi ruangan dan menonton film dokumentasi pendek total menghabiskan waktu 45 menit.
Muniroh, Kepala TK/RA Nurul Huda yang ikut mengantarkan 50 anak didiknya, berharap kunjungan edukasi ini membuat anak-anak lebih mengenal lagi tentang sejarah Bekasi dan keberadaan Gedung Juang yang jaraknya hanya 4 kilometer dari sekolahnya.
Menurut Ali Anwar, salah satu penulis buku sejarah Bekasi, keberadaan Gedung Juang ’45 bisa mengingatkan generasi sekarang dan masa mendatang akan perjuangan warga Bekasi untuk mempertahankan wilayahnya.
Ali mengatakan, hingga 1942, gedung ini masih dikuasai pemiliknya, seorang tuan tanah. Lalu, beralih ke tangan penjajahan Jepang. Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu, gedung ini diambil alih Pemerintah Indonesia dan pernah dijadikan Kantor Kabupaten Jatinegara (Kompas, Juli 2015).





