Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pamerkan peta di media sosial Truth Social pada Selasa, 18 Agustus, yang menunjukkan Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS.
Unggahan tersebut mempertegas ancaman Trump untuk mengklaim kedaulatan atas jalur perairan strategis tersebut.
Jalur pelayaran Selat Hormuz yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia tersebut sebelumnya ditutup oleh Iran. Langkah ini diambil sebagai aksi balasan atas perang yang dimulai oleh AS di bawah kepemimpinan Donald Trump dan Israel sejak akhir Februari.
Mengutip Channel News Asia, Rabu 19 Agustus 2026 Iran menolak keras gertakan Donald Trump yang ingin menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah kekuasaan Amerika Serikat.
Wacana yang pertama kali dilempar Trump pada Jumat lalu itu sempat dinilai sekadar lelucon sebelum ditanggapi serius oleh Tehran.
Namun, Trump kembali mempertegas niatnya saat berbicara di Gedung Putih pada Senin 17 Agustus, mengindikasikan bahwa penguasaan selat strategis tersebut adalah ide yang patut direalisasikan.
Sebelumnya, mengancam kedaulatan negara lain bukan kali pertama dilakukan Presiden AS tersebut ketika menghadapi hambatan terhadap kebijakan luar negerinya.
Sejak menduduki kursi kepemimpinan kembali pada 2025, ia berulang kali melontarkan ancaman kontroversial, mulai dari mencaplok Kanada sebagai negara bagian ke-51, menguasai Greenland, hingga mengisyaratkan pengambilalihan Jalur Gaza.
Namun, tidak ada satu pun dari gertakan tersebut yang terbukti dilakukan oleh Trump.
Sementara itu, Selat Hormuz yang sebelumnya merupakan jalur laut internasional bebas kini resmi ditutup pascameletusnya perang Iran pada 28 Februari lalu.
Iran menegaskan hanya akan membuka kembali akses selat strategis tersebut jika AS menyetujui deretan syarat berat: mencabut sanksi minyak dan blokade pelabuhan, membebaskan aset Tehran yang dibekukan, serta membayar kompensasi atas kerusakan perang.
(Razaqa Hariz)




