Sebanyak 55,39 persen atau 149 pembaca kumparan pernah membayar subscription atau langganan yang sudah tak terpakai pada aplikasi. Angka ini diperoleh dari polling kumparan pada 10 hingga 17 Agustus 2026.
Total ada 269 pembaca yang menjawab polling ini. Sebanyak 44,61 persen atau 120 pembaca mengaku tidak pernah mengalami hal tersebut.
Pemerintah Kota New York akan menerapkan aturan baru yang melarang praktik subscription trap atau jebakan berlangganan. Melalui kebijakan bertajuk "Click to Cancel", perusahaan diwajibkan menyediakan cara yang mudah dan transparan bagi konsumen untuk membatalkan layanan berlangganan.
Kebijakan tersebut diumumkan pada 10 Juli 2026 oleh Wali Kota New York, Zohran Mamdani, bersama Department of Consumer and Worker Protection (DCWP).
Pemerintah Kota New York menyebut aturan ini sebagai kebijakan pertama di tingkat pemerintah kota di Amerika Serikat yang secara khusus mengatur praktik jebakan berlangganan, sekaligus membatasi biaya tersembunyi (junk fees). Adapun aturan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Oktober 2026 mendatang.
Zohran mengatakan aturan ini muncul di tengah ekonomi sulit yang membebani warga New York. Biaya tersembunyi, junk fees, dan subscription trap menambah beban tersebut. Ironisnya, banyak orang kesulitan membatalkan langganan sebuah platform atau aplikasi karena prosedur atau administrasi yang berbelit.
“Warga New York yang sudah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sama sekali tidak memiliki uang sebanyak itu untuk hilang begitu saja. Dan bukan hanya para pekerja yang menderita akibat biaya-biaya ini,” ujar Zohran, Jumat (10/10).
Kini hampir setiap aplikasi memang memiliki fitur-fitur tertentu yang bisa dinikmati secara berbayar. Mulai dari YouTube yang menawarkan tayangan tanpa iklan, X yang memiliki fitur berbayar untuk mendapatkan akun centang biru (verified), hingga LinkedIn berbayar yang menawarkan visit profil seseorang secara anonim.





