Seorang ibu di Nusa Tenggara Timur (NTT) harus menjalani persalinan darurat saat gempa 7,7 M melanda wilayah tersebut pada Sabtu (15/8). Maria Florida Nogo Kelen (39) melahirkan anak keempatnya di tengah kondisi rumah sakit yang terdampak gempa.
Maria harus menjalani operasi dua bulan lebih awal dari perkiraan untuk mencegah risiko serius yang dapat mengancam keselamatan ibu, seperti kejang. Operasi caesar pun dilakukan karena posisi bayinya sungsang.
Kondisi Mencekam saat Gempita LahirSituasi rumah sakit saat Maria menjalani operasi tidak mudah. Gempa susulan masih mengguncang bangunan dan listrik sempat padam. Tim medis bahkan harus menggunakan senter sebagai penerangan selama proses operasi.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Yona Sarah Pardede, SpOG, yang menangani Maria, mengaku sempat merasa takut ketika harus melakukan operasi dalam kondisi darurat tersebut.
“Saya sudah tidak punya banyak pilihan, jujur saja saya agak takut karena itu gempa. Jadi pada saat saya lakukan operasi itu gempa kita tidak punya lampu, lampunya tidak bisa, lampu rusak,” jelasnya sambil menahan tangis, dikutip dari reuters, Senin (17/8).
Meski berada dalam kondisi penuh keterbatasan, tim medis tetap melanjutkan proses persalinan untuk menyelamatkan Maria dan bayinya.
“Ini operasi yang cukup sulit, pikiran saya itu sudah pasrah, Tuhan tolonglah, kita tidak punya ventilator. Bayinya kecil dan sungsang jadi harus ekstra hati-hati, jangan sampai patah tangannya, jangan sampai patah kakinya, sebisa mungkin jangan sampai cedera. Akhirnya terlahir bayi, pada saat aku serahkan pada pediatri, tidak berapa lama bayi menangis,” jelasnya.
Rasa haru dan lega menyertai para dokter, bidan dan perawat yang turut membantu Maria.
Bayi Lahir dengan Berat 1,3 KilogramBayi Maria akhirnya lahir dengan berat badan 1,3 kilogram. Bayi tersebut kemudian diberi nama Gempita, yang terinspirasi dari kata “gempa” yang menjadi bagian dari kisah kelahirannya.
Karena memiliki berat badan rendah dan lahir lebih awal, Gempita membutuhkan perawatan khusus. Ia dirawat menggunakan inkubator yang ditempatkan di atas sepetak rumput di dalam tenda.
Saat matahari terik, Gempita juga dikeluarkan bersama inkubator untuk membantu menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.
Sementara itu, Maria sempat mengalami perdarahan setelah melahirkan. Namun, ia tetap mendapatkan pendampingan dari tenaga kesehatan di tengah kondisi rumah sakit yang terdampak gempa.
Maria menyampaikan rasa terima kasih kepada dokter, bidan, dan perawat yang tetap memberikan pertolongan meski kondisi rumah sakit dalam keadaan genting.
“Saya sangat berterima kasih dengan dokter, bidan, perawat semua (tenaga medis) yang walaupun dalam keadaan genting, sudah ruangan ambruk, tapi tidak meninggalkan kami, pasien,” ucapnya.





