CEO Meta Mark Zuckerberg menerbitkan manifesto sebanyak 6.500 kata tentang teknologi akal imitasi (AI) dan intelijen super. Manifesto yang terbit pada Senin (10/8/2026) ini diberi judul Masa Depan untuk Semua Orang (The Future is for Everyone).
Berbeda dengan narasi bahwa AI akan mengotomatisasi pekerjaan manusia, Zuckerberg berpendapat kontribusi terbesar intelijen super justru akan datang dari penciptaan hal-hal baru. AI diproyeksikan membantu manusia menemukan obat, menciptakan produk dan bisnis, belajar keterampilan baru, melakukan penelitian, serta mengekspresikan gagasan yang sebelumnya terlalu mahal atau sulit diwujudkan.
Menurut dia, setiap orang nantinya dapat memiliki personal agen intelijen super yang memahami tujuan, kebutuhan, dan preferensinya. Agen tersebut dapat bekerja sepanjang waktu membantu urusan karier, kesehatan, keuangan, hubungan sosial, rumah tangga, hingga hobi.
Zuckerberg juga membayangkan AI sebagai tutor personal, alat penciptaan konten dan produk, serta sarana bagi seseorang untuk membangun bisnis tanpa membutuhkan modal atau tim sebesar sekarang.
Dalam manifesto yang sama, Zuckerberg pun mengakui beberapa risiko besar dari AI. Misalnya, dampak pembangunan pusat data terhadap masyarakat dan lingkungan, penyalahgunaan AI untuk serangan siber atau biologis, pengawasan pemerintah, konsentrasi kekuasaan, hingga hilangnya kendali manusia atas intelijen super.
Namun, solusi yang ditawarkan atas masalah tersebut bukan membatasi akses AI secara ketat, melainkan mendistribusikan kemampuan AI seluas mungkin agar kekuasaan tidak terkonsentrasi. Zuckerberg bahkan menawarkan Future is for Everyone Fund untuk mendukung komunitas tempat perusahaan membangun infrastruktur pusat data.
Manifesto Zuckerberg tersebut mengundang berbagai macam kritik. BBC dalam sebuah artikel Sabtu (15/8/2026) menilai bahwa bagi sebagian orang mungkin manifesto Zuckerberg merupakan ungkapan harapan terhadap potensi besar AI. Namun, bagi sebagian orang lainnya, manifesto itu tidak lebih dari sekadar pesan kehumasan yang bertele-tele.
Manifesto Zuckerberg, menurut koresponden teknologi Amerika Utara untuk BBC, Lily Jamali, adalah contoh terbaru dari seorang pemimpin perusahaan teknologi yang mengemukakan pandangannya mengenai mengapa AI merupakan salah satu teknologi paling penting dalam sejarah.
Marc Andreessen, salah satu pendiri Netscape (perusahaan raksasa awal yang bergerak di bidang jasa laman), telah memulai tren ini pada 2023 melalui esai sepanjang 5.000 kata berjudul The Techno-Optimist Manifesto yang berargumen bahwa inovasi adalah jalan untuk memecahkan berbagai persoalan hidup.
Pada 2024, Sam Altman, pimpinan OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT , juga merilis manifesto bertajuk The Intelligence Age yang isinya memuat pernyataan optimisme yang luas mengenai potensi teknologi tersebut.
Zuckerberg bicara tentang AI yang bertanggung jawab, tetapi justru memangkas tim pekerja yang menjaga aspek tersebut.
Pada tahun yang sama, melalui manifesto berjudul Machines of Loving Grace, CEO Anthropic, Dario Amodei, menyoroti potensi AI untuk mengubah berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan hingga politik. Ia mengemas gagasannya sebagai upaya untuk membagikan potensi manfaat AI, sekaligus menegaskan bahwa ia tidak ingin dipandang sebagai sosok yang pesimistis terhadap masa depan.
Namun, maraknya manifesto korporat semacam ini juga menjadi sarana bagi para eksekutif untuk memosisikan diri mereka serta perusahaan mereka dalam kancah pertukaran gagasan. Profesor bisnis di Universitas Tulane, Amerika Serikat, Rob Lalka, mengatakan kepada BBC bahwa manifesto yang dibuat bos perusahaan teknologi tersebut adalah cara untuk menunjukkan betapa cerdasnya mereka.
Lalka menyebutkan, waktu peluncuran manifesto Zuckerberg bertepatan dengan meningkatnya kemarahan publik terkait dampak AI terhadap berbagai hal, mulai dari lapangan pekerjaan hingga lingkungan hidup. Belum lagi fakta bahwa Meta telah memangkas 10 persen tenaga kerjanya secara global (sekitar 8.000 pekerjaan) seiring dengan langkah reorganisasi perusahaan itu demi berfokus pada AI.
Mantan Vice President of Civil Rights di Meta, Roy L. Austin Jr., ikut memberikan beberapa kritik terhadap manifesto Zuckerberg. Pertama, Zuckerberg bicara tentang AI yang bertanggung jawab, tetapi justru memangkas tim pekerja yang menjaga aspek tersebut.
Ia mengingatkan bahwa Meta sebelumnya memiliki tim yang secara khusus mengidentifikasi dampak teknologi terhadap hak sipil dan kelompok masyarakat. Namun, restrukturisasi dan dorongan efisiensi perusahaan membuat banyak fungsi non-engineering itu menyusut.
Kedua, ada kontradiksi antara gagasan keseimbangan kekuasaan dan sikap Meta terhadap regulasi. Zuckerberg dalam manifestonya berpendapat, kekuasaan atas intelijen super AI jangan terkonsentrasi pada segelintir pihak.
Austin setuju dengan prinsip tersebut, tetapi mempertanyakan konsistensi Zuckerberg ketika Meta pada saat yang bersamaan justru mengeluarkan dana besar untuk melawan kandidat politik yang mendukung regulasi AI.
“Kemakmuran ekonomi dan finansial yang didorong oleh AI, sebagaimana dibayangkan oleh Zuckerberg, saat ini terkonsentrasi di tangan segelintir pemimpin industri serta kelompok yang termasuk dalam 1 persen rumah tangga teratas, yang memiliki kekayaan setara dengan gabungan kekayaan 90 persen rumah tangga terbawah. Ini kesenjangan kekayaan terbesar sejak pencatatan data dimulai,” kata Austin dalam opininya yang dimuat di Tech Policy Press, Kamis (13/8/2026).
Petter Bae Brandtzaeg, profesor inovasi media Universitas Oslo, juga ikut bersuara. Menurut Brandtzaeg, persoalan manifesto Zuckerberg bukan pada gagasan bahwa semua orang harus menikmati manfaat AI, melainkan pada cara Zuckerberg mendefinisikan “semua orang” seolah-olah solusi terhadap tantangan saat ini sifatnya sangat individualistis.
“Persoalan besar seperti perubahan iklim, ketimpangan, pandemi, perang, dan instabilitas demokrasi juga tidak bisa diselesaikan dengan sekadar memberikan asisten AI yang semakin canggih kepada setiap individu. Persoalan tersebut membutuhkan aksi kolektif,” tulis Brandtzaeg dalam Tech Policy Press, Rabu (12/8/2026).
Pemerhati budaya dan komunikasi digital, Firman Kurniawan, Rabu (19/8/2026), di Jakarta, menilai manifesto Zuckerberg terlalu panjang sehingga inti pesan yang disampaikan kabur. Menurut dia, pengembangan inovasi AI seharusnya mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan budaya. Hanya saja, masih banyak pengembang platform AI yang tidak dapat menjawab dengan pasti dampak dan risiko yang bakal muncul.
“Apa artinya ketika pengembangan AI menimbulkan perasaan waswas kehilangan pekerjaan dan munculnya konten deepfake? Berbagai manifesto yang dibuat oleh pimpinan perusahaan raksasa teknologi ini perlu melihat lagi realitas yang terjadi di masyarakat,” ucap Firman.





