Inflasi RI Turun ke 2,88%, Tapi Harga Pertamax Jadi Sorotan BI di Tengah Perang Timur Tengah

tvonenews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Inflasi Indonesia melandai pada Juli 2026, tetapi tekanan harga energi masih menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) di tengah gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 2,88 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,34 persen.

Meski secara umum inflasi masih berada dalam sasaran BI, penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices (AP).

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena perang di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas dunia. BI pun mewaspadai risiko imported inflation atau inflasi yang berasal dari tekanan harga global dan kemudian merambat ke dalam negeri.

Inflasi Turun, Pertamax Masih Jadi Perhatian

BI mencatat inflasi IHK pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen yoy. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi Juni 2026 yang berada di level 3,34 persen yoy.

Penurunan inflasi juga didukung oleh kondisi inflasi inti yang tetap terjaga. Pada Juli 2026, inflasi inti tercatat 2,76 persen yoy.

Namun, tekanan masih terlihat pada kelompok administered prices. Inflasi kelompok tersebut tercatat 3,58 persen yoy, salah satunya seiring dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax.

Di sisi lain, inflasi volatile food atau komponen harga pangan bergejolak melambat menjadi 2,52 persen yoy. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh masa panen sejumlah komoditas hortikultura, terutama aneka cabai dan bawang merah.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi nasional masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen untuk 2026 dan 2027.

Perang Timur Tengah Bisa Picu Inflasi dari Luar Negeri

Meski inflasi domestik masih terkendali, BI melihat risiko dari kondisi perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian.

Berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan masih lemah, yakni sekitar 3 persen.

Tekanan inflasi global juga diperkirakan tetap tinggi di sekitar 4,5 persen pada 2026. Kondisi ini berpotensi membuat kebijakan moneter global lebih ketat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ESDM Kejar Pemodal Penyelundupan Emas 22 Kg, Telusuri hingga Tambang Ilegal
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Tegang, Iran Tetap Tutup Selat Hormuz
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Tragis, Bocah Pesepeda BMX di Bantargebang Tewas Tertabrak Truk Boks
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Polsek Asologaima Diteror Tembakan, 10 Selongsong Peluru Ditemukan
• 9 jam lalueranasional.com
thumb
Garuda Pertiwi Tekuk Hong Kong, Puncaki Grup A di Srikandi Merdeka Cup 2026
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.