Dua pekan terakhir menjadi masa yang berbeda bagi Sadam Husen (36). Biasanya, ia menghabiskan waktu mengemudikan kapal penumpang dari Samarinda menuju Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Namun, surutnya Sungai Mahakam akibat musim kemarau membuat aktivitasnya sebagai nahkoda terhenti.
Kapal yang biasa menjadi sumber penghasilannya kini hanya bisa ditambatkan. Sadam memilih tidak memaksakan pelayaran karena kondisi alur sungai yang semakin dangkal.
“Sudah dua minggu kapal ke Mahakam Ulu tidak bisa jalan sama sekali karena air dangkal. Kalau dipaksakan melintas justru rugi besar dan sangat berisiko. Sementara ini kapal terpaksa kami istirahatkan,” ujar Sadam saat dikonfirmasi, Rabu (19/8/2026).
Bagi Sadam, keputusan menghentikan pelayaran bukan perkara sederhana. Selain kehilangan aktivitas, ia juga harus mencari cara agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia mengaku tidak berani mengambil risiko membawa penumpang melintasi alur sungai yang dangkal.
“Kami enggak berani dan tidak mau mengambil risiko. Takut kapal kandas dan berbahaya bagi penumpang,” katanya.
Dari Nahkoda Beralih Jadi Sopir RentalKapal yang berhenti beroperasi membuat Sadam tidak bisa hanya menunggu di tepi sungai.
Untuk sementara, ia memilih beralih profesi menjadi sopir mobil rental.
Mobil kini menjadi kendaraannya mencari penghasilan, menggantikan kapal yang biasanya ia kemudikan menyusuri Sungai Mahakam.
“Untuk sementara saya beralih narik mobil travel darat dulu buat cari pemasukan. Kalau kapal kan menunggu keputusan pemilik kapal dan menunggu debit air sungai naik kembali,” ujarnya.
Sadam mengatakan, menjadi sopir rental merupakan pilihan sementara sembari menunggu kondisi sungai kembali memungkinkan untuk dilalui kapal.
Ia berharap debit air segera naik sehingga dirinya dapat kembali bekerja sebagai nahkoda.
Penumpang Ikut TerdampakTidak hanya Sadam yang merasakan dampak surutnya Sungai Mahakam. Penumpang yang selama ini mengandalkan transportasi air juga harus mencari pilihan lain.
Peralihan ke jalur darat membuat biaya perjalanan meningkat.
Jika menggunakan kapal, masyarakat biasanya cukup membayar sekitar Rp400.000 per orang. Sementara menggunakan mobil travel dapat mencapai sekitar Rp 1 juta per orang.
“Kalau menggunakan travel mobil bisa sampai Rp 1 juta per orang. Kalau kapal biasanya Rp 400.000,” kata Sadam.
Bagi Sadam, kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya transportasi sungai bagi masyarakat di wilayah pedalaman.
Bukan hanya mengangkut penumpang, kapal juga menjadi salah satu sarana distribusi barang dan kebutuhan pokok.
“Kapalnya kan enggak bisa jalan, bagaimana mau mendistribusikan bahan pokok ke sana,” ungkapnya.
Kini Sadam hanya bisa menunggu. Sambil menanti debit Sungai Mahakam kembali naik, ia menjalani pekerjaan sebagai sopir rental untuk tetap mendapatkan penghasilan.
Baginya, kapal boleh berhenti sementara, tetapi kebutuhan hidup tidak bisa ikut berhenti.
“Kalau kapal dipaksakan jalan dalam kondisi seperti sekarang, risikonya terlalu besar. Jadi sementara menunggu air naik, kami cari alternatif lain,” pungkas Sadam.





