Surutnya Sungai Mahakam akibat musim kemarau tidak hanya menghambat aktivitas kapal penumpang, tetapi juga membuat warga Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk bepergian.
Salah satunya dirasakan Desy, warga Kecamatan Long Hubung, Mahulu. Selama ini, perjalanan dari Samarinda menuju wilayah tempat tinggalnya lebih banyak mengandalkan transportasi sungai.
Namun, kondisi Sungai Mahakam yang semakin dangkal membuat kapal penumpang tidak lagi bisa digunakan untuk perjalanan seperti biasanya.
Padahal, kapal menjadi pilihan warga karena tarifnya relatif terjangkau. Untuk sekali perjalanan, penumpang biasanya hanya perlu membayar sekitar Rp 400 ribu.
Kini, Desy harus beralih menggunakan kendaraan roda empat melalui jalur darat.
Perjalanan yang biasanya ditempuh menggunakan kapal kini membutuhkan biaya yang sangat mahal. Meskipun dari Samarinda menuju Long Hubung, perjalanan darat dapat memakan waktu sekitar 15 hingga 18 jam, tergantung kondisi perjalanan.
Peralihan moda transportasi tersebut membuat biaya perjalanan warga meningkat cukup signifikan. Sementara menggunakan kendaraan darat, biaya yang harus dikeluarkan Desy bisa mencapai sekitar Rp 1 juta.
“Kalau biasanya naik kapal sekitar Rp 400 ribu, sekarang harus lewat darat. Biayanya bisa sampai Rp 1 juta, ” kata Desy kepada kumparan, Rabu (19/8).
Jumlah tersebut bahkan belum termasuk kebutuhan selama perjalanan, terutama biaya makan karena waktu tempuh yang mencapai belasan jam.
“Belum lagi untuk makan selama di perjalanan. Kalau dihitung semuanya, pasti lebih dari Rp 1 juta,” ujarnya.
Adapun Sungai Mahakam merupakan sungai terpanjang (980 km) dan terbesar di Kalimantan Timur. Sungai ini menjadi urat nadi transportasi utama dari Samarinda hingga kawasan hulu di Mahakam Ulu (Mahulu).
Sungai Surut, Transportasi Warga TergangguTransportasi sungai memiliki peran penting bagi masyarakat Mahulu dan wilayah pedalaman Kalimantan Timur.
Selain membawa penumpang, kapal juga menjadi sarana pengangkutan barang dan kebutuhan masyarakat.
Bagi warga seperti Desy, jalur darat memang masih bisa digunakan. Namun, konsekuensinya adalah jalan yang masih dalam perbaikan dan biaya yang lebih mahal.
Warga Berharap Kondisi Sungai Kembali NormalDesy berharap kondisi Sungai Mahakam kembali memungkinkan untuk dilalui kapal penumpang, meskipun menggunakan kapal harus menempuh perjalanan hingga 24 jam.
Menurutnya, keberadaan transportasi sungai sangat membantu masyarakat karena tarifnya lebih murah dibandingkan perjalanan menggunakan kendaraan darat.
“Kalau kapal bisa jalan lagi, tentu lebih enak dan lebih murah. Sekarang kalau lewat darat, biaya dan kondisi jalan, ampun,” katanya.
Bagi masyarakat Mahulu, kondisi Sungai Mahakam bukan sekadar persoalan lingkungan akibat musim kemarau. Surutnya sungai juga berimbas dengan aktivitas ekonomi, mobilitas warga, hingga distribusi kebutuhan sehari-hari.





