MAUMERE, KOMPAS — Lantaran kelaparan, Servasius Sanda (25), korban gempa di Desa Lidi, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, memaksakan diri memanjat pohon kelapa untuk mengambil buahnya. Ia lalu terjatuh dan mengalami luka serius. Banyak warga di pulau itu masih membutuhkan bantuan.
”Dia mengalami luka pada bagian kelamin dan sudah kami tangani. Kondisinya mulai pulih,” kata Icha Lada, dokter yang merawat Sanda, ketika dihubungi pada Rabu (19/8/2026) siang. Perawatan berlangsung di dalam tenda darurat yang dibangun di sana.
Perawatan dilakukan dengan fasilitas seadanya di Puskesmas Palue. Saat ini, kondisi pasien membaik sehingga tidak perlu dirujuk ke rumah sakit di Maumere. Pelayaran dari Palue ke Maumere memakan waktu lima jam.
Menurut Icha, Sanda terjatuh dari pohon kelapa ketika hendak mengambil buahnya. Hal itu dilakukan lantaran minimnya bahan makanan. Akses menuju desa tersebut tertutup material longsor sejak gempa bermagnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8/2026).
Semua desa di Palue terisolasi akibat gempa. Bantuan baru tiba di sana setelah tiga hari. Namun, jumlahnya masih terbatas. Proses distribusi pun terkendala. Warga harus memikul sendiri bantuan tersebut. Kebanyakan warga di desa itu merupakan lansia dan perempuan yang telah menjanda.
Nestor Langga, guru yang juga pekerja kemanusiaan di Palue, mengatakan, banyak warga yang kehabisan makanan terpaksa mencari sisa-sisa bahan pangan di kebun. Tak heran bila ada yang sampai nekat memanjat pohon kelapa untuk mendapatkan makanan demi bertahan hidup.
Kini muncul harapan setelah dua unit ekskavator didatangkan ke Palue untuk membantu membuka akses jalan yang tertutup longsor. Ekskavator tersebut sudah mulai bekerja, termasuk membuka akses menuju Desa Lidi. ”Persoalan akses jalan yang paling berat perlahan mulai teratasi,” katanya.
Kepala Kepolisian Daerah NTT Inspektur Jenderal Rudi Darmoko pada Rabu siang kembali menemui para korban gempa di Maumere. Terkait penanganan dampak gempa di Palue, pihaknya telah mengirimkan dua ekskavator yang kini mulai bekerja. Jika masih diperlukan, pihaknya akan kembali mengirimkan alat berat tambahan.
Serial Artikel
Wartawan ”Kompas” ke Palue, Pulau Terdekat Episentrum Gempa
Pulau Palue di Kabupaten Sikka, NTT, berada di tengah laut Flores. Pulau ini terdampak gempa cukup parah dan hingga 17 Agustus 2026 siang masih terisolasi.
”Semua sumber daya yang dimiliki Polri akan kami kerahkan. Pengiriman bantuan serta dukungan personel terus kami dorong ke Palue. Sambil menunggu akses dibuka, anggota kami minta membawa bantuan ke kampung-kampung yang terisolasi,” katanya.
Pada Senin (17/8/2026), Kompas berlayar selama sekitar lima jam menggunakan kapal menuju Palue. Pulau tersebut berada di tengah kepungan Laut Flores. Letaknya tak jauh dari episentrum gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang daerah itu pada Sabtu (15/8/2026).
Nestor mengajak Kompas menyusuri jalan yang menghubungkan desa-desa di sana. Jalan beton tidak rata, berlubang, dan terbongkar. Namun, ia menggeber sepeda motor dengan kencang. ”Harus banyak foto dan video sebelum gelap,” ujarnya.
Belum sampai 2 kilometer, badan jalan telah tertimbun longsor hingga 90 persen. Hanya sepeda motor yang bisa melintas. Tak jauh dari sana, sebuah batu besar berdiameter hingga tiga meter terguling ke tengah jalan. Belum lagi material tanah dan pepohonan yang tumbang.
Sepanjang perjalanan, dampak kerusakan akibat gempa terlihat di mana-mana. Guncangan di tempat itu sangat terasa. Tanah berayun ke kiri dan ke kanan selama beberapa detik, lalu bergerak naik-turun dengan cepat. ”Ayun, lalu gergaji,” ujar Nestor memberi gambaran.
Kompas kemudian mendatangi tempat pengungsian. Warga berkumpul di luar rumah. Mereka khawatir terhadap gempa susulan yang terus meneror hingga ratusan kali sejak gempa pertama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) menjelang pukul 06.00 Wita.
Pada malam hari, Kompas mendapati warga tidur di tenda-tenda darurat yang mereka bangun sendiri. Di antara mereka terdapat balita, anak-anak, orang dewasa, dan warga lanjut usia.
Lewat tengah malam, Kompas kembali ke pelabuhan untuk menunggu kedatangan kapal. Pelayaran kembali menuju Pelabuhan Kewapante di Pulau Flores dimulai pada Selasa (18/8/2026) sekitar pukul 02.30 Wita. Kami harus kembali karena pelayaran reguler berikutnya baru tersedia pada pekan depan.
Serial Artikel
Gempa Flores Mengguncang Nurani, Palue Memanggil Peduli
Tiga hari terisolasi pascagempa Flores, warga Palue mulai dijangkau bantuan. Pulau kecil itu masih menghadapi kerusakan, luka, dan keterbatasan akses.





