BPOM dan Novo Nordisk Ingatkan Bahaya Obat Pelangsing Abal-abal untuk Obesitas

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Novo Nordisk Indonesia mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur obat pelangsing yang menjanjikan hasil instan. Penanganan obesitas dinilai harus dilakukan berdasarkan pendekatan ilmiah dan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan karena obesitas merupakan penyakit kronis dengan penyebab yang kompleks.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Health Corner bertema "Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal" pada Jumat (14/8/2026).

Kepala BPOM Prof. Dr. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed mengatakan masyarakat perlu lebih kritis terhadap promosi obat penurun berat badan yang marak beredar, terutama melalui media sosial dan platform daring.

Menurutnya, promosi produk kesehatan yang melibatkan influencer kerap disertai klaim berlebihan (overclaim), sehingga ulasan di media sosial tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam memilih obat penurun berat badan.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan obat penurun berat badan harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Untuk obat yang memerlukan resep, masyarakat harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Untuk menghindari produk ilegal maupun tidak memenuhi ketentuan, BPOM meminta masyarakat menerapkan prinsip Cek KLIK, yakni memeriksa Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli obat atau produk kesehatan.

"Pastikan kata BPOM yang kedua tentu. Apa kata BPOM? Pastikan cek klik, kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa," ujar Taruna.

Ia juga mengimbau masyarakat mewaspadai barcode pada kemasan produk. Apabila hasil pemindaian tidak mengarah ke laman resmi BPOM, produk tersebut patut dicurigai dan dapat dilaporkan kepada otoritas.

Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menegaskan bahwa obesitas bukan sekadar akibat kurang disiplin menjaga pola hidup, melainkan penyakit kronis yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari biologis, genetik, hormonal, hingga lingkungan.

"Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dll., dan seringkali membutuhkan konsultasi dengan dokter. Kami menghadirkan www.NovoCare.id agar masyarakat memiliki akses ke informasi berbasis sains untuk memahami obesitas dengan lebih baik, sekaligus akses untuk terhubung dengan dokter yang dapat membantu penanganan obesitas secara tepat," kata Riyanny.

Ia menjelaskan penanganan obesitas tidak hanya mengandalkan obat. Modifikasi gaya hidup menjadi pilar utama terapi, sementara terapi farmakologi maupun operasi bariatrik diberikan sesuai kondisi klinis masing-masing pasien. Penentuan terapi dilakukan setelah dokter mengevaluasi komposisi tubuh serta penyakit penyerta, seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular.

"Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai," ujarnya.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya, dr. Prinindita Artiara Dewi, B.MedSc., Sp.GK, juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjalani diet ekstrem demi menurunkan berat badan dengan cepat.

Menurutnya, praktik seperti makan hanya sekali sehari atau menghilangkan karbohidrat sepenuhnya justru berisiko mengganggu keseimbangan kebutuhan gizi tubuh.

"Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu," katanya.

Ia menekankan kebutuhan energi dan zat gizi setiap orang berbeda sehingga program penurunan berat badan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

"Yang penting itu adalah kita makan cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Makanya diperlukan personalized diet untuk setiap masing-masing individu," ujar Prinindita.

Selain itu, ia mengungkapkan masih menemukan obat penurun berat badan yang telah ditarik dari peredaran sejak 2010 namun diduga masih beredar di masyarakat. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati sebelum mengonsumsi produk pelangsing.

Baca Juga: Menkes Pastikan Iuran BPJS Kesehatan Tak Naik, Meski Defisit Rp2 Triliun per Bulan

Baca Juga: Ambisi AI Sektor Kesehatan Terhambat Kesenjangan Akses dan Tata Kelola Data

Baca Juga: Ilmuwan Ungkap Hubungan Kesehatan Usus dan Jerawat Lewat Uji Klinis

Riyanny menambahkan bahwa obesitas berkembang dalam jangka panjang sehingga penanganannya juga membutuhkan komitmen dan konsistensi. Tujuan terapi tidak hanya menurunkan berat badan, tetapi juga mempertahankan hasil serta mencegah berat badan kembali meningkat.

"Namanya kronis tidak dari kemarin tiba-tiba hari ini saya obes, maka penyelesaiannya juga tidak kemudian hari ini besok saya selesai. Pengelolaan obesitas harus berbasis sains, melibatkan tenaga kesehatan, dan mempertimbangkan dampak dan manfaat jangka panjang (long-term health)," tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Pascagempa 7,7 Magnitudo, Pulau Palue di NTT Kesulitan Terima Bantuan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Rupiah Menguat ke Rp17.855, BI Ungkap Strategi Jaga Stabilitas di Tengah Gejolak Global
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Pangkas Latihan Militer, Aliansi AS dengan Sekutu Asia Diuji
• 6 jam laludetik.com
thumb
Pemerintah prioritaskan pemulihan infrastruktur pascagempa NTT
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Jenazah Pendaki Gunung Slamet Asal Brebes Dibawa ke Basecamp Guci
• 8 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.