HARIAN.FAJAR.CO.ID, NEW DELHI — Jonatan Christie mengaku sempat panik ketika menghadapi Jason Teh Jia Heng pada babak 32 besar Kejuaraan Dunia BWF 2026, Rabu (19/8/2026).
Meski selalu menang dalam enam pertemuan sebelumnya, Jonatan kali ini kesulitan mengendalikan ketegangan menghadapi wakil Singapura tersebut.
Jonatan bahkan sempat kehilangan ketenangan ketika Jason terus memberikan perlawanan, termasuk saat pertandingan memasuki fase krusial.
Namun, pemain berusia 28 tahun itu akhirnya mampu mengatasi tekanan dan memastikan kemenangan untuk melaju ke babak berikutnya.
Pertandingan menghadapi Jason menjadi ujian mental tersendiri bagi Jonatan. Rekor pertemuan sebelumnya memang berpihak kepadanya, tetapi kondisi pertandingan kali ini berjalan berbeda.
Jonatan mengaku tidak langsung mampu menjalankan strategi yang telah dipersiapkan. Rasa tegang membuatnya terlalu banyak berpikir ketika berada di lapangan.
“Tadi mainnya masih terlalu tegang, agak panik dan tidak percaya buat penggunaan strategi, pola yang sudah disiapkan jadi serba ragu sampai pertengahan gim pertama,” ujar Jonatan, dikutip dari rilis resmi PBSI, Rabu (19/8/2026).
Situasi tersebut membuat permainan Jonatan tidak berkembang maksimal pada awal pertandingan. Ia kemudian berusaha mengubah pendekatan dengan bermain lebih berani dan mengurangi keraguan.
“Setelah itu coba keluar dari tekanan, lebih berani lagi dan lebih tidak terlalu banyak pertimbangan mainnya,” katanya.
Perubahan tersebut perlahan membuahkan hasil. Jonatan mampu keluar dari tekanan dan mengejar perolehan angka lawannya.
Namun, ia menilai masih terdapat kesalahan dalam pemilihan pukulan ketika memasuki poin-poin penting.
“Cukup berhasil dan mengejar tapi sayang di poin akhir ada kurang tepat penggunaan pukulan,” ujar Jonatan.
Gugup meski Unggul JauhTekanan belum sepenuhnya hilang ketika pertandingan memasuki gim kedua. Jonatan kembali mengalami situasi yang membuatnya gugup.
Ia sebenarnya sudah berada dalam posisi sangat menguntungkan dengan keunggulan 20-14. Jonatan memperkirakan Jason akan menyerah mengejar dan mulai bersiap menghadapi gim penentuan.
Perkiraan tersebut ternyata tidak terjadi. Jason justru mengubah pola permainan dan terus berusaha mengejar ketertinggalan.
“Di gim kedua, sudah unggul 14-20 dan saya merasa lawan akan melepas dan bersiap fokus ke gim ketiga tapi ternyata dia masih berusaha dengan mengganti pola permainan yang mungkin itu yang dia mau mainkan di gim ketiga,” jelas Jonatan.
Perubahan permainan Jason membuat perolehan angka kembali mendekat. Kondisi tersebut membuat Jonatan kembali berada dalam tekanan.
“Itu membuat dia dapat banyak poin dan saya lumayan panik, beruntung bisa menyelesaikan. Di gim ketiga sudah lebih terbaca permainannya,” ungkapnya.
Setelah melewati situasi sulit tersebut, Jonatan mampu membaca permainan Jason dengan lebih baik pada gim penentuan.
Ia akhirnya mengamankan kemenangan dan menjaga langkahnya di Kejuaraan Dunia BWF 2026.
Pelajaran BerhargaBagi Jonatan, pertandingan tersebut bukan sekadar soal memastikan kemenangan. Situasi sulit yang dihadapinya menjadi evaluasi untuk pertandingan berikutnya.
Ia menyadari bahwa pengalaman dan persiapan pertandingan tidak selalu menghasilkan situasi yang sama ketika diterapkan di lapangan.
“Agak susahnya hal ini bukan mutlak matematika jadi ketika yang dipelajari kemarin, bisa berbeda di hari ini atau next pertandingannya,” tutur Jonatan.
Menurut dia, berbagai faktor dapat memengaruhi jalannya pertandingan, mulai dari kondisi fisik hingga suasana hati dan perasaan pemain ketika bertanding.
“Banyak situasi yang membuat beda, mungkin dari kondisinya, mood feel-nya atau segala macam,” katanya.
Jonatan memilih menikmati proses tersebut sembari terus melakukan evaluasi. Pengalaman menghadapi Jason menjadi bekal penting untuk menghadapi lawan-lawan berikutnya.
“Ini yang masih saya nikmati prosesnya setiap hari,” tutup Jonatan.





