JAYAPURA, KOMPAS - Sejumlah distrik di wilayah dataran tinggi Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, dilaporkan mengalami fenomena hujan es. Warga menyebut, hujan es itu menyebabkan tanaman rusak sehingga sumber pangan mereka pun terganggu. Pemerintah daerah dan instansi terkait akan mengecek langsung situasi di sana.
Informasi dan dokumentasi mengenai hujan es tersebut dibagikan oleh warga di sejumlah akun media sosial, Minggu (16/8/2026). Dalam unggahan di media sosial itu, tampak butiran es menutupi permukaan tanah hingga atap rumah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Pegunungan menyatakan telah menerima laporan warga beserta dokumentasi terkait fenomena ini. Hujan es dilaporkan terjadi di beberapa distrik di Lanny Jaya, seperti Kuyawage, Wano Barat, dan Goa Balim. Daerah-daerah ini berada di dataran tinggi yang merupakan rangkaian dari Pegunungan Jayawijaya.
Kepala Stasiun Klimatologi Papua Sulaiman menjelaskan, hujan es seperti yang terjadi di Lanny Jaya merupakan fenomena yang lazim di wilayah dataran tinggi. Kondisi itu terjadi ketika pertumbuhan awan konvektif, yakni awan cumulonimbus, terjadi secara sangat masif di wilayah dataran tinggi.
“Puncak awan cumulonimbus ini bisa mencapai ketinggian yang sangat dingin, di atas lapisan pembekuan. Di dalam awan tersebut, butiran air membeku menjadi partikel es,” kata Sulaiman, Rabu (19/8/2026).
Sulaiman menambahkan, arus udara naik yang kuat membuat partikel es semakin membesar. Saat partikel tersebut jatuh terbawa arus udara turun di dataran tinggi Papua, butiran es belum mencair sepenuhnya saat tiba di tanah. Hal ini pun membuat fenomena hujan es menyelimuti sejumlah daerah di dataran tinggi Papua.
Berdasarkan pantauan Stasiun Klimatologi Papua, suhu minimum di permukaan tanah di wilayah Pegunungan Papua saat ini mencapai 12-17 derajat Celsius. Sementara itu, suhu minimum di puncak awan sebesar 0-4 derajat Celsius.
“Fenomena ini memang hal yang lazim. Kendati sudah memasuki El Nino, tetapi memang sejumlah daerah ada yang hujannya terjadi sepanjang tahun. Namun, curah hujannya tentu jauh berkurang,” ujar Sulaiman.
Dia menambahkan, fenomena seperti ini bisa terjadi di beberapa daerah di pegunungan Papua. Namun, Stasiun Klimatologi Papua tidak bisa mendeteksi hal itu secara pasti karena stasiun pemantauan belum mencakup keseluruhan wilayah.
Kepala Seksi Penyelamatan dan Evakuasi BPBD Papua Pegunungan Mesak Wenda mengatakan, pihaknya telah menerima informasi awal terkait kejadian itu sejak beberapa hari lalu. Namun, laporan lebih detail baru diterima pada Rabu ini.
Warga juga melaporkan adanya kerusakan tanaman di kebun mereka. Selain itu, Mesak juga mengaku telah menerima laporan adanya kekurangan makanan akibat sumber pangan yang rusak.
“Kami sudah koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya serta BPBD di sana untuk segera melihat dampak hujan es ini. Hari ini atau besok akan ke sana. Pemda dan BPBD juga perlu memastikan dampak-dampak riil di lapangan,” ucapnya.
Menurut Mesak, kondisi ini harus segera mendapat perhatian. Sebab, selama ini, sumber pangan utama warga berasal dari tanaman umbi-umbian dan sayuran yang mereka tanam sendiri.
Apalagi, ada sejumlah kampung yang juga terdampak kekeringan akibat El Nino. Oleh karena itu, nasib warga di sana harus segera dipastikan untuk mencegah situasi yang memburuk.
“Dari koordinasi kami tadi, Pemerintah Lanny Jaya membutuhkan bantuan pemerintah pusat juga untuk menyalurkan bahan makanan, pakaian dan logistik lainnya kepada warga di sana,” katanya.
Fenomena ini memang hal yang lazim. Kendati sudah memasuki El Nino, tetapi memang sejumlah daerah ada yang hujannya terjadi sepanjang tahun





