Jakarta: KAI Properti menyiapkan pengembangan hunian vertikal berbasis Transit Oriented Development (TOD) di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Proyek tersebut akan dibangun di atas lahan sekitar 2,1 hektare (ha) dan terdiri dari 3.740 unit hunian.
Direktur Utama KAI Properti Mohamad Ramdany bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin meninjau lokasi pengembangan pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Peninjauan dilakukan untuk melihat kesiapan lokasi sekaligus rencana pengembangan kawasan hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik. Direktur Utama KAI Properti Mohamad Ramdany mengatakan proyek tersebut menjadi bagian dari optimalisasi lahan milik KAI sekaligus mendukung penyediaan hunian.
"Peninjauan hari ini menjadi bagian penting bagi KAI Properti untuk melihat secara langsung kesiapan lokasi dan memastikan rencana pengembangan kawasan dapat berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan. Pengembangan hunian vertikal di kawasan Manggarai ini merupakan bagian dari upaya KAI Properti dalam mengoptimalisasi lahan milik KAI sekaligus mendukung program pemerintah dalam bidang penyediaan hunian," ujar Ramdany, dalam keterangan tertulis, Rabu, 19 Agustus 2026.
Hunian vertikal Manggarai akan dibangun di atas lahan sekitar 2,1 ha atau 21.939 meter persegi. Lahan tersebut terdiri dari Blok G seluas sekitar 6.925 meter persegi dan Blok F sekitar 15.014 meter persegi dengan status Hak Pakai PT KAI.
Ilustrasi TOD di kawasan Manggarai. Foto: dok KAI Properti.
Baca Juga :
KAI Properti Perkuat Konektivitas di Stasiun BNI CityBerdasarkan rencana pengembangan, kawasan tersebut akan terdiri dari delapan tower, yakni tiga tower di Blok G dan lima tower di Blok F. Setiap tower direncanakan memiliki 12 lantai dengan total 3.740 unit hunian serta 150 unit ruang retail.
Pengembangan kawasan menerapkan konsep TOD dengan mengintegrasikan hunian dengan jaringan transportasi publik dan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Lokasi pengembangan berjarak sekitar 400 meter dari Stasiun Manggarai dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar empat menit berdasarkan perencanaan akses kawasan.
Kawasan tersebut juga direncanakan dilengkapi area pedestrian, ruang terbuka hijau, dan fasilitas komunal untuk mendukung mobilitas serta aktivitas penghuni.
"Sebagai pengembang, kami tidak hanya melihat proyek ini dari sisi penyediaan unit hunian, tetapi juga bagaimana kawasan ini dapat dirancang untuk mendukung aktivitas masyarakat di dalamnya. Karena itu, aspek konektivitas, fungsi ruang, fasilitas pendukung, hingga hubungan kawasan dengan lingkungan sekitarnya menjadi bagian dari perencanaan kami," kata Ramdany.
Sejumlah fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan transportasi publik juga berada dalam radius sekitar tiga kilometer dari lokasi pengembangan berdasarkan pemetaan kawasan. Ramdany mengatakan tahap awal pengembangan di Blok G ditargetkan dimulai pada Agustus 2026 dan dilanjutkan dengan Blok F pada Oktober 2026.
"Kami berharap pengembangan hunian berbasis TOD ini dapat menghadirkan lingkungan tempat tinggal yang terhubung dengan berbagai pusat aktivitas dan simpul transportasi. Kami juga terus memastikan kesiapan proyek agar dapat berjalan sesuai rencana," kata Ramdany.




