REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Kulit pisang yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah rumah tangga ternyata dapat diolah menjadi produk pangan bernilai guna. Ini diwujudkan tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) Cirebon.
Mereka memberdayakan kader PKK Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, untuk mengolah kulit pisang menjadi biskuit kulit pisang (BISKUPI) dengan tema “Pemberdayaan Kader PKK melalui inovasi BISKUPI (Biskuit Kulit Pisang) sebagai Upaya dalam Mengatasi Konstipasi pada Ibu Hamil.’’
Tim terdiri atas dosen dan mahasiswa yang diketuai Bdn Nur Aliah, SST, M.Kes dari Prodi Pendidikan Profesi Bidan bersama anggota Yani Trihandayani, Ners, M.Kep dari Prodi D-III Keperawatan, dan Nabil Dzaky Murtadha, SE, M.Acc. dari Prodi S-1 Akuntansi.
Program pengabdian ini didanai DPPM Kemdiktisaintek dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun 2026.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menyediakan pangan sehat, khususnya yang berkaitan dengan pemenuhan serat bagi ibu hamil.
Kelurahan Argasunya memiliki potensi sumber daya lokal yang cukup besar, termasuk ketersediaan limbah organik rumah tangga berupa kulit pisang. Kader PKK berperan dalam kegiatan kemasyarakatan, posyandu, serta pendampingan kesehatan keluarga.
Potensi tersebut kemudian dikembangkan melalui kegiatan pemberdayaan yang menggabungkan aspek kesehatan, keterampilan pengolahan pangan, lingkungan, dan ekonomi keluarga.
Dari Limbah Menjadi Produk Pangan Fungsional
Program BISKUPI dilatarbelakangi masih terbatasnya pemanfaatan kulit pisang sebagai bahan pangan bernilai tambah. Melalui pelatihan, para kader PKK tidak hanya diperkenalkan pada manfaat kulit pisang, tetapi juga diajak mempraktikkan secara langsung proses pengolahannya menjadi BISKUPI.
Proses dimulai dari pengolahan kulit pisang menjadi tepung, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan biskuit secara higienis.
Pemberdayaan kader PKK melalui inovasi BISKUPI membawa beberapa manfaat sekaligus. Dari sisi kesehatan, mendorong peningkatan pengetahuan mengenai pangan tinggi serat dan pencegahan gangguan pencernaan.
Dari sisi ekonomi, membuka peluang pengembangan produk pangan bernilai tambah. Dari sisi sosial, kapasitas kader PKK diperkuat agar mampu menjadi agen edukasi kesehatan di lingkungannya.
Sedangkan dari sisi lingkungan, pemanfaatan kulit pisang turut mendukung pengurangan limbah organik rumah tangga.
Tidak Sekadar Pelatihan Membuat Biskuit
Pemberdayaan tidak berhenti pada keterampilan membuat produk. Para kader mendapatkan edukasi mengenai gizi ibu hamil, pentingnya asupan serat, pencegahan konstipasi, serta pemanfaatan pangan lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini dipilih karena konstipasi merupakan salah satu keluhan yang dapat dialami selama kehamilan dan berkaitan antara lain dengan pola makan, asupan serat, dan hidrasi. Karena itu, edukasi mengenai pangan tinggi serat menjadi bagian penting dalam program pemberdayaan ini.
Selain aspek kesehatan, peserta juga diberikan pembekalan mengenai kewirausahaan sederhana, pengemasan, branding, penentuan harga, perhitungan biaya produksi, strategi pemasaran, dan pencatatan penjualan.
Dengan demikian, BISKUPI tidak hanya diarahkan sebagai produk konsumsi keluarga, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi berbasis kelompok PKK.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada DPPM Kemdiktisaintek yang telah mendanai kegiatan ini, kepada UMMADA Cirebon yang telah memberikan dukungan penuh dalam kegiatan ini.
Selain itu, kepada mitra yaitu kader PKK Kelurahan Argasunya, serta jajaran pemerintahan Kelurahan Argasunya Kota Cirebon sehingga program pengabdian ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
BISKUPI menjadi contoh, pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari kulit pisang yang sederhana, masyarakat dapat belajar tentang kesehatan, kreativitas, kepedulian lingkungan, hingga peluang ekonomi.
Dari Argasunya, inovasi pangan lokal diharapkan terus tumbuh menjadi gerakan pemberdayaan keluarga yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.