KOMPAS.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian memastikan masyarakat dan pemerintah daerah (Pemda) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak sendirian dalam menghadapi bencana.
Komitmen tersebut ditunjukkan dengan hadirnya sejumlah menteri, kepala lembaga, serta direktur utama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak hari pertama pascagempa bumi yang melanda NTT, Sabtu (15/8/2026).
"Pemerintah pusat pasti enggak akan tinggal diam. Kita keroyok semua ya," terang Mendagri saat mengunjungi Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (19/8/2026) seperti dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.
Selama lima hari berada di NTT, Mendagri mengunjungi sejumlah daerah terdampak untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal.
Kegiatan Mendagri dimulai dengan melakukan supervisi dana Transfer ke Daerah (TKD) di kabupaten/kota di NTT guna memastikan dukungan anggaran tersebut digunakan secara tepat.
Baca juga: Dorong Pemenuhan Kebutuhan Warga, Mendagri Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa di Pulau Palue
Kemudian, pada Minggu (16/8/2026), dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Gempa Wilayah NTT yang berlangsung secara hibrida dari Ruang Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Manggarai Barat, Mendagri menegaskan bahwa penanganan pada tahap awal pascagempa berfokus pada penyelamatan korban serta pemulihan berbagai layanan dasar masyarakat.
Hal itu mencakup kelistrikan, telekomunikasi, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), logistik, hingga penanganan korban meninggal dunia dan warga yang mengalami luka-luka.
Pada hari yang sama, Mendagri juga meninjau langsung penanganan pascagempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur sekaligus memberikan bantuan berupa tenda, makanan, dan makanan cepat saji.
Keesokan harinya, Senin (17/8/2026), Mendagri memimpin Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Lapangan Natas Lehong, Kabupaten Manggarai Timur.
Menurutnya, salah satu tujuan pembentukan negara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk dari bencana.
Usai memimpin upacara, Mendagri meninjau kerusakan akibat gempa dan berdialog dengan masyarakat Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara.
Pada kesempatan itu, Mendagri Tito menyatakam bahwa Desa Satar Kampas sebagai salah satu wilayah terdampak paling parah. Ia mendorong agar bantuan untuk Kabupaten Manggarai Timur diprioritaskan ke wilayah tersebut.
Mendagri juga menyerahkan bantuan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) berupa santunan senilai Rp 15 juta kepada ahli waris korban meninggal dunia, bantuan dua unit genset, 10 unit velbed, dan uang tunai Rp 200 juta untuk dua desa. Mendagri turut memberikan bantuan pribadi untuk SMP Abdurrahman Wahid.
Dalam kesempatan tersebut, Mendagri meminta pemda di NTT mempercepat pendataan dampak bencana, khususnya terhadap rumah, fasilitas ibadah, fasilitas pendidikan, sarana dan prasarana usaha, serta berbagai fasilitas publik lainnya.
Pendataan tersebut diperlukan agar bantuan dari kementerian/lembaga dapat disalurkan secara tepat sasaran.





