Tinjau Jalan Dusun yang Amblas, Bupati Wajo Minta Penanganan Sementara demi Keselamatan Warga

harianfajar
13 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, WAJO – Bupati Wajo Andi Rosman meninjau jalan dusun yang amblas di Desa Watampanua, Kecamatan Pammana, Rabu (19/8/2026).

Orang nomor satu di Bumi Lamaddukelleng itu meminta segara penanganan untuk keselamatan masyarakat.

Andi Rosman menyampaikan, kepada pejabat Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Wajo agar menimbun retakan-retakan atau jalan amblas didekat Sungai Walanae itu.

Langkah itu guna mengantisipasi adanya kecelakaan. “Keselamatan masyarakat kita yang harus diperhatikan dulu. Makanya perlu penanganan sementara,” ujarnya.

Tak hanya itu, kerusakan infrastruktur tersebut selanjutnya dikoordinasikan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan-Jeneberang (Pomjen).

“Ada 3 titik yang rusak. Nanti sekaligus dibuatkan surat penanganan ke BBWS Pomjen,” tuturnya.

Kepala Dinas PUPRP Wajo, Muhammad Ibnu Hasyim mengaku, sudah turun melihat kondisi bantaran sungai yang amblas pada, Sabtu, 15 Agustus kemarin.

“Panjang retakan itu sekitar 30 meter dengan kedalaman lebih 2 meter,” tuturnya.

Menurutnya, tebing, dinding atau bantaran sungai bisa mengalami longsor akibat kemarau panjang. Saat kemarau panjang, volume air sungai menyusut dan tanah di tebing kehilangan kelembapan, menjadi sangat kering, serta membentuk retakan-retakan besar (rekahan).

“Kondisi ini yang membuat struktur tanah di tepi sungai menjadi labil dan mudah runtuh. Seperti yang terjadi longsor sekarang,” jelasnya.

Untuk sementara, lanjut Ibnu, pihaknya akan melaksanakan penanganan sementara dengan menimbun retakan-retakan.

“Kita rencanakan untuk sementara 30 truk material. Sedangkan penanganan seriusnya pemasangan bronjong di ajukan ke BBWS) Pomjen,” harapnya.

Camat Pammana, Andi Yasman Ampa menyampaikan, bencana tersebut dinilai berdampak terhadap aktivitas perekonomian masyarakat.

Akibatnya, warga di Dusun Baleng mulai kesusahan. Hasil bumi atau tanaman pertanian dan perkebunan tidak bisa diangkut maksimal ke pasar.

“Hasil tanaman masyarakat sekarang tidak bisa diangkut keluar pakai mobil karena longsor,” ungkapnya.

Dia menambahkan, amblasnya bantaran sungai tersebut melebar hingga ke daerah sempadan hingga memutus jalan dusun. Padahal akses ini digunakan masyarakat sekitar setiap harinya.

“Ada akses lain sebetulnya. Cuma jalan tani sempit kemudian melingkar jauh, cuma motor saja bisa lewat,” tutupnya. (man)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Update Gempa M7,7 NTT: 75 Orang Meninggal Dunia, 907 Luka-Luka
• 4 jam laluokezone.com
thumb
PSI: Denny Harusnya Malu Karena Berstatus Tersangka, Kalau Ijazah Gibran Itu Tuduhan
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Danantara Siapkan Merger PT PP, Penataan Keuangan Jadi Langkah Awal
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
HUT ke-81 Jabar, Dedi Mulyadi Soroti 3 Isu Penting, dari Pekerjaan, Pendidikan sampai Lingkungan
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Gempa Bumi M5,8 Kembali Guncang Flores NTT Pagi Ini, Tak Berpotensi Tsunami
• 15 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.