Liputan6.com, Jakarta - Pengelolaan sampah berkelanjutan di lingkungan kampus didorong melalui keterlibatan mahasiswa dalam membangun budaya pengelolaan sampah di perguruan tinggi. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga berbagai aktivitas kemahasiswaan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq yang menghadiri rangkaian kegiatan World Cleanup Day 2026 di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah.
Advertisement
Menurut Hanif, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui kegiatan membersihkan sampah yang terlihat. Perubahan harus dimulai dari hulu dengan membangun kesadaran masyarakat untuk mengurangi dan mengelola sampah.
“Persoalan sampah nasional masih menghadapi tiga tantangan utama yang perlu ditangani secara terpadu, meliputi tata kelola, sistem pengolahan sampah, serta komunikasi, edukasi, dan informasi kepada masyarakat untuk membangun kesadaran pengelolaan sampah,” kata Hanif, melansir Antara, Kamis (20/8/2026).
Hanif berharap ULM dapat memanfaatkan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk memperkuat edukasi sekaligus praktik pengelolaan sampah.
Kegiatan kemahasiswaan, termasuk kuliah kerja nyata (KKN) tematik, juga dapat diarahkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menangani persoalan sampah, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa tidak hanya penting untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih bersih, tetapi juga membangun kebiasaan dan kesadaran pengelolaan sampah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.




