Jakarta: Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), meski saat ini bank sentral dinilai lebih memiliki keleluasaan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan di level 5,75%.
Hal tersebut disampaikan Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam riset yang ditulis Jessica Tasijawa. BI mempertahankan suku bunga kebijakan di 5,75% pada Agustus 2026, sesuai dengan ekspektasi Mirae Asset dan konsensus pasar.
Baca juga: Ini Pertimbangan Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 5,75 PersenKeputusan tersebut didukung kondisi pasar keuangan yang relatif membaik. Rupiah tercatat menguat 0,8% secara bulanan menjadi Rp17.855 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara aliran masuk portofolio asing mencapai USD1,8 miliar, terutama ditopang instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
Mirae Asset menilai kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini, meski ketidakpastian global, termasuk dari kawasan Timur Tengah, masih tinggi.
Namun, ruang untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps belum sepenuhnya tertutup. “Kami melihat ruang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps masih terbuka,” tulis Jessica Tasijawa dalam riset tersebut.
Menurut Mirae Asset, kenaikan suku bunga akan kembali menjadi lebih relevan apabila tekanan terhadap Rupiah meningkat dan nilai tukar menembus level Rp18.000 per dolar AS. Risiko tersebut juga semakin besar apabila inflasi kembali berada di atas 3,5% hingga akhir 2026.
Kondisi eksternal turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Potensi kenaikan Federal Funds Rate (FFR) dapat mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY), yang pada akhirnya berpotensi memberikan tekanan terhadap Rupiah.
Selain itu, risiko kenaikan harga pangan akibat fenomena El Niño serta harga minyak global yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Meski demikian, urgensi kenaikan suku bunga saat ini dinilai lebih terbatas. Pasalnya, BI semakin memperkuat penggunaan instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Perkuat Stabilitas Rupiah untuk Dukung PertumbuhanBI memperluas sejumlah instrumen stabilisasi Rupiah. Salah satunya melalui perluasan insentif premi FX swap hedging sebesar 12,5%.
Insentif yang sebelumnya hanya diberikan untuk portfolio inflows akan diperluas mulai September 2026 untuk mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan foreign direct investment (FDI). Fleksibilitas rollover juga diberikan untuk sisa periode kontrak hingga tiga tahun.
Selain itu, BI memberikan insentif Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sebesar 15%, serta insentif FX swap dan DNDF sebesar 10% melalui Local Currency Transaction (LCT).
Perluasan insentif tersebut dinilai dapat membantu BI memperdalam likuiditas valuta asing sekaligus menarik sumber aliran modal yang lebih beragam.
Dengan demikian, stabilitas Rupiah tidak sepenuhnya harus bergantung pada tingkat imbal hasil yang tinggi melalui kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, BI semakin menunjukkan perhatian terhadap pertumbuhan ekonomi dan fungsi intermediasi perbankan.
BI kembali menegaskan upaya membatasi kenaikan yield SRBI lebih lanjut. Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,6% secara tahunan pada Agustus 2026 dari 12,7% pada Juni 2026.
Perkembangan tersebut menunjukkan semakin kuatnya fokus BI untuk mendorong penyaluran kredit ke perekonomian.
Rata-rata kepemilikan SRBI oleh perbankan juga turun menjadi sekitar Rp618 triliun dalam dua bulan terakhir, dibandingkan Rp648 triliun dalam lima bulan pertama 2026.
Penurunan tersebut mengindikasikan adanya pergeseran fungsi stabilisasi Rupiah, dengan BI semakin mengandalkan partisipasi investor asing. Di sisi lain, likuiditas domestik menjadi lebih leluasa untuk mendukung penyaluran kredit dan pertumbuhan ekonomi.
Dengan kondisi tersebut, kenaikan suku bunga 25 bps belum menjadi pilihan utama BI. Namun, opsi tersebut tetap terbuka apabila stabilitas Rupiah dan inflasi kembali menghadapi tekanan.
Artinya, arah kebijakan moneter BI ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar, inflasi domestik, kebijakan The Fed, serta risiko harga pangan dan energi global.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda





