Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani menyerukan evaluasi kepada praktik-praktik masa orientasi atau ospek yang berpotensi merendahkan martabat mahasiswa baru (maba).
Hal itu disampaikannya menyusul beredarnya video sejumlah mahasiswa baru Universitas Negeri Padang (UNP) yang terlihat berjalan jongkok saat hendak memasuki kampus.
Lalu menilai praktik seperti itu tidak sejalan dengan tujuan pengenalan kehidupan kampus. Menurutnya, kegiatan orientasi seharusnya jadi sarana untuk memperkenalkan lingkungan akademik sekaligus membangun karakter mahasiswa.
“Perspektif saya, praktik Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang menyuruh maba jalan jongkok, menggunakan atribut yang merendahkan, atau bentuk senioritas berlebihan tentu perlu dievaluasi,” kata Lalu saat dikonfirmasi, Kamis (20/8).
Dia menegaskan, kegiatan pengenalan kehidupan kampus semestinya berlangsung dalam suasana yang mendidik dan tidak menjadi ruang bagi perundungan maupun penyalahgunaan kekuasaan oleh senior terhadap mahasiswa baru.
“Prinsipnya, pengenalan kehidupan kampus harus mendidik, membangun karakter, dan memperkenalkan lingkungan akademik, bukan menjadi ruang perundungan atau penyalahgunaan kekuasaan,” ujarnya.
Lalu juga menyinggung sikap Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto yang telah menegaskan praktik ospek yang berpotensi memicu kekerasan dan bullying tidak boleh dilakukan.
“Untuk kasus UNP atau di kampus mana pun, menurut saya perlu ada klarifikasi dari pihak kampus, mengecek siapa yang bertanggung jawab atas rangkaian kegiatan tersebut, serta memastikan ada evaluasi agar kejadian serupa tidak berulang,” tuturnya.
Meski demikian, Lalu menegaskan Komisi X DPR tidak mempersoalkan kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru. Menurutnya, kegiatan tersebut tetap penting selama dilaksanakan dengan cara yang mendidik dan menghormati mahasiswa.
“Kami bukan anti-kegiatan pengenalan kampus, tetapi menolak cara-cara yang merendahkan martabat mahasiswa baru,” tegasnya.
Dia mengatakan tradisi dalam kegiatan pengenalan kampus tetap dapat dipertahankan. Namun, tradisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan penghinaan, pemaksaan, ataupun tindakan yang berpotensi menimbulkan kekerasan.
“Tradisi boleh dilestarikan, tetapi kalau sudah mengandung penghinaan, pemaksaan, atau potensi kekerasan, harus dihentikan dan dievaluasi,” kata Lalu.
Sementara video soal mahasiswa UNP itu viral di media sosial kemarin. Video menampilkan sejumlah mahasiswa baru (maba) Universitas Negeri Padang (UNP) disuruh jalan jongkok saat hendak memasuki kampus. Dari narasi yang beredar, maba tersebut disuruh seniornya.
Dalam video yang beredar, terlihat para maba mengenakan seragam hitam putih berjalan jongkok sambil diawasi senior. Mereka juga dilengkapi berbagai atribut, mulai dari yang dikenakan di kepala hingga tulisan di kertas yang dikalungkan.
Sekretaris UNP Erianjoni menegaskan aksi maba berjalan jongkok itu bukan bentuk perpeloncoan. Menurutnya, kegiatan tersebut hanya sebagai pemanasan atau peregangan menjelang masuk kampus.
“Bukan perpeloncoan, hanya semacam pemanasan, peregangan otot. Biar maba lebih fresh,” kata Erianjoni saat dihubungi kumparan, Rabu (19/8).
Ia mengungkapkan, UNP tidak mewajibkan aksi berjalan jongkok terhadap maba. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan aksi spontan yang dilakukan sejumlah senior kepada maba.
“Tidak ada kita model gitu, tapi beberapa di prodi. Tujuannya untuk mendidik adik-adik agar disiplin,” ungkapnya.





