Perserikatan Bangsa-Bangsa (ANTARA) - Operasi militer Israel yang dilancarkan di Tepi Barat bagian selatan pada Rabu (19/8) memberlakukan jam malam terhadap sekitar 40.000 warga Palestina dan memaksa mereka untuk tetapdi rumah.
Penerapan jam malam tersebut membatasi akses warga Palestina di Tepi Barat terhadap kebutuhan sehari-hari, kata badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Operasi ini menimbulkan dampak kemanusiaan langsung karena masyarakat tidak dapat mengisi kembali pasokan mereka, mengakses layanan esensial, atau sekadar pergi ke tempat kerja mereka," ungkap Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA).
UN OCHA mengatakan operasi yang dilancarkan di Adh Dhahiriya, Kegubernuran Hebron, sekitar 30 km di selatan Yerusalem, tersebut melibatkan sejumlah penembak jitu yang ditempatkan di atap-atap bangunan dan memblokade jalan dengan gundukan tanah.
Para mitra memperkirakan sekitar 40.000 orang, termasuk anak-anak, tidak diizinkan meninggalkan rumah mereka.
Dalam pembaruan berita hariannya, UN OCHA menyebutkan bahwa mitra-mitranya melaporkan sekitar tujuh rumah warga Palestina juga digunakan sebagai pusat interogasi, setelah pasukan Israel mengurung sejumlah keluarga di dalam satu ruangan.
Selain itu, beberapa penangkapan juga dilaporkan terjadi.
"Rumah-rumah dan keluarga-keluarga harus dilindungi, dan setiap operasi keamanan harus dilakukan dengan cara yang menghormati hukum internasional, termasuk perlindungan dan martabat warga sipil," kata kantor PBB tersebut.
"Kami dan para mitra kami terus memberikan dukungan vital bagi masyarakat di Tepi Barat," lanjut UN OCHA.
Stephane Dujarric, juru bicara utama Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres, dalam sebuah taklimat pers rutin pada Rabu (19/8) menyampaikan bahwa Guterres sangat prihatin atas laporan mengenai pos-pos permukiman ilegal baru Israel di Tepi Barat yang diduduki, serta mendesak Israel agar menahan diri untuk tidak mengambil langkah-langkah lebih lanjut terkait hal itu dan bertindak sesuai resolusi PBB yang relevan.
Di Gaza, UN OCHA mengatakan para mitranya melaporkan aktivitas militer Israel di area-area yang terletak di sebelah barat dari apa yang disebut sebagai Garis Kuning.
Menurut laporan awal setempat, serangan udara Israel pada Selasa (18/8) menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai beberapa lainnya di pelabuhan laut Gaza City.
"Insiden semacam itu jelas membahayakan warga sipil dan akan membatasi kemampuan mereka untuk mencari keselamatan, perawatan medis dan bantuan kemanusiaan," tutur UN OCHA.
Penerapan jam malam tersebut membatasi akses warga Palestina di Tepi Barat terhadap kebutuhan sehari-hari, kata badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Operasi ini menimbulkan dampak kemanusiaan langsung karena masyarakat tidak dapat mengisi kembali pasokan mereka, mengakses layanan esensial, atau sekadar pergi ke tempat kerja mereka," ungkap Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA).
UN OCHA mengatakan operasi yang dilancarkan di Adh Dhahiriya, Kegubernuran Hebron, sekitar 30 km di selatan Yerusalem, tersebut melibatkan sejumlah penembak jitu yang ditempatkan di atap-atap bangunan dan memblokade jalan dengan gundukan tanah.
Para mitra memperkirakan sekitar 40.000 orang, termasuk anak-anak, tidak diizinkan meninggalkan rumah mereka.
Dalam pembaruan berita hariannya, UN OCHA menyebutkan bahwa mitra-mitranya melaporkan sekitar tujuh rumah warga Palestina juga digunakan sebagai pusat interogasi, setelah pasukan Israel mengurung sejumlah keluarga di dalam satu ruangan.
Selain itu, beberapa penangkapan juga dilaporkan terjadi.
"Rumah-rumah dan keluarga-keluarga harus dilindungi, dan setiap operasi keamanan harus dilakukan dengan cara yang menghormati hukum internasional, termasuk perlindungan dan martabat warga sipil," kata kantor PBB tersebut.
"Kami dan para mitra kami terus memberikan dukungan vital bagi masyarakat di Tepi Barat," lanjut UN OCHA.
Stephane Dujarric, juru bicara utama Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres, dalam sebuah taklimat pers rutin pada Rabu (19/8) menyampaikan bahwa Guterres sangat prihatin atas laporan mengenai pos-pos permukiman ilegal baru Israel di Tepi Barat yang diduduki, serta mendesak Israel agar menahan diri untuk tidak mengambil langkah-langkah lebih lanjut terkait hal itu dan bertindak sesuai resolusi PBB yang relevan.
Di Gaza, UN OCHA mengatakan para mitranya melaporkan aktivitas militer Israel di area-area yang terletak di sebelah barat dari apa yang disebut sebagai Garis Kuning.
Menurut laporan awal setempat, serangan udara Israel pada Selasa (18/8) menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai beberapa lainnya di pelabuhan laut Gaza City.
"Insiden semacam itu jelas membahayakan warga sipil dan akan membatasi kemampuan mereka untuk mencari keselamatan, perawatan medis dan bantuan kemanusiaan," tutur UN OCHA.





