REPUBLIKA.CO.ID, Ada satu kebiasaan yang belakangan semakin sering saya perhatikan dan itu juga terjadi pada saya. Ketika orang-orang seusia saya berbicara dengan teman yang berasal dari daerah yang sama, bahasa daerah biasanya mengalir begitu saja, lancar sekali. Tetapi ketika berbicara dengan anak-anak mereka, bahasanya tiba-tiba berubah menjadi bahasa Indonesia.
Orang tuanya berbicara bahasa Jawa, Sunda, Minang, Bugis, Madura, atau bahasa daerah lainnya. Mereka bercanda dan bahkan mungkin bertengkar dalam bahasa daerah. Tetapi kepada anak-anaknya, mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia.
Baca Juga
Mahasiswa Prodi Sains Data UNM Tembus Forum Internasional ICITRI 2026, Bawa Riset Bahasa Perbatasan
Catat! Bahasa Inggris akan Jadi Mata Pelajaran Wajib SD pada 2027
Bahasa Baru Transformasi: Melihat Pembangunan Ketika Hasil Terbesarnya Belum Terlihat
Saya menduga banyak dari kita pernah menemukan situasi seperti ini. Bahkan mungkin terjadi di keluarga kita sendiri.
Awalnya saya menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Indonesia semakin urban. Perkawinan antardaerah semakin banyak. Mobilitas penduduk semakin tinggi. Anak-anak juga tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan digital yang sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sampai saya melihat data penggunaan bahasa daerah tahun 2025 yang dirilis bulan lalu oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Secara nasional, sebenarnya angkanya masih cukup menggembirakan. Sebanyak 73,82 persen penduduk Indonesia berumur lima tahun ke atas masih menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dengan keluarga dan/atau masyarakat. Artinya tiga dari empat orang Indonesia masih menggunakan bahasa daerah.
Penutur bahasa daerah dalam kelompok usia berdasarkan data BPS. - (Hasanuddin Ali)
Bahasa Ikut Menua
Ada pola yang sangat jelas bahwa semakin muda seseorang, semakin rendah penggunaan bahasa daerahnya. Mari kita lihat angka-angkanya.
Pada penduduk berusia 75 tahun ke atas, penggunaan bahasa daerah mencapai 86,56 persen. Pada kelompok 65–69 tahun masih 83,10 persen. Kelompok 55–59 tahun sebesar 79,44 persen, sementara kelompok 45–49 tahun berada pada 76,45 persen.
Ketika bergerak menuju generasi muda, angkanya terus turun. Kelompok usia 25–29 tahun berada pada 73,58 persen. Usia 20–24 tahun menjadi 72,19 persen dan remaja 15–19 tahun tinggal 69,50 persen.
Penurunan paling menarik justru terjadi pada anak-anak. Pada kelompok usia 10–14 tahun penggunaan bahasa daerah hanya 66,22 persen, sedangkan anak usia 5–9 tahun tinggal 60,93 persen.
Artinya, terdapat jarak sekitar 25,6 poin persentase antara kelompok penduduk berusia 75 tahun ke atas dengan anak usia 5–9 tahun.
Pola tersebut juga hampir membentuk tangga yang konsisten, semakin muda kelompok umur, semakin rendah penggunaan bahasa daerah. Kita sedang melihat indikasi terjadinya pergeseran bahasa (language shift) antargenerasi. Bahasa daerah masih sangat kuat pada generasi tua, tetapi kemampuan masyarakat untuk mentransmisikannya kepada generasi berikutnya tampaknya mulai melemah.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.