SURABAYA, KOMPAS — Sejumlah perguruan tinggi di Surabaya, Jawa Timur, menggalang dana, memberikan relaksasi akademik dan biaya kuliah, serta mengirim tim untuk membantu penanganan korban gempa bumi yang menyebabkan kerusakan parah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Universitas Airlangga (Unair) telah memberangkatkan tim bantuan medis. Tim bertugas mengidentifikasi kondisi lapangan, memetakan kebutuhan medis, dan membantu penanganan korban. Tim terdiri dari tiga peserta pendidikan dokter spesialis (PPDS), satu dokter senior spesialis anestesi dan ortopedi, sejumlah perawat, serta seorang PPDS asal Flores.
”Kami berbelasungkawa atas gempa bumi di NTT dan berharap pemberangkatan tim bantuan medis dapat memberi manfaat optimal bagi penanganan korban di lokasi,” ujar Rektor Unair Muhammad Madyan, Kamis (20/8/2026).
Madyan melanjutkan, Unair bertanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat, termasuk membantu penanganan kedaruratan dan kebencanaan. Peran pengabdian kepada masyarakat dalam Tridarma Perguruan Tinggi tidak boleh dilupakan oleh sivitas akademika.
”Selamat bertugas bagi tim bantuan medis, jaga nama baik Unair, dan berikan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat,” katanya.
Sebelum berangkat ke Flores, Koordinator Tim Bantuan Medis Garda Ksatria Airlangga Teddy Wardhana mengatakan, tim akan menuju rumah sakit umum yang membutuhkan dukungan penanganan korban gempa bumi.
”Jumlah dokter bedah dan anestesi di sana (Flores) tidak banyak sehingga prioritas kami ialah korban-korban yang memerlukan penanganan segera,” ujarnya. Teddy juga merupakan Koordinator Program Studi Ortopedi dan Traumatologi Unair.
Tim membawa perlengkapan operasi, anestesi, dan peralatan pendukung sehingga dapat bekerja dengan cepat dan mandiri. Tim juga akan berkoordinasi dengan otoritas kesehatan daerah untuk mendata kebutuhan prioritas penanganan korban.
Tidak menutup kemungkinan, jika diperlukan, Unair akan mengirim tim medis berikutnya untuk pendampingan psikologis, psikososial, atau rehabilitasi.
Sementara Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggalang donasi melalui rekening BNI 1781945887 atas nama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Donasi dibuka hingga 31 Agustus 2026. Selain itu, Untag menghimpun sumbangan dari ikatan alumni dan memberikan relaksasi bagi mahasiswa terdampak gempa yang berkuliah di kampus tersebut.
Menurut Rektor Untag Surabaya Harjo Seputro, terdapat 108 mahasiswa asal NTT yang berkuliah di Kampus Merah Putih itu. Sebanyak 58 di antaranya terdampak langsung gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026). Hingga saat ini, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tercatat 3.422 gempa susulan mengguncang NTT. ”Kami berikan relaksasi akademik dan biaya kuliah,” ujar Harjo.
Mahasiswa dapat mengambil kartu rencana studi tanpa membayar terlebih dahulu hingga akhir Oktober 2026. Mahasiswa yang harus pulang ke NTT untuk mendampingi keluarga terdampak juga diberikan fleksibilitas perkuliahan secara daring melalui learning management system (LMS) Untag Surabaya.
Untag Surabaya juga menyiapkan tim psikologi untuk dikirim ke NTT, terutama untuk mendampingi mahasiswa dan keluarga yang terdampak gempa. Dengan langkah tersebut, kampus memastikan mahasiswa yang menjadi korban gempa tetap memperoleh hak pendidikannya sekaligus mendapatkan dukungan dalam menghadapi dampak bencana.
Sementara itu, Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) membebaskan biaya kuliah bagi delapan mahasiswa terdampak gempa bumi. Kedelapan mahasiswa itu masih berada di NTT dan diberi keleluasaan untuk mendampingi keluarga selama masa penanganan dan rehabilitasi.
”Kami juga memantau kondisi mereka yang sebagian mendapat beasiswa dan membantu dalam pengurusan laporan administrasi beasiswa,” ujar Kepala Unit Komunikasi Publik UKDC Gerardus Philmariro saat dihubungi di Surabaya.
Dari delapan mahasiswa tersebut, satu orang mendapat beasiswa dari pemerintah, satu orang menerima beasiswa dari Yayasan Darma Cendika, dan satu orang mendapat beasiswa dari mitra perusahaan.
Adapun kegiatan perkuliahan di UKDC akan dimulai pada September 2026. Mahasiswa asal NTT diperkenankan tidak mengikuti perkuliahan secara langsung selama masa penanganan dan rehabilitasi. Kampus juga masih mendata mahasiswa baru asal NTT untuk penerapan kebijakan relaksasi.
”Untuk mahasiswa baru, karena masih masa pendaftaran, kami masih mendata. Selain itu, kami menggalang dana yang terhimpun dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (Aptik),” kata Philmariro.
Wakil Rektor I Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Lanny Hartanti menyatakan, kampus memberikan dispensasi ketidakhadiran kepada mahasiswa asal NTT yang terdampak gempa bumi.
Bekerja sama dengan Caritas Indonesia dan Aptik, kampus juga menggalang dana untuk disalurkan kepada keluarga terdampak. Selain itu, UKWMS membuka layanan konseling dan pemulihan psikologis secara daring dan cuma-cuma bagi warga NTT yang terdampak gempa bumi.





