Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai dunia saat ini tengah memasuki masa transisi geopolitik besar. Era pasca-Perang Dingin disebut telah berakhir, sementara tatanan internasional baru yang stabil belum sepenuhnya terbentuk.
Hal itu disampaikan SBY saat menjadi keynote speaker dalam The 5th Biennial International Conference on International Relations (ICON-IR) yang diselenggarakan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kamis (20/8).
Dalam kesempatan tersebut, SBY menyampaikan pidatonya melalui pesan video karena tidak dapat hadir langsung di Bandung. Ia mengatakan harus menjalani pemeriksaan kesehatan rutin di Amerika Serikat.
Menurut SBY, dunia saat ini semakin multipolar, tetapi kondisi tersebut belum tentu membuat sistem internasional menjadi lebih multilateral.
Multipolar adalah sistem kekuasaan global saat ada banyak negara atau aliansi besar yang memiliki kekuatan setara atau tidak ada satu atau dua negara saja yang mendominasi.
"Kita sedang hidup dalam masa transisi geopolitik yang besar. Era pasca-Perang Dingin telah berakhir, tetapi tatanan internasional baru yang stabil belum juga terbentuk," kata SBY.
Ia mengakui politik kekuasaan atau power politics tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan. Setiap negara akan tetap berupaya melindungi kedaulatan, keamanan, kesejahteraan, serta kepentingan nasionalnya.
Namun, SBY menekankan persoalan utamanya bukan sekadar bagaimana negara menggunakan kekuasaan, melainkan apakah kekuasaan tersebut dijalankan dengan tanggung jawab dan pengendalian diri.
"Seorang pemimpin yang kuat harus memahami kapan harus menggunakan kekuasaan, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus membuka ruang untuk kompromi," ujarnya.
Menurutnya, negara-negara dengan kekuatan besar memiliki pengaruh, sumber daya, dan ruang bertindak yang lebih luas. Karena itu, mereka juga memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap perdamaian dan stabilitas dunia.
"Dunia tidak menuntut negara-negara besar untuk meninggalkan kepentingan mereka, tetapi dunia berhak penuh untuk berharap bahwa mereka mengejar kepentingan tersebut tanpa merusak keamanan dan martabat pihak lain," tutur SBY.
Ia pun mengingatkan bahwa masa depan tatanan internasional tidak boleh hanya ditentukan oleh kekuatan. Menurut SBY, tanggung jawab, solidaritas, kearifan, dan kemanusiaan harus menjadi dasar dalam membangun hubungan antarnegara.





