Pasar Djadoel Grissee Kembali Digelar, 20 Stan Sajikan Kuliner Tempo Dulu Khas Gresik

beritajatim.com
1 jam lalu
Cover Berita

Gresik (beritajatim.com) – Suasana kuliner tempo dulu kembali hadir di Gresik melalui Pasar Djadoel Grissee yang digelar di Gressmall. Kegiatan ini menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan beragam makanan tradisional khas Gresik sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.

General Manager Gressmall, Eriq Pramono Bangun, mengatakan Pasar Djadoel Grissee tahun ini merupakan pelaksanaan yang kelima. Sejumlah menu baru khas Gresik turut diperkenalkan kepada para pengunjung.

Menurut Eriq, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan kuliner tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong perkembangan UMKM. Banyaknya tenant makanan yang terlibat memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya kepada pengunjung pusat perbelanjaan.

“Banyak menu baru khas Gresik yang kami hadirkan. Ini juga menjadi upaya untuk memajukan UMKM dan ikut memberikan dampak terhadap kesejahteraan pelaku usaha,” katanya, Kamis (20/8/2026).

Pasar Djadoel Grissee berlangsung selama empat hari dan rutin digelar setiap Agustus. Konsep kuliner lawas menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan beragam makanan tradisional yang kini tidak selalu mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 20 stan ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Pengunjung juga diajak merasakan suasana berbeda melalui sistem transaksi menggunakan koin khusus, yakni koin Gold senilai Rp10 ribu dan koin Silver senilai Rp5 ribu.

Ketua DPRD Gresik, M. Syahrul Munir, mengapresiasi penyelenggaraan Pasar Djadoel Grissee. Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan penjualan sekaligus memperluas pasar.

Ia juga mengapresiasi Gressmall yang telah memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk tampil dan memperkenalkan produknya kepada masyarakat.

“Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa membantu pelaku usaha, termasuk meningkatkan omzet mereka,” ujarnya.

Syahrul berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat ikut memberikan pendampingan terhadap berbagai kegiatan yang mendorong pertumbuhan UMKM. Menurutnya, pemerintah setidaknya dapat berperan sebagai pemantik agar kegiatan serupa terus berkembang dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Pasar Djadoel Grissee pun tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Kehadiran kuliner tradisional di ruang publik modern menjadi upaya mempertemukan produk UMKM dengan pasar yang lebih luas, sekaligus menjaga agar makanan khas dan jajanan tempo dulu tetap dikenal masyarakat.

Sementara itu, salah satu pengunjung Pasar Djadoel Grissee, Adi Agus Santoso (56), warga Kebomas, Gresik, menuturkan banyak makanan khas tradisional ala Gresik yang disajikan sehingga suasananya mengingatkan pada zaman dahulu.

“Ada banyak varian makanan tradisional yang dijual, mulai dari martabak usus, nasi krawu, bubur roomo, bongko kopyor, dan lain-lain. Harganya pun terjangkau,” pungkasnya. [dny/but]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua PWNU Aceh: Gus Rozin Punya Pengalaman Teruji, Siap Pimpin PBNU
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Kesaksian Warga Saat Gempa Mengguncang NTT: Kalau 20 Detik, Pasti Satu Flores Rata
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Gempa Susulan M5.6 Manggarai Timur NTT Pagi Ini, Warga Kocar-Kacir Selamatkan Diri
• 6 jam laludisway.id
thumb
Rekap Hasil Kejuaraan Dunia BWF 2026: 8 Wakil Indonesia Lolos ke 16 Besar
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Bidik Efisiensi APBN Rp200 T Lewat Digitalisasi Bansos
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.