JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 12 buruh PT SMT melakukan aksi mogok kerja dengan mendirikan tenda di Kampung Bandan, Pademangan, Jakarta Utara, sejak Senin (13/7/2026).
Hingga Kamis (20/8/2026), para buruh telah lebih dari sebulan menjalani aksi mogok kerja. Mereka tinggal di tenda tersebut dan bergantian berjaga di sekitar lokasi perusahaan.
Aksi mogok kerja itu dilakukan karena para buruh menilai terdapat sejumlah persoalan ketenagakerjaan.
Persoalan tersebut antara lain pemutusan hubungan kerja (PHK) yang disebut dilakukan secara sepihak, status dan kontrak kerja, upah yang disebut berada di bawah ketentuan, hingga dugaan persoalan pembayaran BPJS.
Baca juga: Kebakaran Padam, KCI Pastikan Jalur Stasiun Kampung Bandan Kembali Aman Dilintasi
Salah satu buruh yang mengikuti aksi, Cipta Saputra, mengatakan persoalan bermula ketika salah satu anggota serikat buruh menerima surat PHK saat sedang bekerja.
Menurut Cipta, ketika para buruh meminta penjelasan mengenai PHK tersebut, pihak perusahaan dan perusahaan alih daya yang disebut MAS justru saling melempar tanggung jawab.
"Tidak ada keputusan jelas, tidak ada informasi jelas. Dilempar karena keputusan SMT, SMT ditanya katanya keputusan MAS. Ini simpang siur pergerakan ini, kita bingung," jelas Cipta saat ditemui Kompas.com, Kamis (20/8/2026).
Persoalan kemudian berlanjut ketika Cipta dan sejumlah buruh lainnya juga menerima surat PHK pada Juni dan Juli 2026.
Baca juga: Kebakaran di Kampung Bandan Padam, KRL Tanjung Priok-Jakarta Kota Kembali Normal
Menurut dia, alasan yang disampaikan perusahaan berkaitan dengan peremajaan sopir.
Para buruh kemudian menempuh sejumlah upaya untuk menyelesaikan persoalan tersebut, termasuk melalui perundingan bipartit dan mediasi di sejumlah instansi.
Namun, menurut Cipta, berbagai upaya tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
"Tuntutan (para buruh) enggak harus dipenuhi saat itu juga, sambil bisa berjalan. Kenapa lama? Balik lagi, perusahaan tidak pernah ada yang menemui kita," kata Cipta.
Bertahan di TendaSelama menjalani aksi mogok kerja, para buruh harus menjalani aktivitas sehari-hari dengan fasilitas seadanya.
Perwakilan DPP Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia, Daffa, mengatakan para buruh memasak sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan.
Baca juga: Kebakaran Dekat Stasiun Kampung Bandan, KRL Tanjung Priok-Jakarta Kota Sempat Terganggu
"Kalau untuk makan, kita masak sendiri. Bahan-bahan baku pertama dari uang kas yang memang sudah kita siapkan sebelum kita masuk organisasi," ujar dia dalam kesempatan yang sama, Kamis.





