BEKASI, KOMPAS.com – Suasana di halaman SDN Karangindah 01, Desa Karangindah, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Kamis (20/8/2026), tampak seperti sekolah pada umumnya.
Sejumlah siswa mengenakan seragam merah putih dan olahraga bermain di halaman sekolah. Sebagian lainnya duduk dan berbincang bersama teman-temannya.
Di dalam kelas, kegiatan belajar mengajar juga tetap berlangsung. Siswa duduk di bangku masing-masing, mengerjakan tugas, dan mengikuti pembelajaran yang diberikan guru.
Baca juga: Kenapa Kali Bekasi Kembali Menghitam dan Berbusa Usai Hujan?
Namun, di balik aktivitas tersebut, terdapat bagian bangunan sekolah yang kondisinya membutuhkan perhatian.
Dari enam ruang belajar yang digunakan siswa kelas 1 hingga kelas 6, ruang kelas 6 menjadi salah satu yang terlihat mengalami kerusakan.
Bagian dinding ruang kelas tampak retak dan mengelupas.
Sejumlah bagian lantai juga tidak rata, bahkan terdapat lantai yang pecah dan menganga. Sementara itu, pada bagian belakang bangunan terlihat plafon yang sudah keropos.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan semangat siswa untuk mengikuti pembelajaran.
Plt Kepala SDN Karangindah 01 Irma Nuryanti mengatakan, selama enam bulan bertugas di sekolah tersebut, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan kondusif.
"Alhamdulillah keadaan pembelajaran tetap kondusif, tidak ada sesuatu yang mengganjal. Walaupun memang ada sedikit kerusakan," ujar Irma saat ditemui Kompas.com di lokasi.
Baca juga: Karyawan Kukusan Desa di Jakbar Dilaporkan, Diduga Bawa Kabur Motor, HP, dan Uang Operasional
Menurut Irma, para guru berupaya menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman bagi siswa meski sejumlah bagian bangunan membutuhkan perbaikan.
"Sehingga tercipta suasana pendidikan yang benar-benar nyaman, aman untuk siswa yang belajar," katanya.
Irma mengatakan, kerusakan pada lantai ruang kelas 6 dan bagian plafon sudah terjadi sebelum dirinya bertugas di sekolah tersebut.
Ia menduga kondisi tanah di sekitar sekolah yang labil turut memengaruhi bangunan.
"Di sini tanahnya labil. Kalau musim kemarau panjang, tanah itu retak dan cepat amblas. Jadi tembok-tembok itu retak karena faktor situasi kondisi cuaca di sini," kata Irma.
Meski kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, pihak sekolah tetap memantau bagian bangunan yang rusak, terutama ketika hujan turun.
Saat hujan deras, siswa dapat dipulangkan lebih cepat untuk mengantisipasi risiko terhadap keselamatan mereka.
"Di sini alhamdulillah baik-baik saja. Ketika hujan, nanti anak-anak akan dipulangkan lebih cepat. Jadi tidak dibiarkan untuk keamanan mereka," kata Irma.
Baca juga: Motor Baru Mulyadi untuk Menjemput Rezeki Usai Dirusak Pengemudi Alphard
Menurut dia, siswa masih dapat belajar dengan nyaman ketika cuaca normal. Namun, kondisi bangunan menjadi perhatian lebih ketika hujan turun.





