Sesar Opak Kembali Bergerak, Gempa Dangkal Guncang DIY

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

BANTUL, KOMPAS – Gempa dengan magnitudo 3,5 yang diakibatkan pergerakan Sesar Opak terjadi di wilayah DI Yogyakarta, Kamis (20/8/2026) sore. Guncangan gempa itu pun dirasakan banyak orang. Sejauh ini belum ada laporan dampak akibat gempa yang berlangsung sekitar dua detik tersebut.

Kepala Stasiun Geofisika Sleman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhianto Septiadhi dalam keterangannya, memaparkan, gempa terjadi pada pukul 17.20 WIB. Episenter gempa bumi berlokasi di darat pada jarak 11 kilometer arah timur laut Bantul, DIY, dengan kedalaman 21 km.

“Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Opak,” kata Ardhianto.

Berdasarkan catatan Kompas, Sesar Opak adalah patahan bumi yang sebagian jalurnya mengikuti alur Kali Opak yang melintasi wilayah Bantul dan Sleman di DIY. Panjang jalur patahan itu sekitar 45 km. Sesar ini pernah memicu gempa besar pada 27 Mei 2006 yang menewaskan 6.000 jiwa dan merusak ratusan ribu bangunan.

Ardhianto menjelaskan, selain di Bantul yang menjadi lokasi pusat gempa, getaran juga dirasakan di Kota Yogyakarta dengan skala III MMI. Skala tersebut berarti getaran dirasakan seperti terdapat truk bermuatan melintas.

Selain itu, gempa juga dirasakan dengan skala II MMI (getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang) di Kulon Progo, Sleman, Klaten, Surakarta, dan Magelang. Hingga saat ini, belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.

Baca JugaSesar Opak dan Ingatan pada Bahaya Gempa di Yogyakarta

Ardhianto menambahkan, hingga pukul 17.39 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan belum ada aktivitas gempa bumi susulan (aftershock). “Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ucapnya.

Ardhianto juga mengimbau warga agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan gempa. “Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah,” ujarnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, sejauh ini belum ada informasi mengenai dampak kerusakan atau korban akibat gempa tersebut. BPBD Bantul akan terus memperbaharui informasi.

Sementara itu, melalui keterangan tertulis, Manager Humas KAI Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih memastikan semua perjalanan kereta api (KA) dalam keadaan selamat dan aman pascagempa. Demi keselamatan, seluruh perjalanan KA di wilayah Daop 6 Yogyakarta berhenti luar biasa (BLB) sementara untuk pemeriksaan kondisi prasarana dan sarana pascagempa.

Lumayan agak kencang juga tadi guncangannya sekitar dua detik.

Feni menjelaskan, tim lapangan KAI Daop 6 pun melakukan pemeriksaan prasarana dan sarana secara menyeluruh. Pemeriksaan itu meliputi jembatan, jalur rel dan prasarana pendukung lainnya serta kondisi rangkaian KA.

“Setelah hasil pemeriksaan oleh tim lapangan menyatakan semua lintas dan jalur KA aman, seluruh kereta api telah melanjutkan perjalanannya kembali,” ucap Feni.

Total terdapat 20 KA yang melakukan BLB di wilayah Daop 6 Yogyakarta dengan lama waktu bervariasi antara paling singkat 10 menit hingga paling lama 25 menit. Pada pukul 17.42 WIB, seluruh lintas dinyatakan aman dan seluruh KA yang BLB dapat melanjutkan perjalanannya.

“KAI Daop 6 Yogyakarta menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan para penumpang yang terdampak dan berterima kasih banyak atas kesabaran para pelanggan atas kondisi tersebut. Pemeriksaan prasarana dan sarana pascagempa merupakan prosedur yang wajib dilakukan oleh KAI untuk memastikan aspek keselamatan tetap terjaga,” kata Feni.

Baca JugaJejak Dua Dekade ”Kiamat Kecil” di Yogyakarta

Sementara itu, pakar teknik geologi sekaligus peneliti gempa Universitas Gadjah Mada (UGM) Gayatri Indah Marliyani, menyatakan, sumber gempa pada Kamis sore memang berasal dari Sesar Opak. Gayatri pun sempat merasakan getaran gempa tersebut saat berada di kampus UGM di Sleman. “Lumayan agak kencang juga tadi guncangannya sekitar dua detik,” ujarnya.

Meski begitu, Gayatri menyebut fenomena itu sebagai pergerakan normal Sesar Opak. “Sebenarnya Sesar Opak, kan, memang selalu bergerak. Cuma ini kebetulan agak kencang saja, jadi terasa,” kata dia.

Pergerakan Sesar Opak dikatakan Gayatri terjadi hampir setiap bulan. Hanya saja, pergerakan itu bermagnitudo kecil (umumnya di bawah M 2) dan tidak dirasakan orang.

Lebih jauh, Gayatri menjelaskan, gempa bermagnitudo 3,5 normalnya tidak akan terasa oleh manusia jika terjadi di zona subduksi. Zona subduksi adalah pertemuan dua lempeng tektonik yang berada jauh di kedalaman bumi.

Namun, karena gempa terjadi di daratan dengan kedalaman yang termasuk dangkal, guncangannya jadi sangat dirasakan masyarakat. “Apalagi, gempa terjadi dekat dengan wilayah yang banyak dihuni penduduk dan pada jam aktivitas warga,” ucapnya.

Baca JugaMerawat Siaga Setelah 20 Tahun Gempa Berlalu...


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Tampang Pria yang Pukuli Pengendara Motor di Lenteng Agung, Sebut Tak Ingat Perbuatannya karena Mabuk
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
ESDM Uji Coba CNG ke UMKM Lemigas Sebelum Digunakan Masyarakat
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Jalan Rusak Akibat Truk Odol Habiskan Anggaran Rp 40 Triliun, AHY Beri Atensi
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Menkes Ungkap 2 RS Lapangan di NTT Sudah Beroperasi, Tangani Pasien Patah Tulang
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Ruben Onsu Tersangka Kasus Dugaan Penipuan Investasi
• 2 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.