YERUSALEM, KOMPAS.TV - Lebih dari dua tahun setelah Hind Rajab, bocah Palestina berusia 5 tahun, tewas dalam perang Gaza, militer Israel akhirnya mengumumkan penyelidikan kriminal terhadap tindakan pasukannya dalam kasus tersebut, Rabu (19/8/2026).
Hind tewas setelah terjebak di dalam mobil bersama anggota keluarganya yang telah ditembaki ketika mereka berusaha melarikan diri dari operasi militer Israel di Gaza City pada Februari 2024.
Militer Israel mengakui pasukannya menembaki mobil yang ditumpangi Hind dan keluarganya.
Baca Juga: Netanyahu Tolak Rencana Trump, Kembali Tegaskan Israel Tak Akan Tarik Pasukan dari Gaza
Tak hanya itu, pasukan Israel juga menembaki ambulans yang dikirim untuk menyelamatkan Hind.
Penyelidikan tersebut menjadi salah satu dari sejumlah kasus yang dipilih militer Israel setelah meninjau sekitar 150 insiden terkait tindakan pasukannya di Gaza.
Detik-detik Terakhir Hind RajabHind berada di dalam mobil bersama lima anggota keluarganya ketika mereka berusaha meninggalkan Gaza City. Di tengah perjalanan, mobil mereka dihujani tembakan.
Sepupu Hind yang berusia 15 tahun, Layan Hamada, sempat menghubungi pusat layanan paramedis Bulan Sabit Merah Palestina.
Dalam percakapan tersebut, Layan melaporkan anggota keluarganya telah ditembak. Tak lama kemudian, suara tembakan kembali terdengar dan Layan berhenti merespons.
Baca Juga: Netanyahu: Tidak Akan Ada Penarikan Tentara Israel dari Gaza sampai Hamas Benar-Benar Dilucuti
Hind kemudian menjadi satu-satunya anggota keluarga yang masih hidup di dalam mobil. Ia bertahan dan meminta pertolongan melalui telepon.
Petugas Bulan Sabit Merah Palestina kemudian mengirim ambulans untuk menyelamatkannya.
Petugas juga terus berkomunikasi dengan Hind hingga kontak akhirnya terputus. Namun, Hind dan lima anggota keluarganya ditemukan tewas 12 hari kemudian.
Dua paramedis yang dikirim untuk menyelamatkannya juga ditemukan tewas.
Israel Akui Tembaki Mobil dan AmbulansDalam pengumuman terbarunya, militer Israel mengakui pasukannya melepaskan tembakan ke arah mobil yang membawa Hind dan keluarganya.
Baca Juga: Kemlu RI Kecam Keras Serangan Israel, Desak Hentikan Penghambatan Peace Plan Gaza
Militer juga mengakui pasukannya menembaki ambulans yang datang untuk menyelamatkan Hind.
Kasus tersebut kini akan masuk ke penyelidikan kriminal. Namun, bagi keluarga Hind, langkah tersebut belum cukup.
Nenek Hind, yang juga bernama Hind Rajab, mengatakan penyelidikan internasional diperlukan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dan memastikan pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban.
"Kami menyerukan keadilan, bukan hanya untuk Hind, tetapi untuk semua anak Gaza," ujarnya dikutip dari Associated Press.
Bulan Sabit Merah Palestina juga menilai mekanisme Israel belum memadai dan mendukung adanya penyelidikan internasional.
Kasus Hind bukan satu-satunya yang kini masuk penyelidikan kriminal.
Militer Israel juga akan menyelidiki kematian 15 paramedis dan petugas tanggap darurat Palestina di Rafah pada Maret 2025. Para petugas tersebut sedang menuju lokasi untuk mengevakuasi korban setelah serangan Israel.
Baca Juga: Warga Palestina Tak Percaya Israel Akan Angkat Kaki dari Gaza jika Hamas Dilucuti
Sebuah ambulans ditembaki pasukan Israel. Kendaraan darurat lain yang datang untuk mencari ambulans pertama juga menjadi sasaran tembakan.
Sebanyak 15 petugas Bulan Sabit Merah Palestina dan Pertahanan Sipil Gaza tewas. Setelah penembakan, pasukan Israel menggunakan buldoser untuk mengubur kendaraan dan jenazah para petugas dalam satu kuburan massal.
Tim PBB dan pekerja penyelamat baru dapat mencapai lokasi sekitar sepekan kemudian untuk menggali dan mengeluarkan jenazah.
Militer Israel sebelumnya mengatakan kendaraan-kendaraan tersebut bergerak mencurigakan karena tidak menggunakan lampu atau tanda darurat.
Namun, klaim tersebut berubah setelah rekaman dari lokasi menunjukkan kendaraan bergerak perlahan dengan lampu darurat menyala dan logo organisasi kemanusiaan terlihat.
Seorang wakil komandan kemudian diperintahkan meninggalkan jabatannya terkait insiden tersebut.
Militer Israel mengatakan telah meninjau sekitar 150 insiden terkait tindakan pasukannya di Gaza dan mengambil keputusan terhadap lima kasus.
Baca Juga: Menteri Ekstremis Israel Ikut Pawai Tuntut Pembangunan Kembali Permukiman Ilegal di Gaza
Namun, kelompok hak asasi manusia mempertanyakan apakah penyelidikan internal tersebut akan benar-benar berujung pada hukuman.
Tal Steiner dari kelompok HAM Israel HaMoked mengatakan dakwaan terhadap tentara Israel dalam kasus dugaan pelanggaran terhadap warga Palestina sangat jarang terjadi.
“Sangat jarang tentara yang dituduh melukai warga Palestina sampai ke pengadilan... dan bahkan lebih jarang lagi mereka mendapatkan hukuman berat,” kata Steiner.
Menurut analisis kelompok HAM Israel Yesh Din, hanya 0,17 persen dari seluruh penyelidikan militer yang dilakukan selama tiga operasi Gaza pada 2014 hingga 2022 yang berujung pada penuntutan.
Artinya, pembukaan penyelidikan belum otomatis berarti pihak yang bertanggung jawab akan didakwa atau dihukum.
Hasil penyelidikan nantinya akan diserahkan kepada jaksa militer Israel.
Jaksa dapat memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan, mengajukan dakwaan terhadap tentara yang terlibat, atau menghentikan perkara.
Di tengah keputusan tersebut, militer Israel justru menolak membuka penyelidikan kriminal terhadap kematian tujuh pekerja kemanusiaan World Central Kitchen (WCK).
Baca Juga: Israel Terus Serang Gaza di Tengah Gencatan Senjata, Belasan Orang Terbunuh dalam Dua Hari
Ketujuh pekerja tewas dalam serangan udara Israel pada April 2024 ketika sedang berada dalam konvoi kendaraan bantuan di Gaza.
WCK sebelumnya mengatakan pergerakan konvoi telah dikoordinasikan dengan militer Israel. Kendaraan mereka juga memiliki logo organisasi yang terlihat dari udara.
Militer Israel menyatakan para pekerja tersebut keliru diidentifikasi sebagai anggota Hamas yang bersenjata.
Namun, militer menilai keputusan para komandan tidak menimbulkan dugaan yang cukup untuk dianggap sebagai tindakan kriminal.
Sebelumnya, dua perwira dicopot dari jabatannya dan tiga lainnya mendapat teguran.
Pendiri WCK José Andrés mengecam keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah yang salah. WCK juga menyerukan penyelidikan independen.
Militer Israel juga tidak membuka penyelidikan kriminal terhadap kematian empat pekerja Doctors Without Borders dalam dua insiden berbeda pada November 2023 dan Februari 2024.
Baca Juga: Ketua MPR Ahmad Muzani Serukan Setop Perang: Indonesia Berdiri Bersama Rakyat Palestina
Hind Rajab Jadi Simbol Korban GazaKematian Hind Rajab telah menjadi salah satu kasus yang mendapat perhatian luas di tengah perang Gaza.
Kisahnya bahkan diangkat menjadi film The Voice of Hind Rajab, yang meraih sejumlah penghargaan internasional dan mendapat nominasi Oscar.
Namun, bagi keluarga Hind, perhatian dunia belum berarti keadilan telah diberikan.
Penyelidikan kriminal yang kini diumumkan militer Israel menjadi langkah baru dalam kasus tersebut.
Tetapi, dengan adanya tuntutan penyelidikan internasional dan rekam jejak penuntutan yang rendah, pertanyaan mengenai pertanggungjawaban pasukan Israel masih belum terjawab.
Bagi keluarga Hind, persoalannya bukan hanya bagaimana seorang bocah berusia lima tahun tewas.
Mereka ingin mengetahui siapa yang bertanggung jawab dan memastikan kematian Hind tidak berakhir sebagai satu lagi kasus tanpa hukuman dalam perang Gaza.
Baca Juga: Indonesia Serukan Tindakan Nyata Lindungi Palestina dan Masjid Al-Aqsa dari Pelanggaran Israel
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada
Sumber : Associated press
- Hind Rajab
- Militer Israel
- Gaza
- Palestina
- Bulan Sabit Merah
- konflik Israel Palestina





