Jakarta, CNBC Indonesia - Segmen perangkat elektronik konsumen dan peralatan rumah tangga (home appliances) merupakan salah satu tulang punggung bisnis Samsung Electronics. Namun, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini harus menghadapi peta persaingan yang kian sengit, terutama dari rival senegaranya, LG Electronics.
Laporan kinerja keuangan kuartalan terbaru dari kedua korporasi memperlihatkan dinamika menarik. Meski mencatatkan nilai pendapatan (revenue) yang relatif berimbang, LG terbukti lebih efektif dalam mencetak laba bersih.
LG Kalahkan SamsungLini bisnis peralatan rumah tangga Samsung yang mencakup produk televisi hingga pendingin udara (AC), menyumbang pendapatan sebesar 14,5 triliun won atau setara Rp184 triliun pada kuartal II-2026. Kendati demikian, divisi tersebut justru harus menanggung kerugian operasional (operating loss) sebesar 10 miliar won atau setara Rp127 miliar.
- RI Bersiap Punya Pabrik Baterai Terbesar, Ini Profilnya
- Siap-Siap Pabrik Baterai EV ke-2 RI Segera Beroperasi, Ini Pemiliknya
Sebaliknya, divisi peralatan rumah tangga dan TV milik LG berhasil membukukan pendapatan 14,92 triliun won atau setara Rp189 triliun. Tak sekadar unggul tipis dari sisi omzet, LG sukses mengantongi laba operasional hingga 1,14 triliun won atau setara Rp14 triliun.
Dominasi LG atas Samsung ini bukan fenomena sesaat. Pada kuartal I-2026, divisi perangkat rumah tangga LG sudah mendulang laba bersih sekitar 1 triliun won atau setara Rp12 triliun. Sementara pada periode yang sama, Samsung hanya sanggup mengamankan laba sebesar 200 miliar won atau setara Rp2,5 triliun sebelum akhirnya berbalik rugi pada kuartal berikutnya.
Himpitan Industri dan Strategi BertahanSecara umum, kedua raksasa teknologi Korea Selatan ini tengah menghadapi tekanan makroekonomi yang berat. Normalisasi permintaan konsumen, gempuran agresif produsen asal China, hingga melambungnya harga bahan baku dan komponen semikonduktor terus menggerus marjin keuntungan. Tak hanya itu, lonjakan biaya logistik global kian memperberat beban operasional perusahaan.
Meski demikian, LG terbukti lebih berdaya tahan. Kombinasi portofolio produk segmen premium yang kuat, pengetatan struktur biaya (cost reduction), serta optimalisasi efisiensi operasional menjadi kunci sukses LG tetap membukukan profitabilitas tinggi di tengah ketidakpastian pasar.
(fab/fab)




