Napas warga Nusa Tenggara Timur (NTT) belum benar-benar lega. Hingga saat ini, bumi Flores masih terus bergoyang dengan catatan 3.752 gempa susulan. Trauma mendalam membuat puluhan ribu warga memilih tetap bertahan di tenda-tenda darurat daripada kembali ke rumah yang kini dipenuhi retakan.
Laporan terbaru dari Plt. Kapusdatin BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan hingga pukul 16.00 WIB, korban meninggal dunia tercatat mencapai 75 jiwa, sementara korban luka-luka menyentuh angka 907 orang.
“Kami sudah mencatat bahwa ada sebanyak 75 jiwa yang sudah ditemukan meninggal. Dan ini bertambah 4 jiwa, 4 korban, dari kemarin yang kami sampaikan. Jadi kemarin 71, saat ini ada tambah 4 jiwa yang meninggal ditemukan, dan itu berasal dari Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, dan satu Kabupaten Nagekeo,” ujar Berton dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis, 20 Agustus 2026.
Berton juga menyebut bahwa jumlah pengungsi bertambah signifikan. Angka pengungsi meroket dari 59.000 menjadi 92.735 jiwa. Wilayah Nagekeo, Manggarai, dan Manggarai Barat menjadi daerah dengan konsentrasi pengungsi terbanyak. Di sisi lain, kerusakan infrastruktur sebanyak 36.163 unit rumah dilaporkan rusak, mulai dari kerusakan ringan hingga hancur total.
“Rumah yang rusak, kami mencatat adanya ketambahan 7.187 unit rumah rusak menjadi 36.163 unit yang rusak, baik itu rusak berat, sedang, maupun ringan,” jelas Berton.
Kelompok Rentan Jadi Prioritas
Di tengah guncangan gempa susulan yang masih mencapai magnitudo 5 hingga 6, BNPB memfokuskan perhatian pada kelompok rentan, lansia, ibu hamil, dan anak-anak.
"Kelompok rentan seperti orang tua, anak-anak itu lebih memilih berada di pengungsian, baik itu pengungsian mandiri maupun pengungsian terpusat atau terorganisir. Jadi mereka jauh lebih aman ketika di luar," ungkap Berton.
Baca Juga :
Pascagempa NTT, Warga Nagekeo Masih Terisolasi dan Kesulitan Dapat Bantuan
Tiga Moda Penembus Keterisolasian
BNPB mengakui distribusi tenda dan logistik menghadapi kendala berat akibat lonjakan pengungsi yang tiba-tiba dan lokasi warga yang tersebar (tidak terpusat). Untuk memastikan bantuan merata, pemerintah menerapkan strategi distribusi melalui tiga jalur:
- Jalur Darat: Moda utama untuk menjangkau desa-desa yang masih bisa diakses.
- Jalur Laut: Menjangkau warga di pulau-pulau kecil di sekitar NTT.
- Jalur Udara: Mengerahkan helikopter untuk menembus wilayah pelosok yang terisolasi secara geografis.
Manajemen Krisis di Lapangan
Guna mempercepat birokrasi dan penanganan, Kepala BNPB telah menginstruksikan pejabat setingkat Eselon II untuk menetap langsung di lokasi bencana di setiap kabupaten. Langkah ini diambil agar setiap kebutuhan mendesak di lapangan bisa langsung diputuskan dan dieksekusi tanpa hambatan birokrasi yang berbelit.
Kini, doa dan bantuan terus mengalir bagi NTT. Targetnya jelas: memastikan 92 ribu lebih saudara kita di pengungsian mendapatkan makanan, layanan kesehatan, dan tempat beralas yang layak di tengah ketidakpastian alam.




