Wall Street Berbalik Turun Usai Imbal Hasil Obligasi AS Kembali Meningkat

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada perdagangan Kamis (20/8). Pelemahan terjadi karena imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury kembali naik meski Departemen Keuangan AS melakukan operasi pembelian kembali surat utang dalam skala besar.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor bahwa kenaikan biaya pinjaman dapat mengganggu reli pasar saham.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 703,84 poin atau 1,32% ke level 52.759,21. Penurunan terutama tertekan oleh saham Walmart yang anjlok 9%. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,87% menjadi 7.641,16. Nasdaq Composite juga turun 1% ke level 26.067,17.

Managing Director of Investments di EP Wealth Advisors Adam Phillips menilai, program tersebut belum cukup untuk meredakan tekanan di pasar obligasi.

"Ini bukan solusi untuk masalah yang melanda pasar obligasi. Ada kekuatan struktural yang berperan dan berada di luar kendali Departemen Keuangan maupun pemerintah," kata Phillips dikutip dari CNBC, Jumat (21/8).

Menurut dia, dampak positif dari intervensi pemerintah sebelumnya terhadap pasar obligasi cenderung hanya berlangsung dalam waktu singkat. "Anda perlu mengambil langkah yang lebih kuat jika ingin dampaknya bertahan lama," ujarnya.

Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,704%. Imbal hasil Treasury 30 tahun juga meningkat lebih dari 5 basis poin menjadi 5,248%. Imbal hasil tenor 30 tahun bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir 20 tahun pada awal pekan ini.

Kenaikan imbal hasil terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan pada Rabu (19/8) pemerintah akan setidaknya menggandakan pembelian kembali surat utang bertenor 10, 20 dan 30 tahun dalam beberapa bulan ke depan.

Sentimen negatif di pasar saham juga diperburuk oleh kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.

Presiden AS Donald Trump mengatakan melalui unggahan di Truth Social pada Rabu bahwa AS akan memulai operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun terhadap Iran.

"Ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump.

Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik hampir 3% menjadi US$ 86,83 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent sebagai acuan global naik lebih dari 2% menjadi US$ 93,78 per barel.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
SingCham Buka Peluang Baru dengan Ekspansi ke Bali
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Bareskrim Tangkap DPO Basri, Pengelola Club Planet 3 Batam di Malaysia
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kemlu Tegaskan Indonesia Belum Perlu Bantuan Asing untuk Tangani Gempa NTT
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Selain Bantu Produksi, Destry Tegaskan BI Sokong Pembiayaan Inklusif dan Berkelanjutan Bagi UMKM
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Sebanyak 3.752 Gempa Susulan Masih Terjadi di Flores NTT
• 10 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.