Mengungsi saat Bencana? Ini Barang Wajib Dibawa dan Penyakit yang Perlu Diwaspadai

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Fenomena gempa bumi kerap terjadi di sejumlah wilayah yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan mengalami gempa karena berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana. Salah satunya dengan menyiapkan tas darurat gempa yang berisi perlengkapan penting untuk kebutuhan selama proses evakuasi maupun berada di tempat pengungsian.

Selain perlengkapan darurat, masyarakat juga perlu mewaspadai sejumlah penyakit yang berpotensi muncul di tempat pengungsian akibat keterbatasan air bersih, sanitasi, kepadatan penghuni, maupun kondisi lingkungan.

Perlengkapan yang Harus Disiapkan dalam Tas Darurat

Mengutip informasi dari kanal YouTube Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, terdapat sejumlah perlengkapan yang sebaiknya tersedia dalam tas darurat untuk menghadapi kondisi bencana.

1. Speaker Portabel

Speaker portabel dapat digunakan untuk membantu menyampaikan informasi atau memberikan peringatan dalam kondisi darurat. Peralatan ini juga dapat berguna ketika komunikasi perlu dilakukan kepada banyak orang di lokasi pengungsian.

2. Kotak P3K

Kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) diperlukan untuk menangani luka ringan atau kondisi kesehatan tertentu sebelum mendapatkan pertolongan medis. Isi kotak P3K dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga.

3. Pisau Lipat

Pisau lipat dapat menjadi salah satu peralatan serbaguna yang berguna dalam situasi darurat. Namun, penggunaannya perlu dilakukan secara hati-hati untuk menghindari cedera.

4. Peluit

Peluit dapat digunakan sebagai alat pemberi sinyal atau untuk meminta pertolongan ketika seseorang berada dalam kondisi darurat, terutama ketika suara sulit terdengar atau korban berada di lokasi yang sulit dijangkau.

Baca Juga :

Pemerintah Percepat Pemulihan Pascagempa di NTT
5. Makanan Siap Santap

Makanan menjadi salah satu kebutuhan penting yang perlu disiapkan untuk mengantisipasi kondisi ketika akses terhadap makanan terhambat selama bencana.

Pilih makanan yang tahan lama, mudah dikonsumsi, dan tidak membutuhkan proses memasak yang rumit.

6. Dokumen Penting

Dokumen penting seperti identitas diri, dokumen keluarga, serta berkas kepemilikan sebaiknya disimpan dalam tempat yang aman dan mudah dibawa saat proses evakuasi.

Dokumen tersebut dapat membantu proses pendataan maupun memenuhi berbagai kebutuhan administrasi selama kondisi darurat.

7. Obat-obatan dan Perlengkapan Kesehatan

Akses terhadap layanan kesehatan dapat terbatas selama kondisi darurat. Karena itu, obat-obatan pribadi dan perlengkapan kesehatan penting untuk dimasukkan ke dalam tas darurat.

Masyarakat dapat menyiapkan obat yang memang biasa digunakan sesuai kebutuhan, seperti obat untuk demam, nyeri, atau oralit untuk membantu mencegah dehidrasi akibat diare. Obat resep rutin juga sebaiknya disiapkan dalam jumlah yang cukup.

8. Perlengkapan Mandi dan Sanitasi

Sabun, sikat gigi, pasta gigi, pembalut, tisu, hand sanitizer, dan perlengkapan kebersihan pribadi lainnya perlu disiapkan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari selama berada di pengungsian.

9. Pakaian dan Alat Tidur

Pakaian ganti diperlukan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan selama berada di tempat pengungsian, terutama ketika akses terhadap fasilitas mencuci pakaian dan air bersih masih terbatas.

Selimut atau perlengkapan tidur sederhana juga dapat disiapkan untuk menunjang kebutuhan istirahat. Perlengkapan tersebut penting disiapkan karena kondisi di tempat pengungsian dapat memiliki keterbatasan sumber daya dan fasilitas.

Baca Juga :

DKI Jakarta Kirim Bantuan Senilai Rp5,8 Miliar untuk Korban Gempa NTT
Penyakit yang Perlu Diwaspadai di Pengungsian
Ilustrasi freepik

Selain mempersiapkan kebutuhan darurat, masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit yang dapat lebih mudah menyebar di tempat pengungsian.

Kondisi pengungsian yang padat, keterbatasan air bersih dan sanitasi, serta kelelahan dapat meningkatkan risiko munculnya sejumlah gangguan kesehatan. Berikut beberapa penyakit yang perlu diwaspadai:

1. Tetanus

Bencana alam dapat menyebabkan luka akibat tertimpa puing atau benda lainnya. Luka yang terkontaminasi tanah atau kotoran dapat meningkatkan risiko tetanus yang disebabkan bakteri Clostridium tetani.

Karena itu, luka akibat bencana sebaiknya segera dibersihkan dan mendapatkan penanganan medis, terutama jika luka dalam atau terkontaminasi.

2. Diare dan Kolera

Keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air yang terkontaminasi.

Diare dapat terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Sementara itu, kolera juga merupakan penyakit yang dapat menyebar melalui air atau makanan yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae.

Menjaga kebersihan tangan, memastikan air minum aman, serta mengonsumsi makanan yang higienis menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.

3. ISPA

Kondisi tenda atau tempat pengungsian yang padat dan berdebu dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Penyakit pernapasan tertentu juga dapat menular lebih mudah ketika banyak orang berkumpul dalam satu tempat. Masyarakat dapat menggunakan masker, menjaga kebersihan tangan, serta mengurangi kontak dengan orang yang sedang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.

Baca Juga :

4.914 Rumah di Ngada Rusak Akibat Gempa
4. Penyakit Kulit

Keterbatasan air bersih dan penggunaan fasilitas bersama dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah kulit, termasuk skabies dan infeksi jamur.

Menjaga kebersihan tubuh, tidak berbagi pakaian atau barang pribadi, serta menjaga lingkungan tetap bersih dapat membantu mengurangi risiko penularan.

5. Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat menular melalui paparan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus.

Risiko penularan dapat meningkat setelah banjir apabila masyarakat bersentuhan dengan air atau lumpur yang telah tercemar. Karena itu, gunakan alas kaki dan hindari kontak langsung dengan air banjir jika memungkinkan.

(Yaumil Tianri Rahmi)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ahmad Luthfi Dorong Penguatan Integritas untuk Cegah Korupsi di Jateng
• 11 jam laludetik.com
thumb
BRI Perkenalkan Tampilan Baru Qlola by BRI, Perkuat Solusi Digital Terintegrasi bagi Ekosistem Bisnis
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
1.378 Sekolah Terdampak Gempa NTT, Kemendikdasmen Kirim 100 Tenda untuk Buka Kelas Darurat
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Dorong Pembangunan Ekosistem Emas Berstandar Internasional, Direktur Pegadaian Resmi Jadi Ketua Umum Indonesia Bullion Market Association
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Apresiasi Pameran Foto 'Prahara Pulau Emas', Wali Kota Medan: Foto Jurnalistik Menggugah Empati dan Menciptakan Harapan
• 5 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.