Grid.ID - Gempa susulan yang mengguncang Nusa Tenggara Timur masih terus terjadi. Bahkan, tercatat sudah ada ribuan gempa susulan yang mengguncang.
Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), masih diguncang gempa susulan. Sebelumnya, gempa berkekuatan 7,7 magnitudo terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu.
Dikutip dari Tribunnews pada Kamis (20/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa terdapat 3.394 gempa susulan di Flores hingga Kamis (20/8/2026). Bahkan, terdapat gempa susulan dengan kekuatan 6,2 magnitudo.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menjelaskan bahwa hal ini merupakan proses alamiah penyesuaian kerak bumi setelah terjadinya pelepasan energi dalam jumlah yang besar. Menurutnya, gempa utama terjadi saat energi potensial yang tersimpan dalam batuan melampaui batas elastisitasnya.
"Kondisi tersebut membuat batuan patah dan bergeser secara tiba-tiba. Namun, setelah patahan besar mengalami pergeseran, kondisi batuan di sekitarnya tidak langsung kembali stabil," jelasnya.
Menurutnya, bidang rekahan masih menyisakan beberapa titik tegangan atau yang disebut residual stress. Gempa susulan terjadi akibat dari bagian proses penyesuaian mekanis batuan di sekitarnya.
Ribuan gempa susulan ini muncul setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo. Hal ini merupakan bahian dari proses kerak bumi yang menata kembali distribusi tegangan setelah patannya mengalami pergeseran yang besar.
Hal ini memiliki nama Hukum Omori-Utsu. Daryono juga menjelasn bahwa frekuesi gempa susulan akan menurun. Pada hari awal terjadi gempa, mungkin akan terjadi gempa susulan dengan frekuensi yang tinggi.
Kemudian, jumlahnya akan berkurang secara bertahap. Sehingga banyaknya gempa susulan pasca gempa yang terjadi pertama kali bukanlah hal yang aneh.
"Satu atau dua gempa susulan tetap dapat memiliki magnitudo cukup besar untuk menimbulkan kerusakan, terutama pada bangunan yang telah mengalami pelemahan struktur akibat gempa utama," jelasnya.
Sedangkan, dikutip dari KOMPAS.com pada Kamis (20/8/2026), Arjan (18), seorang mahasiswa dari Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, NTT, mengkhawatirkan keluarganya. Pasalnya, seluruh keluarganya menjadi korban terdampak gempa.
Saat gempa terjadi, Arjan mengatakan bahwa ponselnya sedang mati. Sehingga, ia tak langsung mengetahui kejadian itu.
Ia baru menerima kabar dari sang ayah pada Sabtu (15/8/2026). Dirinya menerima kabar 4 jam setelah gempa terjadi.
"Bapak bilang dengan sa (saya) di sini (Desa tempat tinggal Arjan di NTT), sekitar 20-an rumah ini runtuh, sekitar 10 rumah itu retak," ujarnya.
Arjan menjelaskan bahwa rumahnya mengalami beberapa kerusakan. Kamar neneknya, pintu masuk, kamar miliknya, hingga ruang tamu mengalami kerusakan.
Sehingga, keluarga Arjan harus mengungsi. Selain karena kondisi rumah yang rusak, mereka mengantisipasi adanya gempa susulan.
"Semua di desa itu mereka berkemah (tinggal di posko bencana) di luar, di lapangan," terangnya.
Karena bencana tersebut, sang ayah meminta Arjan untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Begitupun dengan kakaknya yang berada di asrama.
Saat ini, kebutuhan Arjan dibantu oleh sepupunya yang tinggal di asrama. Ia juga tidak tega meminta uang kepada ayahnya.
"Bapak bilang jangan dulu (meminta uang) usaha untuk diri sendiri situ, sama abang (sepupu di asramanya) cari makan sendiri," kata Arjan.
Arjan mengaku ingin mengetahui kondisi keluarganya di tengah bencana besar ini. Namun, dirinya mengaku saat ini tak ingin kembali ke NTT lantaran biaya yang cukup mahal.
"Tidak ada sih (rencana untuk pulang kembali), soalnya ini biayanya mahal juga," kata Arjan. (*)
Artikel Asli




