Saham induk bursa berjangka dan bursa aset kripto, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) melonjak pada Jumat (21/8/2026), turut tersengat reli Bitcoin.
IDXChannel – Saham induk bursa berjangka dan bursa aset kripto, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) melonjak pada Jumat (21/8/2026), ikut tersengat reli Bitcoin yang pagi ini menembus level USD75 ribu.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.30 WIB, saham COIN melambung 15,91 persen ke Rp1.20 per unit hingga membentuk gap up teknikal usai menyentuh auto rejection atas (ARA) 25 persen sehari sebelumnya.
Dalam sepekan, saham COIN meningkat 50,74 persen dan dalam sebulan 41,67 persen. Namun, sejak awal 2026 (YtD), saham COIN masih minus 73,58 persen.
Sementara, harga Bitcoin menguat 2,76 persen ke USD74.978 usai sempat menembus USD75.727 pada pagi ini. Dalam sepekan, Bitcoin melesat 18,77 persen.
Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, saham COIN memiliki posisi strategis sebagai perusahaan monopoli yang memiliki eksposur langsung terhadap infrastruktur perdagangan aset kripto di Indonesia.
“Melalui anak usahanya, COIN memiliki Central Financial X (CFX) sebagai bursa aset kripto dan Kustodian Koin Indonesia (ICC) sebagai kustodian,” ujar Michael, Jumat (21/8/2026).
Dengan posisi tersebut, sumber pendapatan COIN dinilai tidak semata-mata bergantung pada kenaikan harga Bitcoin. Michael menilai, kinerja perseroan lebih banyak ditopang oleh aktivitas dan pertumbuhan ekosistem aset digital.
“Jadi, pendapatan tidak hanya bergantung pada kenaikan harga Bitcoin, tetapi terutama pada volume transaksi, jumlah pedagang berizin, produk derivatif yang diperdagangkan, serta perkembangan ekosistem aset digital nasional,” katanya.
Ia menambahkan, semakin berkembangnya pasar kripto di Indonesia, semakin besar pula peluang dampak positif terhadap kinerja COIN.
Sementara dari sisi teknikal, Michael melihat saham COIN mulai menunjukkan sinyal positif setelah berhasil menembus base di area bottom dengan support di Rp950, target Rp1.250.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia Erni Marselia Siahaan menilai prospek jangka menengah hingga panjang COIN tetap menarik, meski kinerja perseroan masih tertekan oleh pelemahan pasar kripto.
Dalam riset yang terbit pada 17 Juli 2026, Erni mencatat nilai transaksi kripto spot di Indonesia mencapai Rp76 triliun pada kuartal I-2026, turun 29 persen secara tahunan dan 36 persen secara kuartalan.
Kondisi tersebut turut menekan pendapatan COIN yang turun 18 persen secara tahunan dan 48 persen secara kuartalan menjadi Rp41 miliar.
“Pasar kripto yang bearish membebani kinerja pada kuartal I-2026,” tulis Erni dalam risetnya.
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, Erni menilai tesis investasi COIN dalam jangka menengah hingga panjang tetap utuh, ditopang tiga katalis struktural.
Pertama, struktur biaya transaksi spot yang lebih kompetitif berpotensi mendorong migrasi transaksi dari platform luar negeri ke infrastruktur Central Financial X (CFX).
Peluang ini cukup besar mengingat sekitar 75 persen total volume transaksi kripto oleh investor Indonesia saat ini masih berlangsung di luar negeri dan di luar bursa.
Kedua, pasar derivatif kripto Indonesia masih sangat terbelakang. Erni mencatat volume transaksi derivatif hanya sekitar 0,13 kali volume transaksi spot, jauh di bawah rata-rata global sekitar 4-5 kali.
“CFX memiliki posisi unik untuk menangkap peluang tersebut, dan kami melihat derivatif sebagai pendorong utama kenaikan pendapatan ke depan,” ujarnya.
Sebagai satu-satunya bursa berlisensi yang diperbolehkan menawarkan produk derivatif, CFX dinilai memiliki posisi strategis untuk menangkap kesenjangan pertumbuhan tersebut.
Ketiga, revisi UU P2SK yang disahkan pada awal Juni 2026 dinilai dapat menjadi katalis regulasi bagi COIN.
Aturan tersebut mengangkat regulasi aset kripto ke tingkat undang-undang dan diperkirakan mendorong pelaksanaan transaksi secara terpusat melalui bursa berizin.
“Perkembangan ini seharusnya menempatkan CFX sebagai pusat pembentukan harga dan arus pesanan,” kata Erni.
Di tengah prospek tersebut, Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi beli untuk saham COIN.
Namun, target harga direvisi turun menjadi Rp1.720 per saham dari sebelumnya Rp4.870, mencerminkan penurunan proyeksi laba jangka pendek akibat kinerja kuartal I 2026 yang lebih lemah dari perkiraan serta penurunan biaya transaksi spot secara bertahap sepanjang 2026.
Saham COIN telah terkoreksi tajam hingga lebih dari 70 persen secara year to date (YtD), tertekan oleh pelemahan pasar kripto, kondisi pasar saham yang lemah, serta tekanan makroekonomi.
Meski demikian, pada level saat ini, Ciptadana menilai pasar telah memperhitungkan skenario bearish berkepanjangan sehingga berpotensi mengabaikan peluang pertumbuhan volume transaksi, posisi kompetitif CFX, serta dukungan regulasi dari UU P2SK.
Risiko utama terhadap proyeksi tersebut meliputi pelemahan pasar kripto yang berlangsung lebih lama dari perkiraan, migrasi volume transaksi ke dalam negeri yang lebih lambat, serta pendapatan yang lebih rendah akibat persaingan atau rendahnya adopsi di pasar kripto spot dan derivatif. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





