HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral ke Amerika Serikat tentu bukan tawaran yang datang setiap hari. Bagi seorang akademisi muda di era 1990-an, peluang tersebut merupakan pintu emas menuju karier internasional. Namun, jalan berbeda justru dipilih oleh Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si.
Guru Besar Fisika Universitas Negeri Makassar (UNM) yang pernah menjabat Pembantu Rektor IV UNM periode 2012–2016 ini menceritakan, dirinya sempat mendapat tawaran studi doktoral di Tufts University, Amerika Serikat. Kala itu, tawaran datang langsung dari peneliti terkemuka bidang fisika material padat (solid state physics), Prof. Yaacov Shapira, lengkap dengan dukungan pendanaan dan peluang menjadi asisten pengajar.
Namun, alumnus S1 Fisika IKIP Ujung Pandang tahun 1992 ini memilih untuk tetap bertahan di tanah air dan menempuh S3 di Institut Teknologi Bandung (ITB). Keputusan itu ia ambil saat ITB tengah membangun kekuatan riset melalui program University Research for Graduate Education (URGE) yang didukung Bank Dunia.
“Saat itu kelompok fisika ITB sedang memperoleh dukungan program URGE. Ada kesempatan emas untuk ikut membangun budaya penelitian langsung dari dalam negeri,” ungkap Prof. Eko saat ditemui pada Jumat (21/8/2026).
Pendidikan doktoralnya di ITB diselesaikan pada tahun 2001 dengan dukungan Beasiswa S3 Yayasan SDM Iptek program gagasan BJ Habibie. Di bawah bimbingan promotor Prof. Moehamad Barmawi dan ko-promotor Prof. Tjia May On, Prof. Eko mendalami penelitian material penghantar listrik berefisiensi tinggi yang menjadi fondasi bagi teknologi elektronik, sistem energi, dan komunikasi masa depan.
Pilihan bertahan di dalam negeri rupanya tidak menutup jalurnya ke kancah global. Melalui jejaring akademik yang terbangun, pria kelahiran Purwoharjo, 17 Oktober 1969 ini kemudian melanjutkan penelitian pascadoktoral (post-doctoral) di University of Twente, Belanda, atas undangan Prof. Horst Rogalla.
Memasuki babak baru dalam bursa kepemimpinan perguruan tinggi jelang suksesi Rektor UNM, rekam jejak riset internasional ini menjadi modal berharga bagi Prof. Eko. Ia menekankan bahwa tantangan kampus ke depan bukan sekadar mengejar angka publikasi atau pemeringkatan, melainkan menghubungkan laboratorium dengan kebutuhan industri.
“Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan laboratorium dengan kebutuhan industri, membuat hasil penelitian dirasakan masyarakat, serta membawa kekuatan akademik UNM ke tingkat nasional dan internasional tanpa kehilangan akar di Sulawesi Selatan,” tutupnya. (nas)





