COVID-19 Kembali Menggila di Tiongkok! Kasus Melonjak 6 Kali Lipat dalam Sebulan

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Di tengah meningkatnya berbagai tekanan ekonomi dan ketidakpastian geopolitik global, Tiongkok kini kembali menghadapi persoalan kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian luas. Jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan secara resmi melonjak tajam sepanjang Juli 2026, meskipun otoritas kesehatan menegaskan bahwa gelombang terbaru tersebut belum menunjukkan peningkatan tingkat keparahan penyakit ataupun menyebabkan tekanan besar terhadap sistem pelayanan kesehatan.

Data terbaru yang disampaikan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok atau China CDC pada Kamis, 13 Agustus 2026, menunjukkan bahwa selama periode 1 hingga 31 Juli 2026, Tiongkok mencatat sekitar 522.000 kasus COVID-19 terkonfirmasi. Angka tersebut meningkat sangat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada Juni 2026, jumlah kasus terkonfirmasi yang dilaporkan secara nasional hanya sekitar 79.000 kasus. Dengan demikian, hanya dalam waktu satu bulan, jumlah kasus yang tercatat meningkat sekitar 6,6 kali lipat. Data resmi China CDC untuk Juni juga mencatat 130 kasus berat dan satu kematian terkait COVID-19 pada bulan tersebut.

Kenaikan dari 79.000 menjadi 522.000 kasus tentu terlihat sangat besar apabila hanya dilihat dari angka mentah. Namun, otoritas kesehatan Tiongkok meminta masyarakat tidak langsung menyamakan lonjakan jumlah kasus tersebut dengan kembalinya situasi darurat kesehatan seperti yang pernah terjadi pada fase awal pandemi.

Dari sekitar 522.000 kasus yang dilaporkan sepanjang Juli, sebanyak 487 pasien dikategorikan sebagai kasus berat, sedangkan satu kematian terkait COVID-19 dilaporkan selama periode tersebut. Dengan kata lain, peningkatan jumlah infeksi tidak diikuti kenaikan kasus berat dan kematian dalam proporsi yang sama besarnya.

NB.1.8.1 Menjadi Varian Dominan

Hasil pemantauan genom virus memberikan gambaran mengenai apa yang berada di balik gelombang terbaru tersebut.

Menurut China CDC, seluruh sampel COVID-19 yang diuji dan dianalisis dalam pemantauan terbaru masih termasuk dalam keluarga besar Omicron. Di antara berbagai garis keturunannya, NB.1.8.1 beserta subgaris keturunannya menjadi varian yang dominan beredar di Tiongkok.

NB.1.8.1 sebenarnya bukan kemunculan yang sepenuhnya tiba-tiba. Pada Juli 2026, pejabat kesehatan Tiongkok sudah mengidentifikasi varian tersebut sebagai strain dominan. Data pemantauan rumah sakit juga sempat menunjukkan peningkatan tingkat positif COVID-19 ketika aktivitas virus kembali naik.

Meski demikian, hingga pertengahan Agustus 2026, pengawasan genomik belum menemukan varian baru yang dinilai menimbulkan risiko kesehatan masyarakat secara signifikan lebih besar.

China CDC juga menegaskan bahwa tingkat keparahan penyakit belum menunjukkan perubahan berarti. Sebagian besar orang yang terinfeksi dilaporkan mengalami gejala ringan, sementara kelompok lanjut usia dan masyarakat yang memiliki penyakit kronis atau kondisi kesehatan tertentu tetap menjadi kelompok yang lebih berisiko mengalami penyakit berat.

Gelombang Disebut Telah Memasuki Fase Puncak

Hal penting lainnya adalah arah perkembangan gelombang tersebut.

Dalam penjelasan yang disampaikan pada 13 Agustus 2026, China CDC mengatakan gelombang COVID-19 terbaru telah mencapai fase puncak atau plateau. Artinya, aktivitas penularan memang masih berada pada tingkat relatif tinggi, tetapi kecepatan kenaikannya telah melambat secara nyata dan mulai menunjukkan pola fluktuasi.

Otoritas kesehatan Tiongkok memperkirakan COVID-19 kini telah berkembang menjadi salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan yang beredar secara berkala di masyarakat. China CDC memperkirakan Tiongkok dapat mengalami sekitar satu hingga dua gelombang COVID-19 setiap tahun, sehingga kenaikan dan penurunan kasus secara periodik kemungkinan akan terus terjadi.

Menurut penilaian resmi tersebut, intensitas gelombang yang terjadi pada pertengahan 2026 masih berada dalam kisaran yang dapat dibandingkan dengan fluktuasi epidemi selama dua tahun sebelumnya.

Yang juga menjadi perhatian adalah apakah lonjakan lebih dari enam kali lipat tersebut telah menyebabkan rumah sakit menghadapi tekanan besar.

Sejauh ini, China CDC menyatakan belum ditemukan gangguan signifikan terhadap sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Pernyataan tersebut penting karena peningkatan jumlah infeksi yang sangat cepat dapat memunculkan kekhawatiran mengenai kapasitas rumah sakit, khususnya apabila peningkatan kasus terjadi secara bersamaan di berbagai wilayah.

Klaim Dramatis Tetap Perlu Diverifikasi

Di tengah kenaikan kasus, berbagai informasi yang tidak terverifikasi juga dapat dengan cepat beredar melalui media sosial. Klaim mengenai rumah sakit yang disebut kewalahan, antrean panjang di fasilitas kesehatan, rumah duka yang mengalami lonjakan aktivitas, hingga dugaan peningkatan kematian secara besar-besaran harus diperlakukan dengan hati-hati apabila hanya berasal dari sumber anonim.

Data resmi memang tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya sumber untuk menilai seluruh kondisi di lapangan. Namun, klaim luar biasa juga memerlukan bukti independen yang kuat sebelum dapat disajikan sebagai fakta.

Karena itu, sampai terdapat laporan rumah sakit, data mortalitas, dokumentasi lapangan, penelitian epidemiologi, atau sumber independen lain yang dapat diverifikasi, klaim mengenai terjadinya krisis kesehatan berskala besar tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan unggahan anonim.

Situasi COVID-19 di Tiongkok pada Juli hingga pertengahan Agustus 2026 dengan demikian memperlihatkan dua perkembangan yang harus dibaca secara bersamaan.

Di satu sisi, peningkatan kasus memang nyata dan sangat tajam: dari sekitar 79.000 kasus pada Juni menjadi 522.000 kasus pada Juli, atau meningkat lebih dari enam kali lipat. Varian NB.1.8.1 dan subgaris keturunannya menjadi kelompok dominan dalam gelombang tersebut.

Namun di sisi lain, data yang tersedia hingga 13–14 Agustus 2026 belum menunjukkan bahwa lonjakan infeksi tersebut berkembang menjadi krisis kesehatan dengan tingkat keparahan seperti fase-fase awal pandemi.

Dengan 487 kasus berat dan satu kematian yang dilaporkan sepanjang Juli, serta tidak adanya laporan resmi mengenai gangguan besar terhadap sistem kesehatan nasional, otoritas Tiongkok menilai gelombang terbaru masih merupakan fluktuasi periodik COVID-19 yang perlu dipantau, tetapi belum menjadi alasan untuk menyimpulkan terjadinya keadaan darurat kesehatan baru.

Perkembangan beberapa pekan berikutnya tetap akan menjadi indikator penting. Jika jumlah kasus terus menurun setelah mencapai plateau, gelombang Juli kemungkinan akan tercatat sebagai salah satu siklus periodik COVID-19. Sebaliknya, apabila muncul perubahan varian, peningkatan kasus berat, atau tekanan nyata terhadap rumah sakit, penilaian terhadap situasi tersebut tentu harus diperbarui. (**)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masih Kurang Logistik di NTT, Kepala BNPB: Distribusi Terus Berjalan ke Wilayah Terisolasi
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Sjafrie Terima Menhan China di Kantor Kemhan, Disambut Upacara Kenegaraan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
DPRD Banjarmasin Godok Raperda Koperasi untuk Perkuat Ekonomi Kerakyatan
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Andre Rosiade: Jembatan Kalawi Segera Dibangun, Lelang Januari 2027
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Aliansi Masyarakat Jakarta Ajak Semua Pihak Jaga Jakarta Tetap Kondusif
• 20 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.