BSI (BRIS) Raup Laba Rp4,16 Triliun di Semester I-2026, Bisnis Emas Tumbuh 80,5 Persen

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

BSI (BRIS) mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp4,16 triliun.

BSI (BRIS) Raup Laba Rp4,16 Triliun di Semester I-2026, Bisnis Emas Tumbuh 80,5 Persen. (Foto: Rohman Wibowo/iNews Media Group)

IDXChannel - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp4,16 triliun. Angka tersebut tumbuh 11,08 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). 

Laju profitabilitas emiten bank syariah ini tetap terjaga secara konsisten di tengah kondisi likuiditas industri perbankan yang masih menghadapi pengetatan.

Baca Juga:
Emas Kelolaan Ekosistem Bullion Capai 150 Ton, Baru BSI (BRIS) dan Pegadaian Kantongi Izin OJK

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan bahwa realisasi laba perseroan hingga Juni 2026 tersebut bertumpu pada fundamental neraca keuangan yang sehat dan berkesinambungan.

“Kinerja ini didukung oleh pertumbuhan neraca yang berkualitas dan sustain,” ujar Anggoro dalam ekspos kinerja BSI secara virtual, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga:
BSI (BRIS) Bersama Danantara Percepat Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Pada pos neraca, total aset BSI terkerek naik 15,96 persen YoY mencapai Rp464,5 triliun. Ekspansi aset ini ditopang oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melonjak 21,81 persen YoY menjadi Rp393 triliun. 

Segmen tabungan mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 22,32 persen YoY menjadi Rp173 triliun, di mana derasnya aliran dana murah tersebut berhasil menekan biaya dana (cost of fund/CoF) sebesar 49 basis poin ke level 2,19 persen.

Baca Juga:
Nasabah Emas BSI (BRIS) Melesat 700 Persen per Juni 2026, Fee Based Income Ikut Melonjak

"Kemampuan menghimpun dana menjadi keunggulan kompetitif yang sangat menentukan. Kerja yang sudah baik ini akan kami tingkatkan, sekaligus meningkatkan market share perbankan syariah di Indonesia," urai Anggoro.

Di fungsi intermediasi, BSI menyalurkan total pembiayaan sebesar Rp340 triliun, atau tumbuh 15,98 persen YoY dengan kualitas aset yang prima. Rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross berada di posisi 1,8 persen dan NPF net tercatat 0,33 persen, sedangkan cost of credit (CoC) mengalami perbaikan menjadi 0,62 persen.

Dalam kesempatan sama, Direktur Finance dan Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menambahkan bahwa di tengah persaingan likuiditas ketat yang berisiko menekan margin perbankan, perseroan memperkuat strategi diversifikasi melalui pendapatan berbasis komisi.

Sepanjang paruh pertama 2026, pos pendapatan non-margin ini melonjak 38,6 persen YoY hingga melampaui Rp4 triliun.

“Di tengah situasi likuiditas yang ketat, persaingan likuiditas akan berdampak terhadap tertekannya margin perbankan. Kami beruntung dengan nasabah yang banyak dan produk-produk unik syariah maupun emas, BSI bisa mendapatkan sumber revenue yang non-margin,” ujar Ade.

Lonjakan pendapatan non-margin tersebut salah satunya ditopang oleh kinerja bisnis emas yang tumbuh agresif, dengan nilai outstanding menembus Rp30,5 triliun atau melesat 80,52 persen YoY. 

Selain transaksi emas, aktivitas treasury dan penguatan kanal digital turut memberikan andil besar, di mana pemanfaatan aplikasi BYOND by BSI mengerek pertumbuhan fee based income dari kanal elektronik lebih dari 35 persen.

Pada lini bisnis emas, jumlah nasabah tabungan emas tercatat melampaui 1,2 juta orang, sementara nasabah gadai emas menembus lebih dari 200.000 orang dan nasabah cicil emas berada di kisaran 600.000 orang. 

Anggoro melanjutkan, pertumbuhan portofolio ini berjalan selaras dengan ekspansi akuisisi sekitar 1,1 juta nasabah baru pada semester I-2026, sehingga total basis nasabah BSI kini mencapai 24,3 juta orang.

Akselerasi neraca dan profitabilitas perseroan juga didukung oleh peningkatan kapabilitas teknologi pasca-pembaruan sistem core banking pada kuartal II-2026 serta penguatan ekosistem syariah secara menyeluruh.

“Kemampuan BSI untuk melakukan akuisisi nasabah yang sangat agresif membuat dampak makro ekonomi yang berat bisa relatif berada dalam kondisi yang lebih baik,” kata Anggoro.

Di samping itu, segmen bisnis syariah lainnya turut membukukan tren positif. Dana tabungan haji tercatat mencapai sekitar Rp16,7 triliun atau naik 17,21 persen YoY. Ditambah, terdapat jumlah nasabah layanan payroll kini mencapai 1,85 juta orang dan nasabah segmen prioritas telah mendekati 80.000 orang.

"Dengan sistem yang lebih andal, efisien, dan mutakhir, BSI memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bisa melayani nasabah yang terus bertumbuh," ucap Anggoro. (Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gunung Semeru Meletus Pagi Ini, Kolom Abu Membubung Setinggi 800 Meter ke Langit
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Menlu Wang Yi: RI Komitmen Beri Lingkungan Bisnis Adil-Kondusif bagi China
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Danantara Housing Expo Tawarkan Rumah bagi First Buyer, DP Mulai Rp1 Juta
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menteri Imipas Kukuhkan 53 PIMPASA & Resmikan 3 Immigration Lounge di Sumut
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.