Ekonomi Ditekan AS, Warga Iran Makin Kesulitan Penuhi Kebutuhan Pokok

kompas.tv
7 jam lalu
Cover Berita
Seorang pedagang menata kacang-kacangan di tokonya di Pasar Tradisional Tajrish, Teheran utara, Iran, Minggu, 2 Agustus 2026. (Sumber: Foto AP/Vahid Salemi)

TEHERAN, KOMPAS.TV — Keluarga-keluarga di Iran semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pokok di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi Amerika Serikat dan perang yang telah berlangsung hampir enam bulan.

Meski toko-toko bahan makanan di Teheran masih dipenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, namun daya beli masyarakat terus menurun.

Harga makanan, obat-obatan, dan kebutuhan rumah tangga melonjak, sementara nilai pendapatan warga merosot tajam.

Banyak pekerja juga harus menambah jam kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ahmad Karimi, 52 tahun, seorang sopir taksi dan ayah dua anak, mengatakan dirinya kini bekerja hingga 15 jam sehari.

Baca Juga: Saling Psywar! Trump Klaim Selat Hormuz Wilayah AS, Iran Balas: California Milik Kami

"Kami pada dasarnya sudah menyerah untuk membeli banyak hal," kata Karimi.

"Kami mengurangi buah, mengurangi protein, berhenti menikmati hiburan, bahkan bekerja di akhir pekan," ucapnya seperti dikutip dari The Associated Press.

Harga Beras dan Daging Melonjak

Kondisi ekonomi paling terasa dari kenaikan harga bahan makanan.

Di Grand Bazaar Teheran, warga berbondong-bondong mencari kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah dibandingkan supermarket.

Harga beras kini sekitar 60 persen lebih mahal dibandingkan sebelum perang. Sementara itu, harga daging sapi melonjak hingga 150 persen.

Seorang ibu dua anak dari wilayah utara Iran bahkan mengaku harus mengurangi jumlah barang yang dibeli untuk keluarganya.

Perempuan berusia 41 tahun itu membeli susu, telur, tisu toilet, dan sejumlah kebutuhan lainnya, tetapi tidak mampu membeli daging.

Total belanjaannya mencapai 89 juta rial atau sekitar 65 dolar AS.

"Pembelian kebutuhan pokok telah menjadi prioritas utama kami, dan isi keranjang belanja kami semakin kecil dan terbatas," ujar ibu tersebut yang meminta identitasnya disamarkan.

Menurutnya, tekanan ekonomi juga berdampak pada kondisi emosional keluarga.

"Setiap kali kami harus mengatakan tidak kepada anak-anak, setiap kali harus berulang kali mempertimbangkan sebuah keputusan, apakah itu kursus yang ingin mereka ikuti atau sesuatu yang sangat mereka inginkan, semuanya benar-benar melelahkan," katanya.

Inflasi Iran Diperkirakan Mendekati 70 Persen

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tingkat inflasi Iran akan mendekati 70 persen pada akhir 2026.

Sementara itu, perekonomian Iran diperkirakan menyusut lebih dari 5 persen.

Kondisi tersebut semakin berat karena Iran telah menghadapi sanksi negara-negara Barat selama bertahun-tahun.

Baca Juga: AS-Iran Saling Klaim Wilayah, Guru Besar UKI dan Dosen Unud Ungkap Pesan di Balik Perang Narasi

Perang dengan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026 kemudian memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut.

Sanksi dan blokade laut juga membuat Iran semakin kesulitan mengekspor minyak, yang merupakan salah satu sumber pendapatan utama negara itu.

Iran selama ini berusaha menghindari dampak sanksi dengan meningkatkan produksi dalam negeri, menggunakan jaringan perdagangan informal, membeli barang melalui negara ketiga, dan memanfaatkan armada kapal bayangan untuk mengangkut minyak.

Hadi Kahalzadeh, pakar ekonomi Iran di Brandeis University, mengatakan kemampuan Iran untuk bertahan membuat tekanan ekonomi tidak otomatis berubah menjadi tekanan politik.

"Kemampuan Iran untuk bertahan tidak hanya mencegah keruntuhan, tetapi juga membuat tekanan ekonomi tidak otomatis berubah menjadi tekanan politik dan perubahan yang diharapkan AS," katanya.

Harga Bensin Masih Disubsidi

Bensin menjadi salah satu kebutuhan yang masih relatif murah di Iran karena mendapatkan subsidi pemerintah.

Namun, kondisi tersebut terancam berubah. Seorang penasihat Presiden Iran mengatakan konsumsi bensin harian kini lebih tinggi dibandingkan produksi dalam negeri.

Pemerintah pun mempertimbangkan kemungkinan menaikkan harga bensin.

Kebijakan serupa sebelumnya pernah memicu demonstrasi besar-besaran di Iran.

Trump Ancam Sanksi Lebih Berat

Presiden AS Donald Trump pada Rabu (19/8/2026) mengancam akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Trump menyatakan akan melancarkan operasi ekonomi yang disebutnya sebagai yang "paling menghancurkan" terhadap Iran.

Ia juga mengancam menjatuhkan sanksi sekunder kepada negara dan perusahaan yang masih melakukan bisnis dengan Teheran.

Uni Emirat Arab (UEA), yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu jalur penting bagi Iran untuk mendapatkan barang dari negara lain dan menghindari sanksi, pekan ini mengumumkan penghentian sementara seluruh perdagangan dengan Teheran.

Keputusan itu diumumkan sehari setelah Trump berbicara dengan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Tussie Ayu Editor : Desy-Afrianti

Sumber : The Associated Press

Tag
  • ekonomi iran
  • inflasi di iran
  • tekanan ekonomi AS
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saat Ojol Jadi Tamu Istimewa Hari Juang Polri di Polres Metro Bekasi Kota
• 16 jam laludetik.com
thumb
George Russell raih pole position Sprint Race GP Belanda
• 21 menit laluantaranews.com
thumb
Jejak Pembalakan di Tengah Karhutla Batang Hari
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Niat Sembunyikan? Ruben Onsu Kaget Status Tersangka Dibuka ke Publik
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Rupiah Pagi ini Melemah Terhadap Dolar AS, Menguat Atas Ringgit hingga Yen
• 15 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.