Melansir livescience.com, Nicaea merupakan kota kuno peninggalan Yunani yang kini berada di wilayah Turki, tepatnya di kawasan sekitar Danau Iznik, yang juga dikenal sebagai Danau Nicaea.
Konsili Nicea Pertama yang berlangsung pada 325 M merupakan pertemuan para uskup Kristen untuk membahas dan menyelesaikan berbagai perbedaan teologis. Pertemuan tersebut kemudian menghasilkan apa yang kini dikenal sebagai Kredo Nicea, salah satu pernyataan penting dalam ajaran Kristen.
Saat itu, Kekaisaran Romawi berada di bawah pemerintahan Kaisar Konstantinus I (sekitar 272–337 M). Setelah melegalkan Kekristenan, Konstantinus disebut memiliki peran penting dalam menginisiasi dan mengorganisasi penyelenggaraan konsili tersebut.
Pada 2014, para arkeolog menemukan sebuah gereja besar yang terendam di bawah Danau Iznik. Penggalian yang dimulai setahun kemudian secara bertahap mengungkap keberadaan struktur gereja yang lebih kecil di bawah bangunan tersebut.
Menurut Mustafa Sahin, profesor arkeologi di Universitas Bursa Uludag yang memimpin penelitian, tim menemukan lantai berlapis batu dari gereja yang lebih kecil sekitar 30 sentimeter di bawah basilika. Temuan tersebut menunjukkan bangunan yang lebih kecil kemungkinan dibangun lebih awal dibandingkan basilika di atasnya.
Sahin mengatakan Eusebius dari Caesarea, salah satu peserta Konsili Nicea, secara jelas mencatat bahwa pertemuan tersebut berlangsung di sebuah “rumah doa” atau gereja kecil. Menurut dia, temuan gereja yang lebih kecil di bawah basilika lebih sesuai dengan deskripsi tersebut dibandingkan dengan bangunan basilika yang lebih besar.
Hingga kini, tim arkeolog masih belum mengetahui secara pasti ukuran gereja kecil tersebut. Namun, berdasarkan sejumlah catatan sejarah, Sahin menduga bangunan itu mungkin merupakan Gereja Neophytos, sementara basilika yang kemudian dibangun di atasnya kemungkinan dikenal sebagai “Gereja Para Bapa Suci”, yang didirikan untuk memperingati Konsili Nicea.
Neophytos sendiri merupakan seorang penganut Kristen yang tinggal di Nicea dan dihukum mati pada 303 M.
Berdasarkan bukti sejarah dan temuan arkeologis, gereja yang lebih kecil diperkirakan mengalami kehancuran akibat gempa bumi pada 368 M. Beberapa tahun kemudian, sekitar 380 M, sebuah gereja yang lebih besar didirikan di atas lokasi yang sama.
Baca Juga :
Patahkan Rekor Spanyol, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi! Usianya 67.800 TahunNamun, sejumlah ahli yang tidak terlibat langsung dalam penggalian tersebut mengingatkan belum ada kepastian bahwa para uskup benar-benar berkumpul di gereja tersebut. Mereka juga menilai, jika pertemuan kemungkinan digelar di istana kekaisaran milik Konstantinus, bukan di dalam gereja.
Hingga kini, keberadaan istana tersebut masih belum berhasil ditemukan dan para peneliti menduga reruntuhannya mungkin juga berada di bawah perairan Danau Iznik.
Profesor studi klasik di Universitas Illinois Chicago, Richard Kim Muda, turut mempertanyakan kesimpulan tersebut. Ia mengatakan usia pasti gereja yang lebih kecil itu hingga kini belum dapat ditentukan.
Selain itu, Eusebius dari Caesarea mencatat bahwa sesi pembukaan Konsili Nicea berlangsung di istana kekaisaran dan konsili tersebut berlangsung selama sekitar tiga bulan. Karena itu, Kim menilai belum ada bukti cukup untuk memastikan gereja yang ditemukan di bawah Danau İznik merupakan salah satu lokasi pertemuan konsili.
Pandangan serupa disampaikan Charles Odahl, profesor emeritus sejarah di Boise State University. Ia berpendapat Konsili Nicea berlangsung di istana kekaisaran yang berada di tepi Danau Nicea.
Menurut dia, gereja yang ditemukan di bawah air memang terletak tidak jauh dari lokasi tersebut, tetapi tidak dapat dianggap sebagai tempat berlangsungnya konsili pada masa pemerintahan Konstantinus.
Sejarawan dari Royal Holloway, University of London, David Gwynn, menilai temuan tersebut cukup menjanjikan. Menurut dia, bukti yang menunjukkan gereja yang lebih tua kemungkinan dibangun pada awal abad ke-4 membuka peluang adanya hubungan dengan Konsili Nicea.
Meski demikian, Gwynn mengingatkan agar temuan tersebut tidak dianggap terlalu penting sebelum ada bukti yang lebih kuat. Baginya, keberadaan gereja tersebut lebih berguna untuk memberikan gambaran mengenai kondisi dan lingkungan pada masa berlangsungnya konsili.
Gwynn juga menekankan Konsili Nicea merupakan pertemuan besar yang melibatkan banyak orang. Konsili tersebut berlangsung selama lebih dari sebulan dan dihadiri ratusan uskup, serta diperkirakan melibatkan hingga 2.000 pendeta dan staf pendukung.
Meski belum dapat memastikan bahwa gereja tersebut merupakan lokasi konsili, ia menilai penggalian ini tetap memberikan wawasan baru mengenai salah satu peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Kekristenan. (Levina Fidelia)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)





