Hadapi Natural Decline, PGE Ungkap Strategi Menjaga Produksi Panas Bumi

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

PGEO mengungkap strategi operasional untuk menjaga stabilitas produksi panas bumi di tengah tantangan natural decline atau penurunan alami reservoir.

Hadapi Natural Decline, PGE Ungkap Strategi Menjaga Produksi Panas Bumi. (Foto: Doc PGEO)

IDXChannel - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengungkap strategi operasional untuk menjaga stabilitas produksi panas bumi di tengah tantangan natural decline atau penurunan alami reservoir pada lapangan-lapangan geothermal yang telah beroperasi dalam jangka panjang.

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan natural decline merupakan karakteristik yang tidak terpisahkan dari pengusahaan panas bumi. Kunci untuk mempertahankan produksi yaitu memahami kondisi reservoir secara komprehensif serta menjaga keseimbangan antara produksi dan injeksi. 

Baca Juga:
PGEO Siapkan Pelaksanaan MESOP, Harga Exercise Mulai Rp648 per Saham

"Penurunan alami atau decline secara natural ini merupakan karakteristik daripada pengusahaan panas bumi. Jadi kuncinya adalah bagaimana kita memahami reservoir secara komprehensif, kemudian juga menjaga keseimbangan antara produksi dengan injeksi," ujar Andi dalam Special Dialogue bersama IDXChannel di JCC Senayan, Kamis (20/8/2026).

Menurut dia, PGE menerapkan strategi Upstream Excellence untuk memastikan reservoir dikelola secara berkelanjutan. Pemantauan dilakukan terhadap sejumlah parameter, mulai dari tekanan, temperatur, laju alir hingga karakteristik fluida.

Baca Juga:
PGE (PGEO) Bakal Eksplorasi Panas Bumi Cubadak Panti di Sumbar, Potensi Capai 77 MW

Andi menambahkan, pemantauan karakteristik fluida juga didukung oleh laboratorium di Kamojang yang telah mengantongi sertifikasi ISO 17025:2017 sejak 2019. Sertifikasi tersebut secara khusus mencakup Laboratorium Uji Mutu Area Kamojang.

Dengan pemantauan tersebut, PGE dapat mengetahui apabila terjadi perubahan pada kondisi reservoir dan menentukan langkah yang diperlukan.

“Kami akan lebih mudah mendeteksi apabila terjadi perubahan pada sisi reservoir. Dengan begitu, kami tahu langkah apa yang harus diambil, apakah well intervention, make-up well, atau penyesuaian produksi,” katanya.

Strategi tersebut, lanjut Andi, menjadi salah satu faktor yang membuat PGE mampu mempertahankan kinerja lapangan yang telah beroperasi selama puluhan tahun. Salah satu contohnya yaitu lapangan panas bumi Kamojang.

“Operasional panas bumi di Kamojang selama lebih dari 40 tahun membuktikan bahwa PGE mampu menjaga kinerja produksi meski menghadapi decline alamiah," ujar Andi.

Hingga saat ini area Kamojang merupakan area tertua perusahaan. Eksplorasi pertama Pertamina di kawasan tersebut dilakukan pada 1974, sedangkan lima unit PLTP di Kamojang telah beroperasi secara komersial sejak 1983. Saat ini, total kapasitas terpasangnya mencapai 235 megawatt (MW).

Dengan demikian, Kamojang menjadi salah satu contoh penting bagaimana pengelolaan reservoir dan aset jangka panjang dilakukan untuk mempertahankan keberlanjutan pembangkitan panas bumi.

Selain menghadapi penurunan alami reservoir, PGE juga menghadapi tantangan berupa meningkatnya usia aset atau aging asset. Untuk menjaga keandalan fasilitas produksi, perusahaan menerapkan predictive maintenance serta manajemen aset berbasis ISO 55001.

"Aging asset ini juga menjadi tantangan, ini kami overcome dengan tadi kita melakukan predictive maintenance. Kemudian, kami juga melakukan aset manajemen itu untuk menjamin bahwa seluruh aset tersebut dioptimalisasi dan dikelola secara baik," katanya.

Penerapan manajemen aset tersebut, lanjutnya, ditujukan agar seluruh aset dapat dikelola secara optimal sepanjang siklus hidupnya. Di sisi lain, perusahaan juga terus melakukan cost optimization agar keandalan operasi tetap terjaga dengan biaya yang tepat guna.

Strategi menjaga reservoir dan aset tersebut menjadi semakin penting karena PGE terus meningkatkan kapasitas dan produksinya. PGE saat ini mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW melalui operasi sendiri di enam area. Kapasitas tersebut meningkat dari 672 MW setelah PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW mulai beroperasi secara komersial pada Juni 2025.

Dari sisi produksi, PGE mencatat produksi listrik panas bumi sebesar 5.095,48 gigawatt hour (GWh) sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah (all time high) perusahaan dan meningkat 5,55 persen dibandingkan 2024.

Memasuki 2026, kinerja produksi juga menunjukkan peningkatan. Data earnings call PGE mencatat produksi listrik pada kuartal I-2026 mencapai 1.370 GWh, naik 15,22 persen dibandingkan 1.189 GWh pada periode yang sama 2025. Peningkatan tersebut berlangsung setelah kapasitas operasi PGE bertambah dari 672 MW menjadi 727 MW.

PGE juga masih memiliki ruang ekspansi. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri mencapai 1 GW dalam sekitar dua tahun ke depan. Pada 20 Agustus 2026, PGE menyebut target tersebut merupakan bagian dari rencana peningkatan kapasitas hingga 1,8 GW pada 2034.

Secara nasional, tantangan menjaga produksi panas bumi juga memiliki arti strategis mengingat besarnya sumber daya yang dimiliki Indonesia. Kementerian ESDM mencatat Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi mencapai 23.742 MW. Namun, kapasitas terpasang listrik panas bumi pada 2025 baru mencapai 2.744 MW.

Artinya, pengembangan panas bumi tidak hanya bergantung pada pembangunan kapasitas baru, tetapi juga kemampuan menjaga keberlanjutan produksi dari lapangan yang sudah beroperasi. Pengelolaan reservoir, make-up well, pengaturan produksi, injeksi, serta pemeliharaan aset menjadi bagian penting untuk memastikan pembangkit yang telah beroperasi dalam jangka panjang tetap mampu memasok listrik secara andal.

Bagi PGE, pengelolaan reservoir secara berkelanjutan menjadi semakin penting seiring dengan besarnya peran panas bumi dalam mendukung transisi energi Indonesia. Dalam RUPTL PLN 2025-2034, panas bumi ditargetkan berkontribusi sekitar 5,2 GW terhadap tambahan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan.

Panas bumi memiliki karakteristik sebagai sumber energi yang dapat menyediakan listrik secara stabil, sehingga pengelolaan lapangan eksisting menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan pasokan sekaligus mendukung peningkatan kapasitas energi bersih nasional.

Dengan strategi pengelolaan reservoir dan aset tersebut, PGE berupaya memastikan lapangan-lapangan panas bumi yang telah beroperasi selama puluhan tahun tetap produktif, sekaligus menjaga keberlanjutan produksi ketika perusahaan memperluas kapasitas pembangkitnya.

(Shifa Nurhaliza Putri)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Kronologi dan Penyebab Jeep Mercedes Terbakar usai Tabrak Truk di Tol Jagorawi
• 8 jam laludisway.id
thumb
Kapan War Tiket Konser Maroon 5 Jakarta 2027?
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Sebanyak 3.752 Gempa Susulan Masih Terjadi di Flores NTT
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Warga Cibodas Tangerang Ubah Sampah Jadi Dana untuk Fasilitas dan Kegiatan Sosial
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Bandar Buron yang Ditangkap di Malaysia Ternyata Dalang Peredaran Narkoba 3 Klub Malam di Batam
• 19 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.