Pengangguran Sarjana: Ada Apa dengan Negeri Ini?

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Satu juta sarjana menganggur. Bayangkan jika mereka semua bekerja. Berapa besar energi ekonomi yang sedang kita biarkan mengendap?

Setiap tahun perguruan tinggi meluluskan manusia-manusia terdidik dari berbagai disiplin ilmu. Mereka membawa ijazah, pengetahuan, keterampilan, dan harapan untuk memasuki kehidupan produktif. Wisuda semestinya menjadi pintu menuju dunia kerja.

Namun, bagi sebagian lulusan, wisuda justru menjadi awal masa tunggu: mengirim lamaran, mengikuti seleksi, menunggu panggilan, dan menghadapi penolakan. Sebagian lainnya bekerja, tetapi tidak sesuai dengan pendidikan dan kompetensinya.

Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: ada apa dengan negeri ini ketika pendidikan tinggi tidak selalu berujung pada produktivitas?

Bayangkan, sebagai ilustrasi, ada satu juta sarjana yang belum bekerja. Jika setiap sarjana yang bekerja hanya menghasilkan nilai ekonomi Rp2.000 per hari, satu juta orang itu berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi Rp2 miliar setiap hari. Dalam sebulan sekitar Rp60 miliar, dan setahun mencapai Rp730 miliar.

Angka Rp2.000 tentu sangat kecil dan hanya ilustrasi. Produktivitas seorang sarjana sesungguhnya jauh lebih besar dan tidak selalu dapat dihitung dengan uang. Seorang guru membentuk manusia, insinyur merancang teknologi, dokter menyelamatkan kehidupan, programmer membangun sistem, peneliti menghasilkan pengetahuan, dan wirausahawan menciptakan usaha sekaligus lapangan kerja.

Karena itu, pengangguran sarjana bukan sekadar persoalan individu. Ia adalah potensi produktif bangsa yang belum bergerak.

Ketika Satu Juta Sarjana Bekerja

Bayangkan keadaan sebaliknya. Satu juta sarjana itu bekerja sebagai guru, tenaga kesehatan, insinyur, pekerja industri, profesional digital, pelaku ekonomi kreatif, petani modern, pengusaha, peneliti, dan berbagai profesi lainnya.

Mereka memperoleh pendapatan. Pendapatan itu digunakan untuk membeli makanan, membayar transportasi, menggunakan jasa, membiayai pendidikan, menabung, dan berinvestasi. Warung mendapatkan pembeli, produsen mendapatkan pasar, perusahaan meningkatkan produksi, pengusaha membutuhkan pekerja baru, dan investasi bergerak.

Satu orang bekerja tidak hanya menghidupi dirinya sendiri. Ia menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Inilah yang sering luput ketika pengangguran hanya dibicarakan sebagai angka statistik. Pengangguran adalah persoalan ekonomi sekaligus pendidikan.

Negara tidak cukup hanya mencetak sarjana. Negara perlu menciptakan ekosistem yang memungkinkan manusia terdidik menjadi produktif. Paradigma “kuliah agar mudah mendapatkan pekerjaan” perlu diperbarui menjadi: pendidikan agar manusia mampu menjadi produktif, baik sebagai pekerja maupun pencipta pekerjaan.

Membenahi Faktor Eksternal

Pengangguran sarjana memiliki dua sisi yang harus ditangani bersamaan: eksternal dan internal.

Dari sisi eksternal, negara dan dilengkapi masyarakat harus menciptakan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka makroekonomi, tetapi sungguh terasa dalam bentuk kesempatan kerja. Investasi harus menghasilkan kegiatan ekonomi, industri bertumbuh, dunia usaha membutuhkan kepastian, dan infrastruktur diharapkan mendukung produktivitas.

Tidak kalah penting, yakni daya beli masyarakat. Ketika masyarakat memiliki kemampuan membeli, permintaan meningkat. Dunia usaha meningkatkan produksi, dan produksi membutuhkan tenaga kerja. Karena itu, memperkuat daya beli dapat menjadi salah satu pintu masuk penciptaan lapangan kerja.

Negara juga perlu mendorong sektor yang menyerap tenaga kerja sekaligus membuka ruang bagi tenaga terdidik: manufaktur, pangan, kesehatan, pariwisata, ekonomi kreatif, teknologi digital, energi, dan industri berbasis pengetahuan.

Namun demikian, persoalan tidak seluruhnya berada di luar diri para sarjana. Gelar sarjana tidak otomatis membuat seseorang siap bekerja. Dunia kerja membutuhkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi, menggunakan teknologi, belajar sepanjang hayat, dan memiliki integritas.

Perguruan tinggi tidak boleh hanya bertanya berapa banyak mahasiswa yang lulus. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dapat dilakukan lulusan setelah mereka lulus?

Apakah mereka mampu bekerja? Menciptakan sesuatu? Menyelesaikan persoalan? Beradaptasi ketika teknologi berubah? Bahkan membuat lapangan kerja baru?

Budaya kerja juga perlu dibangun sejak dini. Anak muda perlu dibiasakan memiliki disiplin, tanggung jawab, ketekunan, kemandirian, kreativitas, dan keberanian mengambil inisiatif.

Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pandai mencari pekerjaan. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu menciptakan nilai.

Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Kerja

Di sinilah pendidikan kewirausahaan penting. Kewirausahaan bukan sekadar menjual produk atau membuka toko. Ia adalah kemampuan melihat persoalan sebagai peluang, menemukan solusi, mengambil inisiatif, menciptakan nilai, dan berani menghadapi risiko.

Seorang sarjana tidak harus selalu menunggu lowongan. Ia dapat membuat usaha, mengembangkan teknologi, membuka jasa profesional, mengolah potensi desa, membangun ekonomi kreatif, mengembangkan pertanian berbasis teknologi, atau menciptakan bentuk pekerjaan baru.

Namun, tidak semua sarjana mesti menjadi pengusaha. Masyarakat tetap membutuhkan guru, peneliti, perawat, teknisi, pekerja industri, dan berbagai profesi lainnya.

Yang kita perlukan adalah manusia yang produktif dan adaptif.

Pendidikan Harus Kembali kepada Manusia

Pada titik ini, pendidikan humanistik menjadi penting. Pendidikan bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi membentuk manusia agar mampu mengembangkan dirinya dan memberikan sumbangan bagi kehidupan bersama.

Kompetensi dan karakter tidak boleh dipisahkan. Sarjana yang cerdas tanpa integritas dapat menjadi persoalan. Sarjana yang terampil tanpa tanggung jawab sosial juga berbahaya. Sebaliknya, karakter tanpa kompetensi sulit menjawab kompleksitas dunia kerja.

Kita membutuhkan manusia yang kompeten sekaligus berkarakter.

Terlebih pada era kecerdasan buatan. Teknologi akan semakin mengambil alih pekerjaan rutin. Pendidikan justru harus semakin kuat mengembangkan kualitas manusia yang sulit digantikan mesin: kreativitas, empati, penilaian etis, kemampuan berkolaborasi, tanggung jawab, dan kemampuan menemukan makna.

Jangan Biarkan Potensi Menjadi Angka

Pengangguran sarjana tidak dapat diselesaikan dengan menunjuk satu pihak sebagai kambing hitam. Pemerintah dan masyarakat mapan diharapkan mampu berkolaborasi menciptakan lapangan pekerjaan. Dunia usaha membuka ruang bagi tenaga muda. Perguruan tinggi memperkuat relevansi pendidikan. Para sarjana terus mengembangkan kompetensi, karakter, dan keberanian menciptakan peluang.

Solusinya bergerak dari dua arah.

Dari luar: ciptakan lapangan pekerjaan, dorong investasi, perkuat industri, dan tingkatkan daya beli.

Dari dalam: bangun budaya kerja, kuatkan karakter, tingkatkan keterampilan, tumbuhkan kreativitas, dan kembangkan kemampuan beradaptasi.

Sebab, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak sarjana yang menganggur. Persoalan yang lebih besar adalah berapa banyak potensi manusia yang gagal kita ubah menjadi kekuatan produktif bangsa.

Bayangkan jika satu juta sarjana benar-benar bekerja. Mereka tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi dirinya sendiri, tetapi menggerakkan konsumsi, produksi, jasa, investasi, inovasi, dan lapangan kerja baru.

Roda ekonomi akan berputar lebih cepat.

Karena itu, pertanyaan kita bukan hanya, “Kapan sarjana mendapatkan pekerjaan?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Kapan negeri ini mampu mengubah manusia-manusia terdidiknya menjadi kekuatan produktif bagi bangsa?”

Sebab, sarjana yang menganggur bukan hanya kehilangan pekerjaan. Bangsa sedang kehilangan kesempatan untuk bergerak lebih cepat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPJS Kesehatan Raih Penghargaan Bakti Koperasi Pradana Nayaka
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Partai Hanura Membuka Peluang Bagi Insan Politik Jadi Caleg pada Pemilu 2029
• 36 menit lalujpnn.com
thumb
Ada Tawuran Dekat Stasiun Manggarai, Perjalanan KRL Lintas Bogor Dihentikan Sementara
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Update Korban Gempa NTT: 83 Orang Meninggal Dunia dan 110.785 Mengungsi
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Kapolri Pimpin Upacara Hari Juang Polri 2026 di Surabaya, Kobarkan Semangat Pengabdian
• 13 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.