Moms, rata-rata perempuan Indonesia kini diperkirakan memiliki sekitar 2-3 anak sepanjang masa reproduksinya. Hal ini terlihat dari data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang mencatat angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) Indonesia sebesar 2,13 anak per perempuan.
Angka tersebut semakin mendekati replacement level atau tingkat penggantian penduduk sebesar 2,10 anak per perempuan. Lantas, apa arti angka ini dan bagaimana gambaran kelahiran di Indonesia saat ini?
Rata-rata Perempuan Indonesia Melahirkan 2-3 AnakTFR merupakan gambaran rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya. Dengan TFR sebesar 2,13, rata-rata perempuan Indonesia diperkirakan melahirkan sekitar 2-3 anak.
Angka ini sangat dekat dengan replacement level sebesar 2,10 anak per perempuan. Secara sederhana, replacement level merupakan tingkat kelahiran yang dibutuhkan agar suatu generasi dapat menggantikan generasi sebelumnya tanpa memperhitungkan adanya migrasi.
Angka Kelahiran Tidak Merata di Setiap WilayahMeski angka fertilitas nasional semakin mendekati replacement level, kondisinya ternyata berbeda-beda di setiap daerah. BPS mencatat, DKI Jakarta memiliki TFR terendah, yaitu 1,79 anak per perempuan. Sebaliknya, Papua Pegunungan memiliki TFR tertinggi sebesar 2,78 anak per perempuan. Sementara di tingkat kabupaten/kota, TFR berkisar antara 1,59 hingga 3,95 anak per perempuan.
Secara umum, sejumlah provinsi di Pulau Jawa memiliki tingkat fertilitas yang lebih rendah, sementara beberapa wilayah di Maluku dan Papua masih mencatat angka fertilitas yang relatif lebih tinggi.
Puncak Kelahiran Terjadi pada Usia 25-29 TahunSelain itu, berdasarkan kelompok usia perempuan, puncak fertilitas di Indonesia berada pada rentang usia 25-29 tahun. Artinya, sebagian besar kelahiran terjadi ketika perempuan berada pada usia dewasa muda.
Indikator fertilitas dalam SUPAS 2025 juga menunjukkan penggunaan kontrasepsi yang cukup tinggi. Sebanyak 62,56 persen perempuan kawin berusia 15-49 tahun tercatat menggunakan alat atau cara kontrasepsi, dengan 59,90 persen menggunakan metode modern. Metode yang paling banyak digunakan adalah suntik, yaitu sebesar 31,11 persen, disusul pil, implan, dan IUD.
Indonesia Mulai Menjadi Masyarakat MenuaSementara itu, persentase penduduk lanjut usia kini telah mencapai 11,97 persen, yang menandakan Indonesia telah memasuki fase ageing society atau masyarakat menua. Sementara itu, penyakit tidak menular kini menyumbang sekitar 85,19 persen dari seluruh kematian di Indonesia.
Di sisi lain, data SUPAS 2025 juga mencatat sebagian besar kematian bayi terjadi pada periode neonatal atau 28 hari pertama kehidupan. Disparitas antarwilayah pun masih besar, terutama antara Pulau Jawa dan wilayah Papua, dengan risiko kematian bayi di beberapa provinsi Papua mencapai tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan provinsi dengan tingkat kematian terendah.
Data SUPAS 2025 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anak yang dimiliki perempuan Indonesia kini semakin mendekati tingkat penggantian penduduk. Namun, perbedaan angka kelahiran dan kondisi kesehatan ibu-anak antarwilayah masih menjadi bagian penting dari dinamika kependudukan Indonesia.





