Proyek Tanamalia Masuk Hutan Lindung, Komitmen ESG Vale Dipertanyakan

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Rencana PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengembangkan Proyek Tanamalia di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan, menuai kecaman. Proyek tambang nikel tersebut mencakup kawasan hutan lindung dan dinilai berpotensi merusak citra environmental, social, and governance (ESG) Vale.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman, bahkan meminta Vale menghindari penambangan di kawasan hutan lindung. Menurut dia, perusahaan semestinya tidak mengorbankan kawasan hutan demi mengejar cadangan nikel.

"Kalau saya nggak boleh tambang di hutan lindung. Apapun ya, mau Vale atau siapapun mau tambang di hutan lindung nggak boleh, masa nggak disisakan ruang kawasan hutan lindung, semuanya ditambang, negara juga nggak kaya-kaya dari hasil tambang, nggak boleh loh, kita harus bersikap soal itu. Kalau dia kalau dia punya best practice mining ya hindari deh tambang di hutan lindung," jabarnya kepada Warta Ekonomi, Jumat (21/8/2026).

Tanamalia merupakan proyek pengembangan Vale yang berlandaskan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) serta PPKH No. 885 Tahun 2025 untuk kegiatan eksplorasi di kawasan hutan.

Proyek tersebut berada di kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas seluas 13.556,8 hektare di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Eksplorasi di wilayah tersebut telah dilakukan secara bertahap sejak 1970.

Vale merencanakan proyek tersebut masuk ke tahap konstruksi pada 2027-2028 dan penambangan paling cepat pada 2030, bergantung pada hasil kajian cadangan nikel.

Saat ini, Tanamalia masih berada pada tahap Front-End Loading (FEL) 2. Fase tersebut merupakan tahapan kajian sebelum keputusan investasi yang mencakup aspek teknis, ekonomi, operasional, hukum, dan keberlanjutan.

"Katanya mereka perusahaan yang punya ESG yang bagus, perlindungan terhadap lingkungan dan hutan tapi kalau menambang di hutan lindung itu udah rusak loh," tutupnya.

Kritik tersebut semakin kuat karena karakteristik endapan nikel membuat penambangan umumnya dilakukan dengan metode terbuka atau open pit. Dengan metode tersebut, kegiatan penambangan tidak dapat sepenuhnya menghindari pembukaan area di permukaan.

"Iya soalnya mereka kan ngomong-ngomong doang soal menjaga hutan dengan ESG-nya tapi kalau sudah menambang di dalam kawasan hutan itu sudah nggak bener itu," tandasnya.

Ferdy sebetulnya menjelaskan praktik penambangan di kawasan hutan lindung sebetulnya masih dapat dilakukan apabila menggunakan metode underground mining. Namun, metode tersebut dinilai tidak memungkinkan diterapkan pada nikel karena posisi bijih berada relatif dekat dengan permukaan tanah.

Sementara itu, Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Budiawansyah mengklaim perusahaan bersama 12 perusahaan di tanah air memiliki kewenangan untuk menambang di kawasan hutan lindung.

Ia menyebut Vale termasuk salah satu perusahaan yang mendapat kewenangan tersebut.

"Saya lupa nomornya bisa dicek, itu Perpres memberikan kewenangan memberikan izin kepada 12 perusahaan yang sudah beroperasi untuk melakukan penambangan di hutan lindung. Salah satunya PT INCO atau PT Vale saat ini bersama perusahaan-perusahaan lainnya," tegasnya dalam pertemuan bersama awak media di Jakarta.

Vale juga beralasan cadangan nikel merupakan sumber daya yang perlu dioptimalkan untuk memberikan manfaat bagi negara dan masyarakat.

"Nah sekarang bagaimana dong? Ini kan mineral yang harus di-optimize oleh negara, memberikan kemanfaatan, kemanfaatan yang penting buat khalayak... apa... buat masyarakat sebesar-besarnya," jabar Dia.

Baca Juga: Vale Buka Suara Soal Pasokan Sulfur untuk HPAL

Baca Juga: Vale Pastikan Konstruksi Smelter Pomalaa Rampung 100%

Budiawansyah kembali menyebut Vale memiliki legalitas dan otorisasi untuk menjalankan kegiatan di kawasan tersebut.

"Ya itu punya... punya legalitas dan otorisasi untuk melakukan kegiatan itu di situ," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto mengatakan hasil eksplorasi Tanamalia hingga FEL 2 menunjukkan prospek yang cukup baik.

"Waduh, saya enggak ingat angka detailnya lah ya. Yang jelas, cadangannya pasti bagus lah," ujar Anto dalam peluncuran buku karya Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jumat (7/8/2026).

Ke depan, Tanamalia dirancang sebagai proyek pengolahan nikel terintegrasi. Vale juga akan mengembangkan pengolahan bijih nikel limonit dari kawasan tersebut menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Salah satu mitra yang digadang bersama dalam proyek hpal berasal dari eropa dengan rekam jejak panjang di industri manufaktur kendaraan listrik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pernikahan Anak di Bawah Umur Hebohkan Takalar: Sempat Kawin Lari, KUA Ungkap Pengantin Berusia 15 dan 13 Tahun
• 16 jam laluharianfajar
thumb
Menhan Dong Jun: Kepemimpinan Xin Jinping-Prabowo Bawa Hubungan China-Indonesia ke Titik Baru
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Jadwal F1 GP Belanda 2026: Grand Prix Pertama Pasca Libur Musim Panas Sekaligus Balapan Kandang Terakhir Max Verstappen
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Polisi Tangkap 5 Pembunuh Bripka Fredy Awes, 2 di Antaranya Ditembak Mati
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Mendagri pastikan negara hadir untuk korban gempa di NTT
• 21 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.