REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— "Ketahuilah bahwa apa yang telah menimpamu tidak mungkin luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu." Balasan itu datang dari Allah, demikian pula pahala berasal dari Allah.
Bagaimana memahami wasiat berharga dari Rasulullah SAW ini? Imam Bukhari—meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Baca Juga
Laporan: Saudi Hapus Frasa 'Umat Islam tak akan Pernah Serahkan Yerusalem' dari Kurikulum
Ayat Kursi Jika Dibedah Ternyata Terdiri dari 10 Kalimat Penuh Makna, Berikut Penjelasannya
Lebanon Berbeda, Pelajaran yang Selalu Gagal Dipahami Israel Selama 100 Tahun
إن الله تعالى قال: إذا ابتليت عبدي بحبيبتيه ـ أي عينيه ـ فصبر، عوّضته منهما الجنة
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Jika Aku menguji hamba-Ku dengan kehilangan dua yang ia cintai—yakni kedua matanya—lalu ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya dengan surga.”
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Karena itu, ketika orang-orang saleh kehilangan penglihatannya, mereka berkata, “Ya Allah, gantilah kehilangan ini dengan balasan dari-Mu.”
Ibnu Abbas RA pernah kehilangan kedua matanya. Ketika orang-orang yang tidak menyukainya datang untuk menghiburnya, sementara orang-orang yang mencintainya datang untuk menyampaikan rasa duka, ia justru berkata:
Jika Allah mengambil cahaya dari kedua mataku,
Dia tetap memberikan cahaya dalam hati dan akalku.Hatiku tetap cerdas dan pikiranku tetap jernih,sedangkan lisanku tajam bagaikan pedang yang terhunus.
Demikian pula Yazid bin Harun, seorang ahli ibadah dan ahli hadis. Kedua matanya mengalami kebutaan. Ketika ditanya, “Ke mana kedua matamu yang indah itu?” Ia menjawab, “Keduanya hilang karena tangisan di waktu sahur. Dan balasannya ada di sisi Allah.”
Inilah keyakinan yang harus dimiliki seorang mukmin: apa pun yang hilang karena ujian Allah, jangan sampai membuatnya lupa bahwa balasan Allah jauh lebih besar.
Dalam sebuah hadis riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa Allah berfirman kepada para malaikat-Nya—Dia Mahatahu, Mahabijaksana, dan Mahadil—ketika mereka mencabut nyawa seorang anak yang menjadi buah hati seorang hamba.