BEKASI, KOMPAS.com – Kekeringan melanda sekitar 1.354 hektare lahan pertanian yang tersebar di 15 kecamatan dan 41 desa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Eem Embang mengatakan, berkurangnya pasokan air untuk mengairi sawah membuat kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi padi apabila tidak segera ditangani.
"Akibatnya bisa berdampak pada penurunan produksi. Karena sebetulnya dari Kementerian Pertanian kita harus menggenjot luas tambah tanam. Tapi luas tambah tanam yang ditingkatkan ini kembali lagi ke kondisi air," ujar Eem dalam keterangan resminya, Jumat (20/8/2026).
Baca juga: 3 RT di Desa Koceak Tangsel Kekeringan, Warga Hibahkan Lahan demi Sumur Bor
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi menyalurkan 83 unit pompa air melalui Brigade Alsintan (Alat dan Mesin Pertanian).
"Dari 83 pompa yang disalurkan, sebanyak 13 unit merupakan pompa berukuran 6 inci dan 70 unit lainnya berukuran 3 inci," jelas Eem.
Puluhan pompa tersebut ditempatkan di sejumlah wilayah yang dinilai rawan kekeringan, di antaranya Kecamatan Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi, Setu, dan Muara Gembong.
"Nantinya pompa digunakan untuk mengambil air dari sumber yang masih tersedia, termasuk sungai, kemudian dialirkan untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah," kata dia.
Pompanisasi merupakan bagian dari mitigasi yang dilakukan sejak dini untuk mencegah kekeringan meluas dan mengganggu produktivitas lahan pertanian.
Selain menyalurkan pompa, Dinas Pertanian juga membantu petani mendapatkan rekomendasi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk operasional alat dan mesin pertanian.
Bantuan tersebut diberikan karena petani masih mengalami kendala dalam mendapatkan solar untuk menjalankan mesin pompa.
Baca juga: 10 Titik di Tangsel Terdampak Kekeringan, Warga Mulai Krisis Air Bersih
Penanganan kekeringan juga dilakukan melalui perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, serta instansi terkait untuk menangani jaringan irigasi yang menjadi sumber pasokan air bagi lahan pertanian," ujar Eem.
Sejumlah saluran irigasi juga dinormalisasi, di antaranya Balong Tuatu sepanjang 7 kilometer, SS Jagawana sepanjang 10 kilometer, serta Kali Butek sepanjang 1,5 kilometer di wilayah Cabangbungin.
Selain itu, revitalisasi Kali Butek sepanjang 4 kilometer dan 1,5 kilometer dilakukan untuk membantu memperlancar pasokan air ke wilayah pertanian.
Dinas Pertanian bersama Direktorat Jenderal Lahan dan Perlindungan Pertanian juga memberikan dukungan anggaran operator untuk normalisasi jaringan irigasi di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran.





